kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.830   2,00   0,01%
  • IDX 8.132   99,86   1,24%
  • KOMPAS100 1.146   13,97   1,23%
  • LQ45 829   8,49   1,03%
  • ISSI 288   4,60   1,62%
  • IDX30 431   4,26   1,00%
  • IDXHIDIV20 519   5,74   1,12%
  • IDX80 128   1,62   1,28%
  • IDXV30 141   1,99   1,43%
  • IDXQ30 140   1,49   1,07%

Perbankan Indonesia masih terlalu andalkan DPK


Rabu, 18 Maret 2015 / 18:55 WIB
Perbankan Indonesia masih terlalu andalkan DPK
Peualangan Sherina 2 Raih 1 Juta Penonton di Bioskop Usai Rekor di Penayangan Perdana.


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Mesti Sinaga

JAKARTA. Perbankan Indonesia masih sangat konservatif dalam menghimpun dana dibandingkan bank di Malaysia dan Singapura.

Dody Arifianto, Kepala Divisi Risiko Perekonomian dan Sistem Perbankan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), menyampaikan, perbankan Indonesia masih mengandalkan sumber pendanaan dari dana pihak ketiga (DPK).

"Sekitar 70%-80% sumber dana bank mengandalkan dana pihak ketiga untuk pertumbuhan bisnis," kata Dody, Rabu (18/3). Sedangkan porsi sumber dana bank di Malaysia dan Singapura sebesar 60% dari DPK, sisanya dari pasar modal.

Sementara bank di Amerika Serikat (AS) dan Jerman memiliki porsi pendanaan sebesar 50% dari dana masyarakat, dan 50% dari pasar modal.

Dody menyatakan, perbankan Tanah Air perlu mengubah porsi pendanaan untuk menjaga risiko likuiditas yang masih ketat ini. Perbankan dapat mengandalkan pasar modal untuk mencari dana, seperti menerbitkan obligasi, medium term notes (MTN) dan sekuritisasi asset.

Memang, dengan cara itu bank akan menghadapi risiko, seperti gejolak pasar dan tingkat imbal hasil (yield) yang tinggi, namun potensinya masih besar. "Pencarian dana di pasar modal itu dapat menyeimbangkan kondisi dana bank," tambah Dody. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×