kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.122.000   -13.000   -0,41%
  • USD/IDR 16.902   8,00   0,05%
  • IDX 7.940   -77,07   -0,96%
  • KOMPAS100 1.111   -13,95   -1,24%
  • LQ45 806   -6,90   -0,85%
  • ISSI 283   -3,09   -1,08%
  • IDX30 427   -2,07   -0,48%
  • IDXHIDIV20 519   1,40   0,27%
  • IDX80 125   -1,34   -1,06%
  • IDXV30 141   0,27   0,19%
  • IDXQ30 137   -0,41   -0,30%

RKAB Batubara 2026 Dipangkas, Premi Asuransi Terancam Turun


Selasa, 03 Maret 2026 / 18:02 WIB
RKAB Batubara 2026 Dipangkas, Premi Asuransi Terancam Turun


Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Wacana pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan batubara tahun 2026 dinilai berpotensi memengaruhi kinerja industri asuransi umum.

Pengurangan kuota produksi yang signifikan diperkirakan berdampak pada sejumlah lini bisnis asuransi yang selama ini bergantung pada aktivitas pertambangan batubara, mulai dari pengangkutan hingga operasional tambang.

Berdasarkan laporan Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia-Indonesian Coal Mining Association (APBI-ICMA), potensi pemotongan kuota produksi batubara pada 2026 disebut-sebut dapat mencapai 40%. Jika terealisasi, kebijakan tersebut berpotensi menekan volume produksi dan ekspor batubara nasional.

Pengamat asuransi Irvan Rahardjo menilai, penurunan produksi akan berdampak langsung terhadap lini marine cargo, alat berat, dan asuransi energi.

“Penurunan produksi akan mengurangi volume pengiriman batubara, sehingga premi marine cargo berpotensi turun. Utilisasi alat berat yang lebih rendah juga berdampak pada premi asuransi alat berat dan engineering,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (1/3/2026).

Baca Juga: RKAB Batubara Berpotensi Dipangkas, Asuransi YOII Akan Diversifikasi Portofolio

Menurutnya, selain menekan pendapatan premi, kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan risiko klaim. Gangguan kontrak, penundaan proyek, hingga penurunan utilisasi alat berat dapat memicu klaim, terutama apabila terjadi perselisihan kontraktual atau kerusakan alat akibat kondisi idle dalam waktu lama.

Irvan menambahkan, lini asuransi marine cargo, alat berat, serta property all risk di lokasi tambang berpotensi menjadi yang paling terpapar. Penurunan volume produksi dan ekspor akan mengurangi aktivitas pengiriman, menurunkan kebutuhan penggunaan alat berat, serta mengurangi eksposur risiko atas aset tertanggung. Imbasnya, premi yang dibukukan berpotensi menyusut.

“Penurunan volume produksi/ekspor mengurangi aktivitas pengiriman barang (marine cargo), menurunkan kebutuhan alat berat, dan mengurangi risiko aset tertanggung, yang berdampak pada penurunan premi dan potensi klaim,” ungkapnya.

Dampak ke Industri Pendukung

Target penurunan produksi batubara menjadi sekitar 600 juta ton pada 2026 juga diperkirakan berdampak luas pada industri pendukung. Sektor jasa pertambangan, kontraktor alat berat, hingga tenaga kerja berpotensi terdampak.

Selain itu, industri turunan seperti pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan sektor lain yang bergantung pada batubara perlu melakukan penyesuaian operasional. Dinamika ini turut memengaruhi lini asuransi lain, seperti asuransi tenaga kerja, asuransi pengangkutan, hingga liability.

Respons Asuransi Jasindo

Sementara itu, PT Asuransi Jasa Indonesia atau Asuransi Jasindo menilai dampak kebijakan tersebut masih sangat bergantung pada kebijakan final serta implementasinya di lapangan.

Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo Brellian Gema Widayana mengatakan, hingga saat ini situasi masih berada dalam koridor yang terkendali.

“Kami memandang dampaknya terhadap industri asuransi masih akan sangat bergantung pada kebijakan final serta implementasinya di lapangan. Pada tahap ini, kami melihat situasi masih dalam koridor yang terkendali,” ujar Brellian kepada Kontan, Jumat (27/2/2026).

Ia menjelaskan, secara umum portofolio asuransi kerugian mayoritas berbasis aset dengan periode pertanggungan tertentu. Dengan karakteristik tersebut, perubahan volume produksi batubara dalam jangka pendek tidak serta-merta berdampak langsung terhadap kinerja premi.

Baca Juga: RKAB Batubara 2026 Berpotensi Dipangkas, Cek Dampaknya ke Asuransi Umum

Namun demikian, Brellian mengakui pada lini tertentu seperti marine cargo, potensi penyesuaian tetap ada apabila terjadi perubahan signifikan pada aktivitas distribusi.

“Untuk lini tertentu seperti marine cargo, potensi penyesuaian dapat terjadi apabila terdapat perubahan signifikan pada aktivitas distribusi. Namun, hal tersebut masih bersifat situasional,” jelasnya.

Ke depan, Jasindo menegaskan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan risiko. Diversifikasi portofolio menjadi strategi utama guna menjaga ketahanan kinerja di tengah dinamika sektor pertambangan.

“Kami terus memantau perkembangan kebijakan serta memastikan pengelolaan risiko dilakukan secara prudent guna menjaga kinerja yang berkelanjutan,” ungkapnya.

YOII Tekankan Komposisi Portofolio

Pandangan serupa disampaikan PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII). Perusahaan menilai dampak rencana pemangkasan RKAB batubara terhadap industri asuransi umum akan sangat bergantung pada komposisi portofolio masing-masing perusahaan.

Corporate Secretary YOII Rahmat Dwiyanto mengatakan, perusahaan dengan eksposur signifikan di sektor pertambangan berpotensi mengalami penurunan premi, khususnya pada lini yang berkaitan langsung dengan aktivitas produksi dan distribusi batubara.

“Secara umum, dampaknya akan sangat bergantung pada komposisi portofolio. Perusahaan dengan paparan besar di sektor tambang tentu berpotensi terdampak, terutama pada lini yang terkait produksi dan distribusi batubara,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (27/2/2026).

Ia menambahkan, secara industri, selain lini pengangkutan dan operasional tambang, asuransi engineering termasuk Construction All Risk (CAR) juga berpotensi terpengaruh, terutama jika terjadi penundaan ekspansi proyek tambang atau pembangunan infrastruktur pendukung.

Namun demikian, Rahmat memastikan rencana pemangkasan RKAB batubara tidak memberikan tekanan signifikan terhadap kinerja YOII. Komposisi portofolio perusahaan lebih berfokus pada produk asuransi berbasis gaya hidup (lifestyle insurance) dan segmen ritel, sehingga tidak didominasi risiko sektor pertambangan.

“Dengan komposisi tersebut, potensi penurunan produksi batubara diperkirakan tidak berdampak langsung terhadap pendapatan premi Perseroan,” jelasnya.

Rahmat menegaskan, YOII akan terus menjaga diversifikasi portofolio serta memperkuat lini bisnis dengan permintaan stabil dari segmen ritel dan lifestyle. Pengembangan produk melalui kanal distribusi digital juga menjadi strategi untuk meminimalkan ketergantungan pada sektor tertentu.

Baca Juga: Begini Kinerja Pembiayaan Alat Berat di Tengah Lesunya Penjualan Batubara

“Selain itu, kami tetap memantau perkembangan sektor-sektor industri utama sebagai bagian dari manajemen risiko portofolio, guna memastikan komposisi bisnis tetap sehat dan berkelanjutan dalam berbagai kondisi siklus ekonomi,” lanjutnya.

Aswata: Bergantung RKAB Masing-Masing Perusahaan

Pandangan lain disampaikan PT Asuransi Wahana Tata (Aswata). Presiden Direktur Aswata Christian Wanandi mengatakan, potensi dampak penyesuaian RKAB batubara terhadap industri asuransi tetap terbuka, namun sangat bergantung pada rencana kerja masing-masing perusahaan tambang.

“Dampaknya mungkin saja terjadi, tetapi semuanya tergantung pada rencana RKAB masing-masing perusahaan batubara,” ujarnya kepada Kontan, Senin (2/3/2026).

Christian menambahkan, apabila terjadi penurunan aktivitas produksi dan distribusi, maka pertumbuhan premi pada lini yang berkaitan langsung dengan sektor pertambangan dipastikan tidak akan terjadi.

“Yang pasti, pertumbuhan premi asuransi alat berat dan marine cargo tidak terjadi apabila aktivitasnya memang menurun,” jelasnya.

Dengan demikian, realisasi kebijakan pemangkasan RKAB batubara 2026 akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah kinerja industri asuransi umum ke depan, terutama bagi perusahaan dengan eksposur besar pada sektor pertambangan dan energi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×