Reporter: Ferry Saputra | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Multifinance akan lebih selektif menerbitkan surat utang di sisa tahun ini. Pefindo menyebut, penyebabnya lantaran kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) ke level 5,25% dan tren kenaikan yield obligasi.
Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin mengatakan emiten multifinance cenderung masuk pasar ketika memiliki kebutuhan pendanaan yang jelas, terutama untuk membiayai kembali surat utang jatuh tempo. Dia bilang kondisi tersebut sejalan dengan rendahnya pertumbuhan piutang pembiayaan yang sebesar 0,61% year on year (YoY) per Maret 2026.
"Ketika ekspansi pembiayaan berjalan lambat, kebutuhan dana untuk menambah modal kerja juga lebih terbatas. Dalam situasi yield yang lebih tinggi, emiten memiliki kecenderungan lebih besar untuk menunda penerbitan yang tidak mendesak," ucapnya kepada Kontan, Selasa (2/6/2026).
Baca Juga: Asuransi Jiwa Parkir Rp 248 Triliun di SBN, Porsinya Capai 43,4% dari Total Investasi
Oleh karena itu, ketika yield obligasi naik, Ahmad berpendapat perusahaan akan lebih selektif memilih tenor, timing, dan ukuran penerbitan. Selain itu, ketika suku bunga naik, dia bilang pinjaman bank juga akan menjadi lebih mahal.
"Pada poin itu, beberapa emiten biasanya akan memilih pasar surat utang karena bunganya lebih kompetitif meski sama-sama naik, terutama emiten dengan peringkat tinggi seperti AAA," tuturnya.
Di sisi lain, Ahmad menilai investor domestik biasanya juga akan selektif di tengah bisnis pembiayaan yang lesu. Dia mengatakan investor akan cenderung menyerap penerbitan dari emiten yang dinilai berkualitas, terutama yang memiliki peringkat tinggi dan rekam jejak akses pasar yang baik.
"Namun, kompensasi kupon yang diminta investor kemungkinan akan menjadi lebih tinggi seiring dengan iklim suku bunga yang meningkat," kata Ahmad.
Sebaliknya, Ahmad beranggapan refinancing sulit ditunda oleh multifinance, karena berkaitan langsung dengan manajemen likuiditas dan profil jatuh tempo. Dia menerangkan nilai surat utang multifinance yang jatuh tempo pada 2026 mencapai Rp 33,93 triliun. Adapun penerbitan per Mei 2026 baru mencapai Rp 12,93 triliun.
"Selisih tersebut menunjukkan masih adanya kebutuhan penerbitan lanjutan, terutama menjelang puncak jatuh tempo kuartal III-2026," tuturnya.
Lebih lanjut, Ahmad mengatakan secara struktur pendanaan, perusahaan multifinance juga tidak memiliki fleksibilitas yang sama seperti bank. Sebab, tidak menghimpun dana murah dari giro dan tabungan.
Baca Juga: Jumlah Tertanggung Asuransi Jiwa 118,28 Juta Orang pada Kuartal I-2026
Dengan demikian, dia menyebut sumber pendanaan multifinance lebih banyak berasal dari pinjaman perbankan, penerbitan surat utang, dan sumber pendanaan institusional lainnya.
Asal tahu saja, Pefindo mencatat, penerbitan surat utang multifinance mencapai Rp 12,93 triliun per Mei 2026. Nilai tersebut naik 19,3%, jika dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 10,84 triliun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













