kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.818.000   -42.000   -1,47%
  • USD/IDR 17.140   26,00   0,15%
  • IDX 7.517   58,39   0,78%
  • KOMPAS100 1.040   10,94   1,06%
  • LQ45 748   1,07   0,14%
  • ISSI 272   3,13   1,16%
  • IDX30 401   0,31   0,08%
  • IDXHIDIV20 487   -3,22   -0,66%
  • IDX80 116   0,75   0,65%
  • IDXV30 135   -0,12   -0,09%
  • IDXQ30 129   -0,85   -0,65%

Allo Bank Cetak Pertumbuhan Kredit Double Digit di Tengah Perlambatan Industri


Senin, 13 April 2026 / 11:16 WIB
Allo Bank Cetak Pertumbuhan Kredit Double Digit di Tengah Perlambatan Industri
ILUSTRASI. Allo Bank (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Allo Bank Indonesia Tbk mencatatkan pertumbuhan kredit yang tetap positif di tengah perlambatan industri perbankan.

Hingga Februari 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit industri perbankan tumbuh 9,37% secara tahunan (year on year/yoy). Dalam periode yang sama, kredit Allo Bank tumbuh 20,3% secara tahunan menjadi Rp 8,38 triliun. 

Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo menyebut, pertumbuhan tersebut utamanya ditopang oleh kekuatan model bisnis berbasis ekosistem digital dan penyaluran kredit berbasis data (data-driven lending).

Lebih lanjut, Destya bilang pertumbuhan utama tetap berasal dari segmen kredit konsumsi digital, khususnya produk buy now pay later (BNPL) atau PayLater serta pinjaman ritel berbasis transaksi.

Baca Juga: BRI Salurkan KPR Subsidi Rp 17,13 Triliun hingga Maret 2026

“Produk dengan tenor pendek dan berbasis kebutuhan konsumsi harian masih menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan kredit. Selain prosesnya cepat dan seamless, produk ini juga relevan dengan perilaku transaksi nasabah digital saat ini,” ujar Destya kepada Kontan, pekan lalu. 

Ia menambahkan, permintaan kredit dari nasabah existing maupun pengguna baru di dalam ekosistem Allo Bank masih menunjukkan tren yang positif.

Meski demikian, manajemen tetap mencermati risiko ketidakpastian global dan potensi perlambatan ekonomi domestik yang dapat memengaruhi daya beli serta kualitas kredit.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Allo Bank menerapkan prinsip pertumbuhan yang pruden dengan memperketat credit scoring dan underwriting berbasis data transaksi. Selain itu, bank juga melakukan pemantauan early warning signal secara real-time, pengelolaan limit kredit secara dinamis, serta memperkuat proses penagihan (collection) dan pengingat digital.

“Dengan pendekatan tersebut, kami berupaya menjaga agar pertumbuhan kredit tetap berkualitas dan risiko tetap terkendali,” imbuhnya.

Hingga tengah tahun 2026 nanti, Destya bilang pihaknya masih optimistis kredit bakal tumbuh positif. Namun, laju pertumbuhan diperkirakan lebih selektif dan terukur dibandingkan periode ekspansi sebelumnya.

Sejumlah katalis yang menopang pertumbuhan antara lain momentum konsumsi masyarakat pasca Lebaran, tren peningkatan utilisasi PayLater dan transaksi digital, pertumbuhan nasabah aktif, serta perkembangan kondisi makroekonomi dan suku bunga.

Ke depan, Allo Bank menegaskan fokusnya tak cuman pada pertumbuhan volume kredit, tetapi juga menjaga kualitas portofolio agar tetap sehat dan berkelanjutan.

Baca Juga: Askrindo Syariah Bukukan Laba Rp163,18 Miliar pada 2025, Aset Tembus Rp3,28 Triliun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×