Reporter: Ferry Saputra | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketidakpastian kondisi jalur perlintasan di Selat Hormuz masih terjadi saat ini akibat memanasnya konflik di Timur Tengah. Mengenai hal itu, PT Asuransi Tokio Marine Indonesia (Tokio Marine Indonesia) menilai ketidakpastian di jalur pelayaran strategis, seperti Selat Hormuz, menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati.
Presiden Direktur Asuransi Tokio Marine Indonesia Sancoyo Setiabudi menerangkan ketidakpastian di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz dapat memengaruhi risiko pengiriman, kelancaran logistik, dan aktivitas perdagangan global. Namun, dia bilang dampaknya terhadap lini asuransi marine cargo akan sangat bergantung pada rute, jenis barang, tujuan pengiriman, dan profil risiko masing-masing pengiriman.
"Oleh karena itu, Tokio Marine Indonesia akan terus memantau perkembangan pasar dan menjaga pendekatan underwriting yang prudent agar portofolio tetap sehat dan terkendali," ujarnya kepada Kontan, Rabu (1/7).
Baca Juga: Pendapatan Premi Unitlink Prudential Indonesia Tumbuh 5% pada Kuartal I-2026
Menyikapi kondisi global saat ini, Sancoyo menyampaikan perusahaan akan fokus pada tiga hal utama, yaitu memantau perkembangan pasar, menjaga komunikasi aktif dengan mitra bisnis dan nasabah, serta menerapkan proses seleksi risiko secara prudent.
Untuk pengangkutan ke luar negeri, termasuk kawasan Timur Tengah, dia mengatakan Tokio Marine Indonesia tetap melihat peluang yang ada secara bertahap dan selektif, dengan mempertimbangkan kondisi geopolitik, jalur pelayaran, jenis komoditas, dan appetite risiko perusahaan.
"Prinsipnya, kami ingin tetap mendukung kebutuhan perlindungan nasabah, tetapi dengan pendekatan yang terukur dan bertanggung jawab," tuturnya.
Sejauh ini, Sancoyo menyebut kontribusi portofolio asuransi marine cargo Tokio Marine Indonesia mayoritas masih berasal dari segmen domestik. Untuk mendorong kinerja ke depannya, dia bilang pihaknya akan terus memperkuat kerja sama dengan mitra bisnis, meningkatkan layanan kepada nasabah, serta mengoptimalkan peluang dari pengiriman domestik maupun internasional yang memiliki profil risiko sehat.
Sebelumnya, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menyampaikan konflik geopolitik yang terjadi di Timur Tengah turut memberikan dampak signifikan terhadap lini asuransi marine cargo di industri asuransi umum.
Asal tahu saja, data AAUI mencatat, klaim asuransi marine cargo mengalami peningkatan sebesar 6,7% Year on Year (YoY), menjadi Rp 357 miliar per Maret 2026. Adapun premi asuransi marine cargo tercatat terkontraksi cukup dalam sebesar 12,6% YoY, menjadi Rp 1,49 triliun per Maret 2026.
Ketua Umum AAUI Budi Herawan menjelaskan dampak konflik Timur Tengah menyebabkan alur transportasi laut yang melalui Selat Hormuz terganggu. Hal itu juga dirasakan eksportir maupun importir yang berasal dari Indonesia. Alhasil, kondisi itu memengaruhi jumlah pengangkutan, sehingga berefek juga ke kinerja lini asuransi marine cargo.
"Jelas bahwa impor turun, sehingga memang asuransi marine cargo kena hit, khususnya yang sektor perminyakan dan pengangkutan bahan baku. Indonesia juga tidak bisa melakukan ekspor terhadap hasil-hasil produk yang ada ke luar negeri dan banyak yang menuju ke Timur Tengah juga," ujarnya dalam konferensi pers AAUI di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (17/6).
Jadi, Budi menyampaikan bukan hanya klaimnya saja yang meningkat, melainkan kecukupan premi yang didapatkan untuk lini asuransi marine cargo juga tak sebanding.
Baca Juga: BRI Hadirkan Promo Liburan dan Back to School, Belanja Kebutuhan Makin Hemat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














