kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Tren harga minyak naik, asuransi energi diprediksi masih berenergi


Selasa, 20 April 2021 / 13:25 WIB
ILUSTRASI. Karyawan melintas di depan banner asuransi di Kantor Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Jakarta./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo.


Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejak awal tahun 2021, tren harga minyak dunia mengalami kenaikan. Hal tersebut dinilai akan berdampak pada kinerja asuransi energi di tahun ini. 

Berdasarkan data AAUI, pendapatan premi asuransi energi onshore turun hingga 22,2% menjadi Rp 126 miliar sepanjang tahun 2020. Sebaliknya, asuransi energi offshore naik 15% sehingga menjadi Rp 1,5 triliun.

“Perbedaan tersebut dikarenakan biaya eksploitasi offshore lebih besar dibandingkan onshore,” ujar Direktur AAUI Dody Dalimunthe kepada Kontan.co.id.

Dody menyampaikan, tren kenaikan harga minyak akan memberi dampak yang cukup signifikan kepada kinerja asuransi energi di tahun ini. Ia bilang, kegiatan migas akan kembali tumbuh jika harga minyak mengalami kenaikan.

“Kegiatan eksploitasi migas adalah kegiatan yang high cost, sehingga pemasukan atau pendapatan dari migas yang dihasilkan nantinya harus dapat menutup semua biaya tersebut. Harga minyak berdampak kepada revenue,” ungkap Dody.

Baca Juga: Diversifikasi, Emiten Batubara Lirik Pembangkit Listrik Tenaga Surya Jumbo

Tak hanya itu, Dody juga menilai kenaikan premi asuransi energi di tahun ini juga bisa ditopang oleh kondisi perekonomian global yang mulai membaik serta rencana pencapaian di bidang infrastruktur yang tercantum dalam APBN 2021.

“Dengan adanya faktor tersebut namun harga minyak yang masih fluktuatif, jadi masih sulit memprediksi pertumbuhan asuransi energi di tahun 2021, kurang lebih 15%,” ungkap Dody.

Sebaliknya, salah satu pemain yang menawarkan asuransi energi, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) melihat asuransi energi masih tertekan di tahun ini. Pada tahun lalu, pendapatan premi Jasindo dari asuransi energi mencapai lebih dari Rp 600 miliar.

Direktur utama Jasindo Didit Mehta bilang tren kenaikan harga minyak dunia tidak berpengaruh pada kinerja asuransi energinya karena karena adanya penurunan premi reasuransi dari market reasuransi global. Ia mengatakan hal tersebut berpengaruh pada premi asuransi yang menurun dibandingkan tahun lalu.

“Perlu dicatat bahwa harga premi asuransi energi sangat dipengaruhi oleh harga reasuransi global,” jelas Didit.

Melihat hal tersebut, Didit menilai kinerja asuransi energi jasindo yang didominasi oleh sektor upstream kemungkinan akan tertekan mengikuti penurunan harga premi reasuransi global. Oleh karena itu, pihaknya hanya menargetkan pendapatan premi asuransi energi sebesar Rp 500 miliar.

“Strateginya adalah dengan melakukan maintain existing account di upstream market serta mengembangkan portofolio bisnis baru terutama pada bisnis downstream, mengingat Jasindo sudah optimal di pangsa pasar market upstream,” pungkas Didit.

Selanjutnya: Jasindo targetkan pendapatan premi tumbuh 12% sepanjang tahun 2021

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×