kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.754.000   -31.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.853   30,00   0,17%
  • IDX 6.130   -76,16   -1,23%
  • KOMPAS100 809   -11,59   -1,41%
  • LQ45 620   -10,81   -1,71%
  • ISSI 215   -2,62   -1,20%
  • IDX30 354   -6,31   -1,75%
  • IDXHIDIV20 438   -8,62   -1,93%
  • IDX80 93   -1,35   -1,42%
  • IDXV30 121   -2,44   -1,98%
  • IDXQ30 115   -2,13   -1,83%

Pengamat: Pembiayaan Fintech Lending akan Makin Meningkat di Tengah Tekanan Daya Beli


Kamis, 28 Mei 2026 / 20:58 WIB
Pengamat: Pembiayaan Fintech Lending akan Makin Meningkat di Tengah Tekanan Daya Beli
ILUSTRASI. Kenaikan suku bunga BI membuat pinjol jadi pilihan.


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Seiring adanya kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) menjadi 5,25%, tentu bunga bank akan ikut naik. Dengan demikian, masyarakat akan makin mencari alternatif pinjaman selain bank, terutama ke fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar). 

Pengamat sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan fintech lending memang menjadi pilihan yang masuk akal bagi masyarakat saat ini. Terlebih dengan adanya daya beli yang makin berat, dia menilai permintaan pembiayaan via pindar diprediksi akan makin meningkat. 

"Ketika permintaan meningkat, tentu ada dua skenario, yaitu kualitas meningkat atau justru risiko gagal bayar yang meningkat," ungkapnya kepada Kontan, Kamis (28/5/2026).

Baca Juga: BI Rate Naik, BCA Pastikan Bunga Kredit Kedaraan Bermotor Tidak Otomatis Meningkat

Oleh karena itu, Nailul berpendapat platform fintech lending harus memikirkan kualitas terlebih dahulu untuk saat ini. Dia menerangkan caranya dengan melakukan verifikasi yang lebih baik, credit scoring yang lebih valid, dan saringan dari awal melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). 

"Upaya itu penting dilakukan untuk menjaga kualitas pinjaman dengan baik," tuturnya.

Dengan teknologi yang lebih canggih, Nailul mengatakan seharusnya sistem untuk credit scoring di fintech lending bisa ditingkatkan akurasinya. Selain itu, waktu untuk penyaringan via SLIK juga bisa dipercepat. Dengan demikian, mitigasi risiko bisa dilakukan lebih optimal seiring permintaan pembiayaan yang meningkat.

Dari sisi fintech lending, PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) menerapkan sejumlah strategi guna menjaga kualitas portofolio dan memitigasi risiko pembiayaan. VP Public Relations Amartha Harumi Supit menerangkan strateginya, yakni Amartha menggabungkan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) dan pendampingan oleh tenaga lapangan. 

"Pendampingan di lapangan juga berfungsi untuk meningkatkan kapabilitas mitra Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk mengelola keuangan bisnis, belajar untuk melakukan pembayaran digital, dan berinvestasi mikro," ungkapnya kepada Kontan.

Baca Juga: Dorong Ekspansi Bisnis, Bank Makin Gencar Perkuat Infrastruktur Digital

Harumi menyebut, tujuan upaya itu agar UMKM akar rumput dapat tumbuh lebih tangguh dalam menghadapi risiko bisnis. Secara akumulatif, dia bilang Amartha telah menyalurkan pembiayaan produktif sebesar Rp 46 triliun kepada 4 juta UMKM di Indonesia.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), outstanding pembiayaan fintech P2P lending mencapai Rp 101,03 triliun per Maret 2026, atau tumbuh sebesar 26,25% secara Year on Year (YoY).

Sementara itu, OJK mencatat, tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 fintech P2P lending per Maret 2026 sebesar 4,52%. Secara rinci, angka TWP90 industri per Maret 2026 tercatat meningkat, jika dibandingkan posisi Maret 2025 yang sebesar 2,77%. Namun, angka TWP90 per Maret 2026 terbilang membaik, jika dibandingkan dengan posisi Februari 2026 yang sebesar 4,54%. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×