kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.545.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.109   16,00   0,09%
  • IDX 5.050   20,17   0,40%
  • KOMPAS100 649   1,43   0,22%
  • LQ45 518   4,63   0,90%
  • ISSI 164   -2,40   -1,44%
  • IDX30 292   2,74   0,95%
  • IDXHIDIV20 394   5,37   1,38%
  • IDX80 75   0,27   0,36%
  • IDXV30 108   0,37   0,34%
  • IDXQ30 99   1,18   1,21%

Sejumlah Emiten Multifinance Catatkan Pertumbuhan Laba per Kuartal III-2026


Minggu, 08 November 2026 / 22:00 WIB
Sejumlah Emiten Multifinance Catatkan Pertumbuhan Laba per Kuartal III-2026
ILUSTRASI. Pembiayaan Motor Listrik Adira Finance (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten multifinance berhasil mencatatkan pertumbuhan laba signifikan di tengah kinerja pembiayaan yang relatif terbatas. Misalnya saja, PT BFI Finance Indonesia Tbk atau BFI Finance (BFIN) dapat mencetak laba bersih sebesar Rp 1,31 triliun per kuartal III-2026, atau tumbuh sebesar 11,96% Year on Year (YoY).

Kinerja positif juga dialami PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance/WOMF) yang mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 66,42% YoY, dengan nilai mencapai Rp 172,18 miliar per kuartal III-2026. 

Senada, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance/ADMF) juga mengalami pertumbuhan laba bersih 55,04% YoY, dengan nilai Rp 1,69 triliun per kuartal III-2026. Adapun PT Maybank Indonesia Finance (BIIF) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 449,17 miliar per kuartal III-2026, atau tumbuh 33,7% YoY. 

Baca Juga: Bank BSN Perluas Pasar Bale Syariah ke Kampus

Kondisi sama juga dialami PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN) yang mengalami pertumbuhan laba bersih sebesar 13,26%, dengan nilai mencapai Rp 153,65 miliar per kuartal III-2026. 

Asal tahu saja, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan piutang pembiayaan industri multifinance hanya sebesar 2,21% YoY dengan nilai Rp 518,34 triliun per kuartal III-2026. Adapun Non Performing Financing (NPF) gross perusahaan pembiayaan per September 2026 sebesar 2,98%, atau membaik dibandingkan posisi pada bulan sebelumnya yang sebesar 3,04%.

Terkait hal itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai pertumbuhan laba emiten multifinance di tengah ekspansi pembiayaan yang relatif terbatas menunjukkan adanya perbaikan kualitas profitabilitas dan efektivitas pengelolaan bisnis. 

Dia menjelaskan salah satu faktor pendorongnya adalah strategi perusahaan yang makin selektif dalam menyalurkan pembiayaan, dengan mengutamakan kualitas debitur dan segmen konsumen yang memiliki profil risiko lebih baik. 

"Dengan demikian, perusahaan dapat menjaga kualitas aset, sekaligus menekan potensi pembentukan kredit bermasalah atau NPF," ujarnya kepada Kontan, Minggu (8/11/2026).

Selain itu, Nafan berpendapat optimalisasi biaya operasional, efisiensi pendanaan, serta pengelolaan biaya pencadangan kerugian penurunan nilai atau impairment turut menopang pertumbuhan laba. Dia bilang perusahaan multifinance juga mulai mengoptimalkan diversifikasi portofolio pembiayaan, termasuk pembiayaan multiguna dan segmen produktif. Dengan demikian, sumber pendapatan tidak hanya bergantung pada pembiayaan kendaraan bermotor. 

"Jadi, pertumbuhan laba yang solid saat ini tidak semata-mata ditentukan oleh ekspansi pembiayaan, tetapi juga kemampuan perusahaan menjaga margin, mengendalikan biaya, dan mempertahankan kualitas aset di tengah tekanan daya beli masyarakat," tuturnya.

Untuk kuartal IV-2026, Nafan melihat prospek laba emiten multifinance masih berpeluang tumbuh positif, meskipun kemungkinan pertumbuhannya akan lebih moderat dibandingkan periode sebelumnya. Dia bilang hal itu mempertimbangkan masih adanya tantangan berupa daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, tingkat suku bunga dan biaya pendanaan, serta risiko peningkatan pembiayaan bermasalah. 

Baca Juga: ACC Sebut Faktor yang Pengaruhi Perkembangan Kinerja Multifinance hingga Akhir 2026

Namun, Nafan menyebut momentum konsumsi pada akhir tahun, termasuk periode libur Natal dan Tahun Baru, berpotensi memberikan tambahan permintaan pembiayaan, khususnya kendaraan bermotor dan pembiayaan multiguna. Dia mengatakan emiten dengan struktur permodalan kuat, likuiditas memadai, biaya dana yang kompetitif, serta kualitas aset yang terjaga berpotensi mencatatkan kinerja lebih resilien. 

"Saya juga melihat BFIN, ADMF, CFIN, dan WOMF tetap memiliki peluang mempertahankan pertumbuhan profitabilitas apabila mampu menjaga keseimbangan antara ekspansi pembiayaan dan pengendalian risiko kredit," ungkapnya.

Untuk 2027, Nafan memproyeksikan prospek industri akan sangat bergantung pada pemulihan daya beli, stabilitas ekonomi domestik, dan arah kebijakan suku bunga. Nafan juga merekomendasikan akumulasi beli saham BFIN dengan target harga di level 1.025 per saham.

Sementara itu, Founder Stocknow.id Hendra Wardana mengatakan kinerja emiten multifinance per kuartal III-2026 menunjukkan bahwa pertumbuhan laba tidak selalu harus ditopang ekspansi pembiayaan yang agresif. Di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih dan pertumbuhan pembiayaan yang relatif terbatas, dia bilang sejumlah perusahaan seperti BFIN, ADMF, CFIN, dan WOMF justru mampu mencatatkan pertumbuhan laba dua digit. 

"Menurut saya, kondisi ini mencerminkan mulai bergesernya strategi industri multifinance dari sekadar mengejar volume pembiayaan menuju penguatan kualitas aset, efisiensi operasional, serta optimalisasi margin," ujarnya kepada Kontan, Minggu (8/11/2026).

Dalam situasi ekonomi yang penuh tantangan, Hendra berpendapat perusahaan yang mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan pengendalian risiko justru memiliki peluang menghasilkan profitabilitas yang lebih berkelanjutan.

Dia menjelaskan faktor utama yang mendorong pertumbuhan laba tersebut adalah kemampuan perusahaan menjaga kualitas pembiayaan, sekaligus mengoptimalkan pendapatan bunga dan margin pembiayaan. 

Baca Juga: Peluang Pertumbuhan Pembiayaan Multifinance Masih Terbuka hingga Akhir Tahun 2026

"Sejumlah multifinance juga diuntungkan oleh efisiensi biaya dana, pengelolaan beban operasional, serta kontribusi pendapatan nonpembiayaan," jelasnya.

Selain itu, Hendra mengatakan strategi seleksi debitur yang lebih ketat membuat perusahaan dapat mengurangi potensi pembiayaan bermasalah, meskipun konsekuensinya pertumbuhan penyaluran pembiayaan menjadi lebih moderat. Dia menyebut BFIN misalnya, memiliki keunggulan dari fokus pembiayaan produktif dan segmen usaha yang relatif terdiversifikasi, sedangkan ADMF ditopang ekosistem pembiayaan otomotif dan dukungan grup usaha yang kuat. 

Menurutnya, CFIN dan WOMF juga berpotensi memperoleh manfaat dari perbaikan efisiensi dan pengelolaan portofolio pembiayaan. Namun, dia bilang pertumbuhan laba tetap perlu dicermati secara lebih mendalam, terutama unsur yang berasal dari peningkatan pendapatan operasional berulang atau dipengaruhi faktor nonoperasional.

Memasuki kuartal IV-2026, Hendra melihat prospek industri multifinance masih cukup positif, meskipun ruang pertumbuhannya tidak akan terlalu lebar. Secara musiman, dia bilang akhir tahun biasanya menjadi periode yang lebih aktif bagi pembiayaan kendaraan dan kebutuhan konsumsi masyarakat. 

Momentum itu berpotensi mendorong peningkatan penyaluran pembiayaan, terutama apabila didukung oleh stabilitas suku bunga, perbaikan kepercayaan konsumen, serta strategi pemasaran yang lebih agresif. 

"Dengan demikian, laba multifinance hingga akhir tahun masih berpeluang tumbuh positif, bahkan berpotensi mempertahankan pertumbuhan dua digit bagi perusahaan dengan kualitas aset dan efisiensi yang baik," katanya.

Meski demikian, Hendra mengatakan proyeksi tersebut perlu mempertimbangkan risiko kenaikan kredit bermasalah, biaya pencadangan, tekanan daya beli, serta persaingan pembiayaan yang dapat menekan margin. Artinya, pertumbuhan laba yang sehat akan lebih ditentukan kualitas pembiayaan daripada sekadar besarnya ekspansi kredit.

Dari sisi investasi, Hendra mengatakan saham multifinance masih menarik untuk dicermati, karena memiliki karakter bisnis yang relatif defensif dan berpotensi memberikan pertumbuhan laba yang lebih stabil dibandingkan sejumlah sektor yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga komoditas. 

Namun, dia menilai pemilihan saham perlu dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan valuasi, kualitas aset, profitabilitas, serta kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan laba. 

Hendra mengatakan BFIN menjadi salah satu pilihan dengan rekomendasi speculative buy dan target harga Rp 850, didukung karakter bisnis pembiayaan produktif dan potensi penguatan profitabilitas. Dia juga menyebut ADMF terbilang menarik dengan rekomendasi speculative buy dan target harga Rp 8.000, terutama dukungan ekosistem pembiayaan otomotif dan potensi pemulihan permintaan kendaraan. 

Sementara itu, Hendra mengatakan CFIN dapat dicermati dengan rekomendasi speculative buy dan target harga Rp 350, dengan perhatian pada keberlanjutan pertumbuhan laba dan kualitas portofolio pembiayaannya.

Untuk WOMF, Hendra memberikan rekomendasi trading buy dengan target harga Rp 310, dengan mempertimbangkan peluang pemulihan kinerja dan potensi peningkatan aktivitas pembiayaan menjelang akhir tahun. 

"Namun, investor tetap perlu memperhatikan perkembangan kredit bermasalah, biaya pencadangan, serta kemampuan perusahaan menjaga margin di tengah persaingan industri," tuturnya.

Secara keseluruhan, Hendra menyebut sektor multifinance masih menawarkan peluang investasi, tetapi pendekatan yang tepat saat ini bukan membeli seluruh saham secara merata. Dia mengimbau investor sebaiknya lebih mengutamakan perusahaan yang mampu membuktikan pertumbuhan laba melalui kualitas aset yang terjaga, efisiensi yang konsisten, dan struktur pendanaan yang sehat. 

"Sebab, dalam industri pembiayaan, laba yang besar belum tentu berkualitas apabila dibangun di atas risiko kredit yang terus meningkat," ucap Hendra.

Baca Juga: BRI Finance Tak Bedakan Suku Bunga Kredit Kendaraan Konvensional dan Listrik

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×