kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.613.000   -9.000   -0,34%
  • USD/IDR 18.096   61,00   0,34%
  • IDX 6.131   -55,20   -0,89%
  • KOMPAS100 800   -7,14   -0,88%
  • LQ45 608   -4,53   -0,74%
  • ISSI 212   -1,96   -0,92%
  • IDX30 342   -2,78   -0,81%
  • IDXHIDIV20 423   -3,94   -0,92%
  • IDX80 91   -0,74   -0,80%
  • IDXV30 116   -0,67   -0,57%
  • IDXQ30 110   -0,83   -0,75%

BNI Siapkan Dana Buyback Rp 627 Miliar Saat Harga Anjlok, Begini Prospeknya ke Depan


Selasa, 28 Juli 2026 / 18:51 WIB
BNI Siapkan Dana Buyback Rp 627 Miliar Saat Harga Anjlok, Begini Prospeknya ke Depan
ILUSTRASI. Pergerakan Saham BBNI-Suasana pelayanan nasabah di Bank BNI Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) masih berada dalam tren pelemahan meski BBNI telah mengumumkan rencana pembelian kembali (buyback) saham senilai maksimal Rp 627 miliar.

Pada penutupan perdagangan Selasa (28/7/2026), saham BBNI turun 1,14% ke level Rp 3.480 per saham. Dalam sepekan terakhir, saham emiten bank pelat merah tersebut telah terkoreksi 3,87%, sementara secara year to date (YTD) telah melemah 20,37%.

BBNI berencana melakukan buyback saham dengan nilai maksimal Rp 627 miliar. Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), aksi korporasi tersebut akan dilaksanakan mulai 27 Juli hingga 26 Oktober 2026 dengan menggunakan kas internal.

Baca Juga: Ketidakpastian Global Mendorong Pelaku Usaha Perkuat Manajemen Risiko

Manajemen BNI menjelaskan, pelaksanaan buyback dilakukan mengacu pada POJK Nomor 13 Tahun 2023 dan Surat OJK Nomor S-10/D.04/2026 mengenai kebijakan pembelian kembali saham oleh perusahaan terbuka dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan.

BNI menyebut aksi tersebut bertujuan mengimbangi tekanan jual di pasar sekaligus meningkatkan nilai bagi pemegang saham.

BNI memastikan sumber pendanaan buyback sepenuhnya berasal dari kas internal, bukan dari hasil penawaran umum maupun pinjaman. Nilai buyback juga tidak melebihi 20% dari modal disetor perseroan.

Manajemen menegaskan aksi korporasi tersebut tidak akan mengganggu kondisi keuangan maupun kegiatan operasional perusahaan.

Dengan asumsi seluruh dana buyback sebesar Rp 627 miliar digunakan, total aset perseroan diperkirakan turun tipis menjadi Rp 1.364,74 triliun dari sebelumnya Rp 1.365,36 triliun. Ekuitas juga diperkirakan berkurang menjadi Rp 160,37 triliun dari Rp 160,99 triliun.

Meski demikian, laba bersih diproyeksikan tetap sebesar Rp 9,05 triliun. Bahkan, laba per saham (earnings per share/EPS) diperkirakan meningkat menjadi Rp 244 dari sebelumnya Rp 243. Sementara itu, return on equity (ROE) naik tipis menjadi 14,52% dari 14,51%, sedangkan capital adequacy ratio (CAR) diperkirakan turun tipis menjadi 18,07% dari 18,14%.

Menurut manajemen, perubahan tersebut tidak material terhadap kondisi keuangan perusahaan.

Baca Juga: Sempat Alami Gangguan Teknis, Layanan GoPay Kembali Normal

"BNI menilai langkah tersebut tidak akan memengaruhi kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban yang jatuh tempo maupun mengganggu likuiditas saham di Bursa Efek Indonesia," ujar manajemen BNI dalam keterbukaan informasi, dikutip Selasa (28/7).

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, rencana buyback tersebut merupakan sentimen positif bagi saham BBNI karena mencerminkan keyakinan manajemen terhadap fundamental perseroan sekaligus menunjukkan bahwa valuasi saham saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya (undervalued).

Menurut Nafan, aksi buyback juga berpotensi menopang harga saham melalui peningkatan permintaan di pasar serta berkurangnya jumlah saham beredar, sehingga dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan laba per saham atau EPS.

"Buyback menjadi sinyal bahwa manajemen melihat valuasi saham saat ini masih menarik. Langkah ini juga berpotensi mendukung harga saham sekaligus meningkatkan EPS," ujarnya kepada Kontan.

Selain itu, Nafan menilai prospek jangka panjang BBNI masih didukung oleh fundamental yang solid.

Ia melihat kondisi likuiditas dan struktur pendanaan BBNI masih sehat dengan dukungan dana murah (CASA), rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR), serta permodalan yang kuat. Hal tersebut memberikan ruang bagi perseroan untuk tetap menumbuhkan kredit tanpa harus menghadapi tekanan biaya dana (cost of fund) yang terlalu tinggi.

Baca Juga: Pergantian Pimpinan BI-OJK Picu Policy Uncertainty, Bank Siapkan Antisipasi

Menurut Nafan, strategi BBNI yang mengalihkan portofolio kredit ke korporasi berperingkat tinggi (blue chip) juga berpotensi meningkatkan kualitas aset di tengah ketidakpastian ekonomi.

Selain itu, jaringan kantor luar negeri BBNI yang merupakan yang terluas di antara bank nasional diperkirakan akan menjadi katalis pertumbuhan pendapatan berbasis komisi (fee-based income), terutama dari transaksi perdagangan internasional.

Nafan juga menilai keberadaan BBNI sebagai salah satu aset utama di bawah pengelolaan Danantara akan membuka peluang pembiayaan proyek-proyek strategis nasional, termasuk hilirisasi industri, sehingga dapat memperluas basis nasabah korporasi sekaligus meningkatkan kualitas aset.

Dari sisi valuasi, saham BBNI dinilai masih relatif murah. Price to Book Value (PBV) BBNI saat ini berada di kisaran 0,8 kali, lebih rendah dibandingkan sebagian besar bank jumbo lainnya.

Dengan berbagai katalis tersebut, Nafan mempertahankan rekomendasi accumulative buy untuk saham BBNI dengan target harga Rp 4.020 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×