kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.935
  • EMAS714.000 1,28%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Potensi besar, BNI targetkan volume transaksi remitansi tumbuh di atas 20% tahun ini


Senin, 28 Januari 2019 / 19:29 WIB

Potensi besar, BNI targetkan volume transaksi remitansi tumbuh di atas 20% tahun ini
ILUSTRASI. SWIFT GPI BNI

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) melihat bisnis remitansi atau pengiriman uang dari pekerja Indonesia di luar negeri masih sangat prospektif. Tahun ini, bank pelat merah ini menargetkan volume transaksi bisnis remitansi tumbuh di atas 20%.

Target tersebut lebih tinggi dari realisasi tahun 2018 yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 14,2%. Dengan target pertumbuhan transaksi tersebut, BNI mengharapkan kontribusi remintasi ke fee based income alias pendapatan komisi mereka juga ikut terkerek.


"Tahun 2018, remitansi menyumbang fee based income sebesar 3,2% dari total fee based income BNI yang terdiri dari fee komisi remitansi dan keuntungan forex. Maka pada tahun 2019 ditargetkan bisa tumbuh 17%," kata Direktur Tresuri dan Bisnis Internasional BNI Rico Rizal Budidarmo kepada Kontan.co.id, Senin (28/1).

Tahun lalu, BNI mencatatkan volume transaksi remitansi sebesar US$ 85,3 miliar. Menurut Rico, penyumbang terbesar terhadap bisnis remitansi tersebut berasal dari negara Malaysia, Saudi Arabia dan lainnya.

Guna meningkatkan volume transaksi dan juga kualitas layanan remitansinya di tahun 2019, BNI bergabung menjadi member eksklusif Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication-Global Payment Innovation (SWIFT GPI). Rico mengklaim BNI menjadi pionir atau bank pertama yang go live SWIFT GPI di Indonesia sejak 8 Januari 2019.

Melalui SWIFT GPI, BNI ingin meningkatkan layanan kepada nasabah, baik korporasi maupun ritel, yang membutuhkan layanan kiriman uang sesuai kebutuhan mereka. Kebutuhan terbesar nasabah adalah informasi mengenai keberadaan transaksi mereka serta kepastian waktu tempuh transaksi hingga sampai ke penerima.

Rico menyebut, dulu untuk menemukan transaksi kiriman uang harus melalui beberapa proses. Di antaranya harus menanyakan status transaksi kepada intermediary bank melalui MT 199 dan menunggu jawaban yang waktunya tidak dapat diketahui. Sementara dengan SWIFT GPI, bank dan nasabah dapat mengetahui dimana transaksi berada secara real time.

Sebagai pionir transaksi berbasis SWIFT GPI di Indonesia, BNI disebutnya akan terus mengembangkan sistem untuk memenuhi kebutuhan nasabah. “Tahap selanjutnya kami akan membangun aplikasi tracker transaksi SWIFT GPI yang dapat diakses oleh nasabah melalui gadget, jadi mereka bisa melakukan tracking transaksi pribadi langsung melalui ponselnya,” lanjut Rico.


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk
Editor: Herlina Kartika
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0676 || diagnostic_web = 0.2985

Close [X]
×