Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan risiko kredit valuta asing (valas) di sektor perbankan.
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan mengatakan dampak pelemahan rupiah terhadap kualitas kredit valas sangat bergantung pada profil bisnis debitur.
Menurutnya, risiko kredit akan meningkat apabila kredit valas diberikan kepada perusahaan yang melakukan kegiatan impor namun penjualannya dalam rupiah.
“Risiko kualitas kredit valas akan semakin tinggi bila diberikan kepada importir yang melakukan penjualan dalam rupiah. Namun bagi eksportir atau perusahaan yang memiliki pendapatan dalam valas, pelemahan rupiah justru bisa meningkatkan nilai pendapatan mereka,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (10/3/2026).
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Picu Permintaan Valas, Bank Pastikan Likuiditas Masih Terjaga
Ia menilai, potensi tekanan terhadap kualitas kredit valas masih dapat berlanjut apabila kondisi global tetap bergejolak. Terutama jika tensi geopolitik masih memanas dan kondisi ekonomi domestik belum menunjukkan perbaikan yang signifikan.
“Bila geopolitik masih memanas dan dari dalam negeri belum ada perbaikan ekonomi serta kebijakan yang dapat memperbaiki rating Indonesia, maka potensi pelemahan rupiah masih akan terjadi,” jelasnya.
Untuk itu, bank perlu memperketat penyaluran kredit dalam mata uang asing. Salah satu langkah mitigasi yang dapat dilakukan adalah dengan lebih selektif dalam memberikan kredit valas serta mendorong pembiayaan kepada sektor yang memiliki pendapatan dalam valas seperti eksportir.
Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk menyatakan kualitas kredit valasnya masih terjaga di tengah fluktuasi nilai tukar. Hingga akhir 2025, kredit valas bank ini tercatat tumbuh 4,9% secara tahunan.
Baca Juga: BCA Pastikan Likuiditas Valas Tetap Solid di Tengah Naiknya Tensi Geopolitik Global
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F.Haryn menyebutkan porsi terbesar pembiayaan BCA masih didominasi kredit dalam denominasi rupiah.
Dari sisi kualitas kredit, rasio loan at risk (LAR) BCA berada di level 4,8%, sementara rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) tercatat 1,7%.
“Pencadangan untuk NPL serta LAR juga memadai, masing-masing sebesar 183,8% dan 71,6%,” ujar Hera.
Hera menegaskan akan terus menjaga posisi permodalan dan likuiditas yang kuat guna mendukung pertumbuhan kredit yang berkelanjutan sekaligus tetap berkualitas. Selain itu, bank juga menerapkan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan likuiditas dan manajemen risiko.
Baca Juga: BCA Syariah Siapkan Produk Valas, Meluncur Tahun Ini!
Hal serupa juga disampaikan oleh PT Bank CIMB Niaga Tbk. Direktur Utama, Lani Darmawan mengatakan kualitas aset bank masih terjaga dengan rasio NPL sebesar 1,9%.
Menurutnya, portofolio kredit CIMB Niaga mayoritas masih didominasi oleh pembiayaan dalam rupiah sehingga eksposur terhadap risiko valas relatif terbatas.
“Mayoritas portofolio kredit kami didominasi oleh rupiah sehingga risiko terhadap eksposur valas tidak signifikan. Namun kami tetap memonitor lebih intensif dan meningkatkan komunikasi dengan nasabah terkait risiko valas,” ujarnya.
Baca Juga: Bank Swasta Atur Strategi Menghadapi Persaingan Bunga Deposito Valas
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













