Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah cenderung lesu jelang akhir tahun lalu, transaksi di pasar uang antar bank (PUAB) nampaknya kembali bergairah kini. Seiring peningkatan suku bunga, bagaimana minat perbankan bertransaksi di PUAB tahun ini?
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat terjadi peningkatan secara bulanan pada transaksi rata-rata harian di PUAB pada akhir Desember 2025, yakni sebesar Rp 2,42 triliun. Pada saat itu, suku bunga INDONIA tercatat dalam tren penurunan, bahkan mendekati batas bawah koridor kebijakan moneter.
LPS melihat perkembangan tersebut dipengaruhi oleh likuiditas perbankan yang relatif longgar, juga sebagai dampak dari kebijakan fiskal yang ekspansif dan moneter yang akomodatif.
Pada Januari 2026, INDONIA juga cenderung turun sejak pekan pertama hingga pekan ketiga. Sebagai gambaran, INDONIA ada di level 4% pada 2 Januari 2026 dan turun ke 3,68% pada 2 Januari 2026.
Baca Juga: INDONIA Gantikan JIBOR Mulai 2026, Ini Dampaknya ke Likuiditas Bank
Namun, pada pekan terakhir, trennya mulai naik. Terbaru, pada 2 Februari 2026 kemarin posisinya ada di 3,85%.
Meski begitu, Corporate Secretary Bank Syariah Indonesia (BSI), Wisnu Sunandar menyebut pergerakan suku bunga tak selalu menjadi faktor utama yang mempengaruhi transaksi antar bank.
Memang, Wisnu bilang, BSI sebagai pelaku pasar keuangan turut berkontribusi aktif terhadap implementasi alternatif pengembangan instrumen pasar keuangan. Menurutnya, pendalaman pasar dilakukan sesuai dengan arahan Bank Indonesia (BI).
Pun secara umum, Wisnu bilang transaksi BSI di pasar uang antar bank berbasis syariah (PUAS) kian meningkat, meski ia tak menyebutkan nominalnya. Transaksi tersebut dilakukan melalui berbagai instrumen, seperti Sertifikat Investasi Mudharabah Antar Bank (SIMA), Sertifikat Pengelolaan Dana Berdasarkan Prinsip Syariah Antar Bank (SIPA), Sukuk BI, dan Sukuk Valas BI.
Baca Juga: Risiko Likuiditas: Simpanan Melonjak, Bank Terancam Rugi Jika Salah Langkah
“Itu sejalan dengan kondisi likuiditas internal dan pasar, serta kebutuhan nasabah,” kata Wisnu kepada Kontan, Selasa (3/2/2026).
Agak berbeda, Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan mengaku tak melihat kenaikan berarti pada tren transaksi bank di PUAB. Menurutnya, itu sejalan dengan kecukupan likuiditas bank saat ini di tengah lesunya permintaan kredit.
“Animo kredit masih belum tinggi,” kata Lani.
Selain permintaan yang masih cenderung lesu, Lani sebelumnya juga bilang CIMB Niaga masih tetap selektif menyalurkan kredit. Itu lantaran bank melihat daya beli belum membaik di ujung tahun 2025 lalu. Pertumbuhan kredit bank pun hanya di kisaran 4,5% secara tahunan, dan diprediksi masih bakal ada di level itu pada akhir tahun 2026 nanti. Dengan kata lain, likuiditas CIMB Niaga masih berada di posisi yang relatif longgar.
Baca Juga: INDONIA Resmi Gantikan JIBOR, Suku Bunga Pasar Antar Bank Terpantau Turun
Selanjutnya: Provinsi Ini Dilanda Hujan Sangat Deras, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (4/2)
Menarik Dibaca: Provinsi Ini Dilanda Hujan Sangat Deras, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (4/2)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













