kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS944.000 2,83%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Permintaan KPR BTN didominasi pegawai negeri


Minggu, 08 Mei 2016 / 14:31 WIB
Permintaan KPR BTN didominasi pegawai negeri

Reporter: Arsy Ani Sucianingsih | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Permintaan perumahan di kawasan strategis semakin besar. Hal ini diakui oleh Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Maryono.

Dia mengatakan, di wilayah Batang, permintaan akan perumahan cukup tinggi yakni sebanyak 3.000 unit landed house.

“Kota Batang ada tol yang belum jadi ditambah, dan di situ bakal ada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Sekarang, ada permintaannya cukup tinggi untuk pegawai, pekerja dan lainnya,” katanya saat ditemui KONTAN.

Sementara itu, di wilayah Cirebon sudah ada total permintaan kredit pemilikan rumah (KPR) sebanyak 6.000 unit, di mana 1.000 unit di antaranya merupakan permintaan KPR syariah.

Permintaan rumah yang banyak ini bukan hanya di pulau Jawa saja, tetapi juga dikota lainnya seperti di Papua, Sorong, Wamena, Merauke, Kendari dan lainnya.

Menurut Maryono, bank spesialis pembiayaan perumahan tersebut sudah memenuhi permintaan perumahan dengan membangun 1.200 unit sejak awal tahun 2016 hingga saat ini.

Dia menambahkan, permintaan KPR bersubsidi di daerah tersebut banyak didominasi oleh para pegawai negeri. Untuk itu, emiten berkode saham BBTN itu akan menurunkan suku bunga KPR non promo sebesar 9,75% pada bulan September.

Catatan saja, saat ini, bunga KPR non promo milik BTN masih di kisaran 11% hingga 12%.

Seperti diketahui, produk utama BTN adalah KPR, di mana 54% diantaranya merupakan KPR subsidi yang bunganya sudah 5%. Sementara KPR non subsidi terbagi menjadi dua jenis bunga, yakni bunga promo yang memiliki bunga sebesar 8% dan non promo.

Penurunan bunga non promo ini terbilang lama karena BTN masih memiliki cost of fund alias biaya dana dengan deposito dari dana pihak ketiga (DPK) yang belum jatuh tempo.

“Deposito kami rata-rata tidak satu bulan jatuh temponya, bahkan ada yang sampai satu tahun. Kalau sudah banyak yang jatuh tempo otomatis cost of fund-nya turun,” ujarnya.




TERBARU

Close [X]
×