kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.819.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Perbankan Indonesia masih terlalu andalkan DPK


Rabu, 18 Maret 2015 / 18:55 WIB
Peualangan Sherina 2 Raih 1 Juta Penonton di Bioskop Usai Rekor di Penayangan Perdana.


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Mesti Sinaga

JAKARTA. Perbankan Indonesia masih sangat konservatif dalam menghimpun dana dibandingkan bank di Malaysia dan Singapura.

Dody Arifianto, Kepala Divisi Risiko Perekonomian dan Sistem Perbankan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), menyampaikan, perbankan Indonesia masih mengandalkan sumber pendanaan dari dana pihak ketiga (DPK).

"Sekitar 70%-80% sumber dana bank mengandalkan dana pihak ketiga untuk pertumbuhan bisnis," kata Dody, Rabu (18/3). Sedangkan porsi sumber dana bank di Malaysia dan Singapura sebesar 60% dari DPK, sisanya dari pasar modal.

Sementara bank di Amerika Serikat (AS) dan Jerman memiliki porsi pendanaan sebesar 50% dari dana masyarakat, dan 50% dari pasar modal.

Dody menyatakan, perbankan Tanah Air perlu mengubah porsi pendanaan untuk menjaga risiko likuiditas yang masih ketat ini. Perbankan dapat mengandalkan pasar modal untuk mencari dana, seperti menerbitkan obligasi, medium term notes (MTN) dan sekuritisasi asset.

Memang, dengan cara itu bank akan menghadapi risiko, seperti gejolak pasar dan tingkat imbal hasil (yield) yang tinggi, namun potensinya masih besar. "Pencarian dana di pasar modal itu dapat menyeimbangkan kondisi dana bank," tambah Dody. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×