Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah mulai menjadi perhatian industri perbankan. Meski begitu, sejumlah bank menilai dampaknya terhadap kualitas kredit dan permodalan masih relatif terkendali.
Jika dilihat berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio kecukupan modal alias capital adequacy ratio (CAR) perbankan pada Februari 2026 berada di level 25,83% menurun dari Februari 2025 di level 26,95%.
Rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross perbankan juga terjaga di level 2,17% pada Februari 2026 dari 2,22% di Februari 2025.
Baca Juga: Rupiah Melemah, BTN Pastikan Cicilan KPR Tak Terlalu Terdampak
Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengatakan likuiditas valuta asing (valas) perseroan berada dalam kondisi cukup baik. Hal ini tercermin dari rasio loan to deposit ratio (LDR) valas yang masih di bawah 70%.
Ia menjelaskan, penyaluran kredit valas dilakukan secara selektif, terutama kepada debitur yang memiliki pendapatan dalam mata uang yang sama. Dengan demikian, risiko terhadap kualitas aset dapat ditekan.
“Mayoritas kredit valas diberikan karena transaksi dan penghasilan nasabah juga dalam valas, sehingga kualitas aset tetap terjaga secara prudent,” ujarnya kepada kontan.co.id, Jumat (17/4).
Dari sisi permodalan, CIMB Niaga mencatat rasio CAR sebesar 24,8% pada 2025, meningkat dari 23,3% pada tahun sebelumnya. Level ini dinilai cukup solid untuk menyerap potensi tekanan akibat volatilitas nilai tukar.
Senada, Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie, menyebut pelemahan rupiah sejauh ini belum memberikan dampak material terhadap kualitas kredit perseroan.
Menurutnya, hal tersebut ditopang oleh struktur portofolio kredit yang masih didominasi oleh pembiayaan berdenominasi rupiah. Hingga Desember 2025, porsi kredit valas KB Bank tercatat sekitar 13%.
“Dengan komposisi tersebut, potensi tekanan terhadap kualitas aset akibat volatilitas nilai tukar berada pada level yang terkendali,” jelasnya.
Perbaikan kualitas kredit juga tercermin dari penurunan rasio NPL serta loan at risk (LAR) yang turun 2,18% secara tahunan.
Baca Juga: BCA Terima Empat Penghargaan SUN dari Kemenkeu
Meski dampak langsung masih terbatas, bank tetap mewaspadai potensi risiko lanjutan, terutama bagi debitur yang memiliki eksposur valas namun berpendapatan rupiah.
Untuk itu, bank terus memperkuat manajemen risiko melalui pemantauan ketat terhadap sektor-sektor yang sensitif terhadap perubahan makroekonomi, serta melakukan evaluasi berkala terhadap profil risiko dan kecukupan modal.
Selain itu, stress test juga dilakukan untuk mengantisipasi berbagai skenario, termasuk potensi kenaikan kredit bermasalah akibat tekanan eksternal.
Ke depan, bank akan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit, dengan mempertimbangkan dinamika global seperti volatilitas nilai tukar dan ketegangan geopolitik.
Sementara Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto mengatakan, secara umum perbankan masih memiliki fundamental yang kuat, tercermin dari rasio CAR yang tetap tinggi.
“Secara umum perbankan masih cukup solid. CAR juga masih di atas 25%, jadi masih cukup aman,” ujarnya.
Meski demikian, Myrdal mengingatkan bank perlu meningkatkan pengawasan terhadap nasabah, khususnya yang bergerak di sektor ekspor dan impor. Pasalnya, pelemahan rupiah dan kenaikan harga komoditas global berpotensi meningkatkan biaya usaha.
“Dari sisi impor, biaya pasti naik. Dari ekspor juga biaya pengiriman meningkat. Ini harus dimonitor dampaknya ke debitur,” jelasnya.
Baca Juga: Waspada Kejahatan Siber, BNI Ingatkan Jangan Asal Klik Link
Selain itu, sektor lain yang perlu dicermati antara lain consumer goods, industri plastik, hingga otomotif. Ia menilai, tekanan biaya akibat imported inflation berpotensi mengganggu kinerja sektor-sektor tersebut.
Di sektor otomotif, misalnya, penjualan dinilai masih menghadapi tantangan, terutama untuk kendaraan non-listrik yang sulit menembus angka penjualan tinggi secara konsisten.
Lebih lanjut, Myrdal menilai pelemahan rupiah juga dapat berdampak terhadap penyaluran kredit perbankan. Dalam kondisi ketidakpastian, baik bank maupun korporasi cenderung lebih berhati-hati.
“Permintaan kredit bisa tertahan karena korporasi lebih hati-hati, dan bank juga lebih selektif dalam menyalurkan kredit,” katanya.
Meski begitu, risiko kredit macet dinilai masih terjaga. Ia memperkirakan rasio NPL tetap berada di level rendah, yakni di bawah 2,35%. “Memang ada potensi kenaikan, tapi masih dalam batas aman,” imbuhnya.
Di sisi kebijakan, dukungan dari otoritas dinilai masih cukup membantu. Bank Indonesia yang menahan suku bunga acuan serta kebijakan insentif makroprudensial dinilai memberikan ruang bagi perbankan untuk tetap ekspansif.
Selain itu, kebijakan pemerintah yang menahan kenaikan harga energi juga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan sektor perbankan.
Myrdal juga melihat peluang bagi perbankan untuk mengoptimalkan bisnis treasury dan transaksi valuta asing di tengah volatilitas pasar. Produk lindung nilai (hedging) dinilai semakin relevan untuk membantu nasabah mengelola risiko.
Baca Juga: Redam Tekanan Special Rate, Bank Mandiri Fokus Perkuat CASA
“Perbankan bisa memanfaatkan momentum ini dengan menawarkan produk hedging dan memperkuat bisnis valas,” katanya.
Ke depan, ia menekankan pentingnya perbankan melakukan stress test secara berkala serta memperkuat manajemen risiko, khususnya pada sektor-sektor yang terdampak tekanan global.
“Yang penting bank aktif monitoring dan menjaga kualitas kredit, terutama di sektor-sektor yang rentan terhadap imported inflation,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













