Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan laba sejumlah bank besar masih terbatas hingga empat bulan pertama tahun ini. Tren ini diperkirakan akan berlanjut hingga pertengahan tahun 2026.
Dari jajaran bank buku empat, hanya Bank Mandiri yang berhasil mencetak pertumbuhan laba bersih bank only di level double digit per April 2026, yakni sebesar 18,85% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 18,05 triliun.
Capaian itu selaras dengan pertumbuhan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) bank yang tumbuh 9,83% yoy menjadi Rp 27,91 triliun. Pun, kredit yang disalurkan bank dalam periode ini tumbuh subur 18,48% yoy menjadi Rp 1.550,17 triliun.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menyebut, pada dasarnya capaian bank dalam periode ini selaras dengan strategi penguatan ekosistem yang dijalankan secara terintegrasi di seluruh segmen bisnis, termasuk dalam menyokong program pemerintah.
Baca Juga: Bank Sampoerna Genjot Porsi Kredit UMKM, Porsinya Capai 59% dari Portofolio Kuartal I
"Bank Mandiri terus memperluas akses layanan finansial yang nyaman dan menyeluruh bagi masyarakat, sekaligus menjaga keunggulan berkelanjutan sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (26/5/2026).
Secara keseluruhan, untuk menjaga kinerja, Novita bilang pihaknya fokus pada dua hal, yakni diversifikasi sumber pendapatan dan disiplin pengelolaan risiko. Dengan begitu, pertumbuhan yang dicapai bank tetap berkelanjutan di tengah situasi yang menantang.
Sementara itu, bank buku empat lainnya mencatatkan pertumbuhan laba yang lebih terbatas. Laba bersih Bank Negara Indonesia (BNI) secara bank only hanya naik 6,11% yoy menjadi Rp 7,29 triliun. Padahal, dalam periode ini NII bank naik 14,25% yoy menjadi Rp 14,43 triliun, selaras dengan pertumbuhan kredit yang mencapai 21,37% yoy menjadi Rp 919,5 triliun.
Namun, memang beban operasional lainnya naik hingga 28,9% yoy menjadi Rp 5,61 triliun. Itu salah satunya disebabkan oleh peningkatan beban impairment sebesar 30,11% yoy menjadi Rp 2,92 triliun.
Kemudian laba bersih Bank Rakyat Indonesia (BRI) tumbuh 5,91% yoy menjadi Rp 15,89 triliun, dengan catatan NII dan kredit tumbuh masing-masing 7,49% yoy menjadi Rp 39,37 triliun dan 10,22% yoy menjadi Rp 19,41 triliun.
Sementara laba bersih Bank Central Asia (BCA) tumbuh lebih terbatas 3% yoy menjadi Rp 20,81 triliun, selaras dengan koreksi tipis NII 0,3% yoy menjadi Rp 26,81 triliun.
EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn menjelaskan, pada dasarnya kinerja NII bank yang terbatas dalam periode ini sejalan dengan volume permintaan kredit, kondisi perekonomian, dan pergerakan suku bunga.
Baca Juga: Pengamat: Pembiayaan Fintech Lending akan Makin Meningkat di Tengah Tekanan Daya Beli
Memang, dalam periode ini penyaluran kredit bank juga tumbuh terbatas 4,54% yoy menjadi Rp 965,01 triliun. Namun, Hera memastikan pihaknya bakal terus mendorong penyaluran kredit ke semua sektor dan segmen, sembari tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
“BCA juga senantiasa mempertahankan posisi permodalan dan likuiditas yang solid untuk memberikan landasan bagi pertumbuhan kredit yang berkesinambungan dan berkualitas dalam jangka panjang,” katanya kepada Kontan, Selasa (26/5/2026).
Menurut Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rizal Taufikurahman, pada dasarnya kinerja laba bank-bank besar memang mulai memasuki fase normalisasi pada 2026, seiring likuiditas yang kian ketat dan suku bunga yang masih tinggi.
Ia melihat tekanan laba juga masih bakal berlanjut hingga semester I-2026. Pasalnya, laju pertumbuhan kredit yang lebih kencang dari dana pihak ketiga (DPK) membuat kompetisi dana makin mahal.
Di saat yang sama, kenaikan suku bunga acuan dan SRBI turut membuat biaya dana (cost of fund/CoF) perbankan bertahan di level tinggi. “Akibatnya, NIM industri berpotensi tertekan karena bunga dana naik lebih cepat dibanding repricing kredit,” jelas Rizal kepada Kontan, Kamis (28/5/2026).
Kendati begitu, Rizal menilai fundamental perbankan masih cukup kuat, pun kualitas asetnya relatif terjaga. Ke depan, arah pertumbuhan laba bakal lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, yakni kebijakan BI Rate, stabilitas rupiah, serta pertumbuhan sektor hilirisasi, infrastruktur, dan konsumsi domestik.
Dalam kondisi ini, strategi efisiensi bank memainkan peran penting untuk menjaga pertumbuhan laba.
“Bank dengan dana murah yang kuat, efisiensi digital yang tinggi, dan kualitas aset yang sehat, diperkirakan tetap menjadi outperformer di tengah fase konsolidasi laba saat ini,” tandas Rizal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













