Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Fenomena makan tabungan yang terjadi di masyarakat kelas menengah bawah di sepanjang tahun 2024 lalu berdampak pada perlambatan dana pihak ketiga produk tabungan di industri perbankan tahun lalu.
Salah satu faktor penyebabnya adalah angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Indonesia yang meningkat 25,50% yoy per September 2024 berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker).
Sementara, berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), jika ditarik ulur dari periode Januari hingga Desember 2024, terjadi perlambatan pada pertumbuhan segmen tabungan perbankan khususnya untuk kelas menengah bawah dengan nilai simpanan sampai atau di bawah Rp 100 juta.
Misalnya, per Januari 2024, pertumbuhan tabungan sampai Rp 100 juta di perbankan tumbuh 5,4% yoy. Selanjutnya per kuartal I atau Maret 2024 tumbuh melambat 5,3% yoy.
Namun per Juni atau kuartal II-2024, tumbuh tinggi di level 6,5% yoy, kemudian melambat kembali di kuartal III-2024 atau per September 2024 sebesar 5,7% yoy. Terkahir di kuartal IV-2024 segmen tabungan sampai Rp 100 juta mencatatkan perlambatan dengan hanya tumbuh 5,1% yoy.
Baca Juga: Berkat Program Ini, DPK dan Pembiayaan Konsumer Bank Mega Syariah Meningkat
Sejumlah bankir membenarkan, meningkatkanya jumlah pengangguran di tahun 2024, telah berefek ke melambatnya pertumbuhan segmen pertumbuhan tabungan perorangan, meskipun secara total simpanan dana pihak ketiga (DPK) di sejumlah bank besar masih meningkat.
"Kami memahami bahwa PHK yang terjadi sepanjang tahun lalu turut menyumbang penurunan daya beli masyarakat yang menyebabkan “tren makan tabungan," ungkap Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo Budiprabowo kepada Kontan, Kamis (27/2).
Meski demikian, Okki menyebut BNI tetap berupaya untuk meningkatkan DPK dengan terus meningkatkan pelayanan dan melanjutkan inovasi digital sehingga BNI menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia untuk bertransaksi perbankan.
Hal ini terbukti pada 2024, BNI mencatat tabungan tumbuh sebesar 11% YoY terutama setelah peluncuran aplikasi wondr by BNI pada Juli 2024. Seiring dengan itu, BNI juga terus memantau perkembangan ekonomi Indonesia dan perubahan perilaku nasabah.
BNI masih tetap optimistis dapat menjaga pertumbuhan tabungan dengan terus berinnovasi dan menawarkan produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan nasabah, meningkatkan kenyamanan nasabah dalam bertransaksi. Serta melakukan efisiensi operasional untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.
"Dengan strategi yang tepat, kami yakin dapat melewati tantangan ini dan tetap memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan seluruh stakeholders," kata Okki.
Baca Juga: BSI Mencatat Pertumbuhan DPK Sebesar 11,46% Menjadi Rp 327,45 Triliun pada 2024
Senada, Direktur SME and Retail Funding PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Muhammad Iqbal mengatakan, fenomena makan tabungan telah menjadi salah satu tantangan bagi perbankan, yang saah satunya disebabkan adanya peningkatan PHK sebesar 20% pada tahun 2024.
"Peningkatan PHK sebesar 20% pada tahun 2024 telah berdampak pada daya beli masyarakat, yang menyebabkan penggunaan tabungan untuk kebutuhan sehari-hari meningkat dan memperlambat pertumbuhan segmen tabungan. Untuk menghadapi tantangan ini, BTN memperkuat layanan digital dan menawarkan produk tabungan yang menarik guna menggaet dan mempertahankan nasabah," kata Iqbal kepada Kontan.
Iqbal menyebut, BTN berkomitmen mendukung pemulihan ekonomi melalui kredit yang lebih terjangkau dan program bantuan bagi yang terdampak. Ia berharap tren pertumbuhan simpanan masyarakat diharapkan tahun ini bisa tumbuh lebih baik dibandingkan tahun lalu.
"BTN akan memperkuat layanan ke masyarakat untuk produk tabungan melalui layanan digital dan fitur-fitur produk tabungan untuk membantu transaksional nasabah," ungkapnya.
BTN per Desember 2024 mencatatkan pertumbuhan segmen tabungan sebesar 2,33% yoy menjadi Rp 45,50 triliun.
Adapun PT Bank Mandiri Tbk menyebut, segmen tabungan masih mampu tumbuh 13,4% yoy secara bank only menjadi Rp 514,54 triliun per Desember 2024. SVP Retail Deposit Product Sales Bank Mandiri, Evi Dempowati mengatakan pertumbuhan ini berlanjut di Januari 2025.
Evi merinci, pertumbuhan dana Tabungan nasabah ini terjadi pada seluruh tier balance yang tumbuh positif secara YoY. Khusus bagi nasabah Tabungan dengan saldo hingga Rp 50 Juta, secara total balancenya tumbuh diatas 8% pada periode yang sama.
"Tentunya kami berharap tren pertumbuhan tabungan yang positif ini tetap berlanjut di tahun 2025 sejalan dengan strategi Bank Mandiri untuk peningkatan dana murah dan fokus untuk pemanfaatan serta peningkatan layanan digital multi transaksi yang menawarkan kemudahan dan fleksibilitas transaksional seperti Livin’ by Mandiri dan Kopra by Mandiri," kata Evi kepada Kontan, Kamis (27/2).
Selanjutnya: Harga Emas Tergelincir Minggu Ini, Dipicu Profit Taking dan Dollar Menguat
Menarik Dibaca: Harga Emas Tergelincir Minggu Ini, Dipicu Profit Taking dan Dollar Menguat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News