kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.598.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.761   68,00   0,38%
  • IDX 6.462   25,58   0,40%
  • KOMPAS100 852   2,28   0,27%
  • LQ45 648   1,42   0,22%
  • ISSI 224   1,27   0,57%
  • IDX30 360   1,29   0,36%
  • IDXHIDIV20 450   2,37   0,53%
  • IDX80 97   0,26   0,27%
  • IDXV30 124   0,43   0,35%
  • IDXQ30 116   0,50   0,43%

Sungai Kalimantan Surut, Risiko Asuransi Pengiriman Batubara Meningkat


Jumat, 18 September 2026 / 05:15 WIB
Sungai Kalimantan Surut, Risiko Asuransi Pengiriman Batubara Meningkat
ILUSTRASI. Tongkang membawa batubara (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Belva Safina | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan mulai berdampak pada aktivitas pengangkutan batubara melalui jalur sungai.

Penyurutan muka air di sejumlah sungai utama membuat kapasitas angkut tongkang berkurang dan meningkatkan risiko dalam bisnis asuransi marine cargo.

Direktur Utama PT Asuransi Asei Indonesia (Asei) Dody Dalimunthe mengatakan, kondisi tersebut terutama terjadi pada jalur Sungai Barito, Mahakam dan Kapuas yang menjadi bagian dari rantai logistik pengangkutan komoditas dari area tambang menuju pelabuhan atau mother vessel.

Baca Juga: Uang Pekerja Migran Makin Deras, Bisnis Remitansi Bank Makin Menjanjikan

“Penurunan muka air di Sungai Barito, Mahakam dan Kapuas menyebabkan tongkang tidak dapat beroperasi dengan kapasitas normal. Bahkan, pada beberapa titik, tongkang harus mengurangi muatan untuk menghindari risiko kandas,” ujar Dody kepada Kontan, Kamis (17/9/2026).

Menurut Dody, dampak surutnya muka air sungai terhadap asuransi marine cargo perlu dilihat dari dua sisi, yakni meningkatnya risiko terhadap barang serta terganggunya kelancaran logistik.

Dari sisi barang, perlambatan pengiriman membuat batubara berpotensi lebih lama berada di stockpile, tongkang, area labuh jangkar (anchorage) maupun titik alih muat (transshipment).

Baca Juga: Pinjol Ilegal Masih Bermunculan, OJK Ungkap 951 Entitas Dihentikan

Durasi penyimpanan dan pengangkutan yang lebih panjang dapat meningkatkan eksposur terhadap sejumlah risiko, seperti kerusakan, kontaminasi, wet damage, kehilangan hingga risiko operasional lainnya.

Namun, apakah kondisi tersebut dapat menjadi klaim tetap bergantung pada cakupan dan ketentuan dalam masing-masing polis.

Sementara dari sisi logistik, keterlambatan pengiriman, berkurangnya volume angkutan maupun kenaikan biaya logistik tidak secara otomatis menjadi risiko yang ditanggung asuransi.

“Dasarnya harus dilihat kembali merujuk pada perils insured, exclusions, warranty, dan ketentuan delay dalam masing-masing polis,” jelas Dody.

Baca Juga: SMBC Indonesia (BTPN) Bayar Bunga Obligasi Rp 23,99 Miliar, Simak Rinciannya

Dorong perubahan underwriting

Kondisi sungai yang semakin memengaruhi jalur distribusi komoditas juga membuat perusahaan asuransi perlu memperhitungkan faktor lingkungan dalam menilai risiko.

Dody mengatakan, Asei melakukan pendekatan preventive risk management dengan memantau wilayah dan jalur transportasi yang bergantung pada kondisi muka air sungai.

Dalam proses underwriting, perusahaan juga mempertimbangkan sejumlah faktor, mulai dari rute pengiriman, jenis komoditas, moda transportasi, kapasitas tongkang, titik transshipment hingga karakteristik risiko di masing-masing wilayah.

Baca Juga: Deposito Bank Swasta Susut di Era Suku Bunga Tinggi, Punya Himbara Masih Merekah

Pendekatan tersebut diperlukan agar penetapan harga premi serta syarat dan ketentuan polis dapat disesuaikan dengan profil risiko aktual.

Di sisi tertanggung, perusahaan asuransi juga mendorong adanya rencana kontingensi ketika kondisi sungai tidak memungkinkan pengangkutan berjalan normal.

Langkah mitigasi dapat berupa pengurangan draft atau volume muatan, penggunaan jalur alternatif, penyesuaian jadwal pengiriman hingga pengalihan sebagian volume ke moda transportasi darat apabila memungkinkan.

Koordinasi antara perusahaan asuransi, broker, tertanggung, surveyor dan reinsurer juga diperlukan untuk merespons perubahan kondisi lapangan dengan lebih cepat.

Menurut Dody, kondisi tersebut menunjukkan semakin pentingnya memperhitungkan risiko perubahan iklim dalam rantai logistik.

Baca Juga: Bjb Syariah (BJBS) Raih Rating idA+ dengan Prospek Stabil dari Pefindo

“Fenomena ini dilihat sebagai bagian dari meningkatnya risiko climate-related logistics disruption,” ujarnya.

Dengan meningkatnya gangguan logistik akibat faktor cuaca dan perubahan kondisi lingkungan, bisnis asuransi marine cargo dinilai perlu semakin mengandalkan pendekatan risk-based underwriting.

Penilaian risiko tidak cukup hanya berdasarkan nilai barang yang diangkut, tetapi juga kondisi jalur distribusi dan faktor yang dapat memengaruhi perjalanan komoditas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×