Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham-saham bank berkapitalisasi pasar jumbo atau big banks kompak terkoreksi dalam sepekan terakhir.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan saham bank besar di Indonesia tidak lagi semata-mata ditentukan oleh arus dana asing.
Investor domestik mulai berperan sebagai penahan tekanan, meski ketergantungan terhadap aliran modal asing masih menjadi risiko bagi pasar saham Indonesia.
Pada penutupan perdagangan Jumat (14/8/2026), saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 1,65% dalam sepekan ke Rp 4.170.
Baca Juga: NIM Perbankan Turun Jadi 4,34% pada Juni 2026, OJK Ungkap Penyebabnya
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah 0,39% menjadi Rp 6.350, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 0,32% ke Rp 3.120, sedangkan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) stagnan di Rp 3.630.
Menariknya, koreksi tersebut terjadi ketika investor asing masih mencatatkan pembelian bersih di sebagian besar saham bank besar. Asing mencatat net buy Rp 221,48 miliar di BBCA, Rp 306,45 miliar di BBRI, dan Rp 72,09 miliar di BBNI. Hanya BMRI yang mencatat aksi jual asing.
Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa arus dana asing bukan lagi satu-satunya faktor yang menentukan pergerakan saham big banks.
Investor domestik mulai memiliki daya pengaruh yang cukup besar, sehingga mampu membuat harga saham bergerak berbeda dari arah aliran dana asing. "Investor domestik kini cukup kuat menjadi shock absorber terhadap aksi asing," ujar Andrey.
Baca Juga: OJK Petakan Kredit Bank ke SPPG yang Operasionalnya Dihentikan
Menurut dia, karakter minat investor lokal juga berbeda di masing-masing bank. Pada BBCA, akumulasi lebih ditopang fundamental yang solid, kualitas aset yang terjaga, tingkat CASA yang tinggi, serta valuasi yang dinilai semakin menarik setelah koreksi.
Sementara itu, BBRI, BMRI, dan BBNI lebih menarik bagi investor domestik karena valuasinya relatif murah, menawarkan dividend yield yang menarik, serta memiliki peluang pemulihan pertumbuhan laba.
Saham-saham tersebut juga berpeluang mendapat tambahan aliran dana ketika risk appetite investor domestik membaik.
Meski demikian, kondisi ini sekaligus memperlihatkan salah satu risiko utama investasi di pasar saham Indonesia.
Kemampuan investor lokal menahan tekanan asing dapat membentuk price floor, tetapi belum cukup untuk menjamin terjadinya kenaikan harga yang kuat dan berkelanjutan.
Andrey menilai reli yang lebih besar tetap membutuhkan aliran dana asing. Dengan demikian, likuiditas domestik dapat menjadi penahan penurunan, sementara foreign inflow masih diperlukan sebagai katalis untuk mendorong rerating saham.
Pandangan serupa disampaikan Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta. Menurut dia, investor lokal semakin mampu menopang saham-saham blue chip dan berpotensi membawa pasar memasuki fase akumulasi.
Baca Juga: Transaksi BI-Fast di Perbankan Tumbuh Subur
Namun, kemampuan tersebut belum sepenuhnya menggantikan peran investor asing. "Lokal dapat menjadi floor, tetapi asing masih berpotensi menjadi accelerator," kata Nafan.
Dalam pandangannya, BBCA menjadi pilihan untuk akumulasi berbasis kualitas, BMRI menawarkan kombinasi pertumbuhan dan valuasi, BBNI memiliki peluang rerating valuasi, sedangkan BBRI merupakan saham pemulihan dengan tingkat volatilitas yang lebih tinggi.
Kondisi ini membuat prospek big banks tetap menarik, tetapi investor perlu mencermati dinamika arus modal.
Ketika dana asing kembali masuk, kenaikan harga saham berpeluang mendapat dorongan lebih kuat. Sebaliknya, jika tekanan asing membesar, kemampuan investor domestik menjadi penahan tetap memiliki batas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
