kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.868.000   -20.000   -0,69%
  • USD/IDR 17.206   48,00   0,28%
  • IDX 7.634   12,62   0,17%
  • KOMPAS100 1.054   2,19   0,21%
  • LQ45 759   1,54   0,20%
  • ISSI 277   0,40   0,14%
  • IDX30 403   0,28   0,07%
  • IDXHIDIV20 490   1,86   0,38%
  • IDX80 118   0,34   0,29%
  • IDXV30 139   0,96   0,70%
  • IDXQ30 129   0,30   0,23%

Rupiah Loyo, Bank Jaga Kualitas Kredit dan Perkuat Permodalan


Sabtu, 18 April 2026 / 06:00 WIB
Rupiah Loyo, Bank Jaga Kualitas Kredit dan Perkuat Permodalan
ILUSTRASI. Pelemahan rupiah mulai jadi perhatian serius bank. Simak peringatan penting dari perbankan dan sektor mana saja yang paling terdampak. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah mulai menjadi perhatian industri perbankan. Meski demikian, sejumlah bank menilai dampaknya terhadap kualitas kredit dan permodalan masih relatif terkendali.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) perbankan pada Februari 2026 tercatat sebesar 25,83%. Angka ini menurun dibandingkan posisi Februari 2025 yang berada di level 26,95%.

Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross perbankan tetap terjaga di level 2,17% pada Februari 2026, membaik dibandingkan Februari 2025 yang tercatat sebesar 2,22%.

Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengatakan likuiditas valuta asing (valas) perseroan masih berada dalam kondisi yang cukup baik. Hal ini tercermin dari rasio loan to deposit ratio (LDR) valas yang masih berada di bawah 70%.

Baca Juga: Geopolitik Memanas, Ini Strategi LPEI Jaga NPL Tetap Terkendali

Menurutnya, penyaluran kredit valas dilakukan secara selektif, terutama kepada debitur yang memiliki pendapatan dalam mata uang yang sama. Strategi ini dinilai efektif untuk menekan risiko terhadap kualitas aset.

“Mayoritas kredit valas diberikan karena transaksi dan penghasilan nasabah juga dalam valas, sehingga kualitas aset tetap terjaga secara prudent,” ujarnya kepada kontan.co.id, Jumat (17/4/2026).

Dari sisi permodalan, CIMB Niaga mencatat rasio CAR sebesar 24,8% pada 2025, meningkat dibandingkan 23,3% pada tahun sebelumnya. Level tersebut dinilai cukup solid untuk menyerap potensi tekanan akibat volatilitas nilai tukar.

Senada, Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie, menyebut pelemahan rupiah sejauh ini belum memberikan dampak material terhadap kualitas kredit perseroan.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut ditopang oleh struktur portofolio kredit yang masih didominasi oleh pembiayaan berdenominasi rupiah. Hingga Desember 2025, porsi kredit valas KB Bank tercatat sekitar 13%.

“Dengan komposisi tersebut, potensi tekanan terhadap kualitas aset akibat volatilitas nilai tukar berada pada level yang terkendali,” jelasnya.

Perbaikan kualitas kredit KB Bank juga tercermin dari penurunan rasio NPL serta loan at risk (LAR) yang turun 2,18% secara tahunan.

Meski dampak langsung pelemahan rupiah masih terbatas, perbankan tetap mewaspadai potensi risiko lanjutan, terutama bagi debitur yang memiliki eksposur valas namun berpendapatan rupiah.

Baca Juga: Rupiah Melemah di Atas Level Rp 17.000, Masyarakat Ramai-ramai Jual Dolar

Untuk itu, bank terus memperkuat manajemen risiko melalui pemantauan ketat terhadap sektor-sektor yang sensitif terhadap perubahan makroekonomi, serta melakukan evaluasi berkala terhadap profil risiko dan kecukupan modal.

Selain itu, stress test juga dilakukan untuk mengantisipasi berbagai skenario, termasuk potensi kenaikan kredit bermasalah akibat tekanan eksternal.

Ke depan, perbankan diperkirakan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit, dengan mempertimbangkan dinamika global seperti volatilitas nilai tukar dan ketegangan geopolitik.

Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto mengatakan, secara umum perbankan masih memiliki fundamental yang kuat, tercermin dari rasio CAR yang tetap tinggi.

“Secara umum perbankan masih cukup solid. CAR juga masih di atas 25%, jadi masih cukup aman,” ujarnya.

Meski demikian, Myrdal mengingatkan bank perlu meningkatkan pengawasan terhadap nasabah, khususnya yang bergerak di sektor ekspor dan impor. Pasalnya, pelemahan rupiah dan kenaikan harga komoditas global berpotensi meningkatkan biaya usaha.

“Dari sisi impor, biaya pasti naik. Dari ekspor juga biaya pengiriman meningkat. Ini harus dimonitor dampaknya ke debitur,” jelasnya.

Selain sektor ekspor dan impor, sektor consumer goods, industri plastik, hingga otomotif juga perlu dicermati. Tekanan biaya akibat imported inflation dinilai berpotensi mengganggu kinerja sektor-sektor tersebut.

Di sektor otomotif, misalnya, penjualan dinilai masih menghadapi tantangan, terutama untuk kendaraan non-listrik yang sulit mencatat pertumbuhan penjualan tinggi secara konsisten.

Lebih lanjut, Myrdal menilai pelemahan rupiah juga dapat berdampak terhadap penyaluran kredit perbankan. Dalam situasi ketidakpastian, baik bank maupun korporasi cenderung lebih berhati-hati.

Baca Juga: Tumbuh 4,92%, FIFGROUP Bukukan Laba Bersih Rp 4,63 Triliun pada 2025

“Permintaan kredit bisa tertahan karena korporasi lebih hati-hati, dan bank juga lebih selektif dalam menyalurkan kredit,” katanya.

Meski begitu, risiko kredit macet dinilai masih terjaga. Ia memperkirakan rasio NPL tetap berada di level rendah, yakni di bawah 2,35%.

“Memang ada potensi kenaikan, tapi masih dalam batas aman,” imbuhnya.

Di sisi kebijakan, dukungan dari otoritas dinilai masih cukup membantu. Bank Indonesia yang menahan suku bunga acuan serta kebijakan insentif makroprudensial dinilai memberikan ruang bagi perbankan untuk tetap ekspansif.

Selain itu, kebijakan pemerintah yang menahan kenaikan harga energi juga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan sektor perbankan.

Myrdal juga melihat peluang bagi perbankan untuk mengoptimalkan bisnis treasury dan transaksi valuta asing di tengah volatilitas pasar. Produk lindung nilai atau hedging dinilai semakin relevan untuk membantu nasabah mengelola risiko.

“Perbankan bisa memanfaatkan momentum ini dengan menawarkan produk hedging dan memperkuat bisnis valas,” katanya.

Ke depan, ia menekankan pentingnya perbankan melakukan stress test secara berkala serta memperkuat manajemen risiko, khususnya pada sektor-sektor yang terdampak tekanan global.

“Yang penting bank aktif monitoring dan menjaga kualitas kredit, terutama di sektor-sektor yang rentan terhadap imported inflation,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×