kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.310.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Penyaluran Kredit Meningkat, Likuiditas Perbankan Semakin Ketat


Senin, 04 September 2023 / 05:55 WIB
Penyaluran Kredit Meningkat, Likuiditas Perbankan Semakin Ketat


Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Industri perbankan kini perlu waspada untuk menghadapi tingkat likuiditas yang mulai mengetat. Pasalnya, pertumbuhan kredit yang disalurkan lebih cepat jika dibandingkan dengan pertumbuhan dana simpanan dari nasabah.

Hal tersebut setidaknya tercermin dari rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) industri yang tercatat naik di Juli 2023. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat LDR pada periode tersebut 82,9%, naik dari bulan sebelumnya di level 82,76%. Padahal, posisi LDR di akhir 2022 ada di level 81,43%.

Memang, jika melihat dari fungsi intermediasinya, kredit perbankan tumbuh lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK). Pada Juli 2023, kredit tumbuh 8,54% secara tahunan (YoY) dan DPK hanya tumbuh 6,62% YoY.

Baca Juga: Kredit Mikro Tumbuh 11,41%, BRI Makin Tangguh, Cetak Laba Rp29,56 Triliun

Meski demikian, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar bilang saat ini likuiditas perbankan masih memperlihatkan kondisi yang memadai. Dalam hal ini, Mahendra menyebutkan itu tercermin dari rasio alat likuid/non core deposit dan rasio alat likuid/DPK yang masing-masing sebesar 118,37% dan 26,57%.

“Jauh di atas ambang batas ketentuan masing-masing di 50% dan 10%,” ujar Mahendra, belum lama ini.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Sunarso bilang menyadari saat ini industri memang tengah menghadapi kondisi likuiditas yang ketat. Hanya saja, di BRI sendiri, dia melihat kondisi likuiditasnya masih mencukupi.

Di semester I/2023, BRI mencatat LDR bank only di level 87,3% atau naik dari posisi akhir tahun 2022 yang ada di level 78,8%. Sunarso bilang ini masih di bawah batas optimal yaitu di kisaran 90% - 92%.

“Bagi BRI sekarang menumbuhkan kredit yang tetap prudent itu lebih penting, tapi kemudian mengawal permintaan kredit tersebut dengan kondisi likuiditas juga penting,” ujar Sunarso.

Baca Juga: Naik 25%, Kucuran Kredit Bank Sampoerna Capai Rp 10,9 Triliun di Semester I 2023

Dalam hal ini, pihaknya akan menjaga penggunaan dana yang dimiliki di tengah likuiditas yang ketat ini harus benar-benar optimal. Artinya, tidak berlebihan maupun tidak kekurangan untuk menjaga likuiditas tersebut. “Kalau belum bisa menyalurkan kredit secara agresif ya gak perlu jor-joran mencari dana mahal,” ujarnya.

Sebagai informasi, penyaluran kredit dari BRI di periode tersebut masih berhasil tumbuh 8,8%, meski masih di bawah target BBRI yang tumbuh di kisaran 10% - 12% Total kredit yang disalurkan sebesar Rp 1.202,12 triliun.




TERBARU
Kontan Academy
Negosiasi & Mediasi Penagihan yang Efektif Guna Menangani Kredit / Piutang Macet Using Psychology-Based Sales Tactic to Increase Omzet

[X]
×