Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan sektor perbankan belum mampu mengangkat seluruh saham bank, khususnya emiten yang tercatat di papan pengembangan.
Pada akhir perdagangan Jumat (21/8/2026) kemarin, IHSG ditutup menguat 3,55% dalam sepekan ke level 6.525,69. Sejalan dengan itu, sejumlah saham bank dalam papan pengembangan memang mencatatkan penguatan dalam sepekan. PT Bank IBK Indonesia (AGRS) misalnya, berada di level Rp 62 atau menguat 3,33% dalam sepekan.
PT Bank KB Indonesia Tbk (BBKP) juga naik 1,82% dalam sepekan ke level Rp 56, sementara PT Bank JTrust Indonesia Tbk (BCIC) menguat 1,56% menjadi Rp 130. PT Bank Kasikorn Indonesia Tbk (BMAS) naik 1,63% dalam sepekan ke Rp 500, pun PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) mencatatkan kenaikan 1,87% dalam sepekan menjadi Rp 545.
Di sisi lain, sejumlah saham masih tertahan. PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA) melemah 1,80% sepekan ke Rp 218 dan PT Bank Bumi Arta Tbk (BNBA) turun 0,68% dalam sepekan ke Rp 730.
Sementara itu, saham berharga Rp 50 seperti PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) dan PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk (PNBS) belum bergerak, sama halnya dengan PT Bank QNB Indonesia Tbk (BKSW) yang stagnan dalam sepekan di Rp 52.
Baca Juga: Saham Bank Kompak Menguat, Likuiditas Mulai Ketat, Ini Rekomendasi Maybank Sekuritas
Menurut Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya, penguatan IHSG memang tak serta-merta mengangkat seluruh saham bank. Rally di sektor perbankan cenderung selektif dan terkonsentrasi pada bank dengan fundamental lebih kuat, likuiditas saham yang baik, serta visibilitas pertumbuhan laba lebih tinggi.
"Investor masih mempertimbangkan kualitas aset, kemampuan menghasilkan laba secara konsisten, permodalan, pertumbuhan kredit, biaya dana, serta potensi aksi korporasi atau kebutuhan tambahan modal," ujar Andrey kepada Kontan. Minggu (23/8/2026).
Menurutnya, likuiditas perdagangan yang relatif rendah serta adanya overhang dari investor lama juga dapat membuat saham bank dalam papan pengembangan tertinggal meski sentimen pasar secara umum positif.
Namun begitu, pergerakan saham bank berharga rendah juga berpotensi menghadapi sentimen baru seiring wacana Bursa Efek Indonesia (BEI) menurunkan batas harga minimum saham dari Rp 50 menjadi Rp1.
Andrey menilai kebijakan tersebut dalam jangka pendek berpotensi meningkatkan price discovery dan likuiditas. Namun, pada saat yang sama, kebijakan tersebut juga menghilangkan persepsi bahwa Rp 50 merupakan batas bawah harga saham.
"Investor kemungkinan akan semakin selektif dan lebih fokus pada fundamental dibandingkan sekadar melihat rendahnya harga nominal saham," katanya.
Founder Republik Investor Hendra Wardana menyebut, saham dengan kapitalisasi dan likuiditas rendah memiliki risiko yang lebih besar karena pergerakan harga lebih mudah dipengaruhi oleh volume transaksi yang relatif kecil.
Karena itu, katalis yang dibutuhkan saham bank dalam papan pengembangan bukan hanya sentimen positif pasar, tetapi juga bukti konkret berupa pertumbuhan kredit yang sehat, peningkatan laba, perbaikan kualitas aset, efisiensi biaya serta potensi aksi korporasi.
Untuk ke depan, Hendra melihat ruang penguatan saham bank dalam papan pengembangan masih terbuka apabila IHSG mampu mempertahankan tren positif dan terjadi rotasi dana dari saham berkapitalisasi besar menuju saham lapis kedua dan ketiga.
Hendra menilai SUPA menjadi salah satu saham yang menarik dicermati karena memiliki cerita pertumbuhan dan ekspansi bisnis. Ia memberikan rekomendasi speculative buy dengan target harga Rp 625. Namun, ia bilang investor perlu mencermati kemampuan SUPA mempertahankan area support dan menembus resistance dengan dukungan volume transaksi.
"Karena valuasi SUPA relatif sudah mendapat premi dari ekspektasi pertumbuhan, investor perlu menghindari aksi mengejar harga ketika terjadi kenaikan terlalu cepat," ujar Hendra.
Sementara itu, Hendra bilang DNAR dapat di-speculative buy dengan target Rp 135. BVIC juga dapat dicermati dengan target Rp 102. Kedua saham tersebut, menurutnya, memiliki likuiditas yang relatif lebih terbatas sehingga disiplin terhadap level support menjadi penting.
Baca Juga: Saham Big Banks Bergerak Variatif, Sentimen Dana SAL Jadi Penopang
Di sisi lain, Andrey menilai ruang penguatan saham bank papan pengembangan tetap terbuka, tetapi sifatnya akan sangat stock-specific.
Katalis yang perlu dicermati antara lain perbaikan profitabilitas dan ROE, pertumbuhan kredit yang sehat, penurunan cost of credit, perbaikan kualitas aset, peningkatan CASA serta aksi korporasi yang dapat memperkuat modal maupun franchise bank.
"Untuk investasi, kami lebih menyarankan investor tidak menjadikan rendahnya harga nominal sebagai alasan utama membeli saham," kata Andrey.
Ia menambahkan, di kelompok bank kecil atau papan pengembangan, saham dengan fundamental yang membaik, pertumbuhan laba yang lebih terlihat serta valuasi yang masih reasonable lebih menarik dibandingkan saham yang hanya mengandalkan momentum spekulatif.
Secara sektor, RHB Sekuritas masih mempertahankan pandangan Overweight terhadap perbankan Indonesia, dengan preferensi pada bank yang memiliki fundamental dan earnings visibility lebih kuat.
Baca Juga: Kinerja Bank Besar Semester I 2026 Solid, Tiga Saham Bank Ini Jadi Pilihan Analis
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














