Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) masih mencetak performa solid di tengah gejolak ekonomi serta fase transformasi industri asuransi nasional. Pada kuartal I-2026, perusahaan ini membukukan pendapatan jasa asuransi Rp2,6 triliun atau tumbuh 5,96% secara tahunan. Sementara hasil jasa asuransi tumbuh 2,18% menjadi Rp 461 miliar.
TUGU menilai dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terhadap kinerja perusahaan relatif terbatas. Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko Tugu Insurance, Edi Yoga Prasetyo, mengatakan fluktuasi kurs memberikan dampak yang berimbang karena kenaikan premi berbasis dolar diikuti peningkatan klaim."Memang ada peningkatan dari sisi premi berbasis dolar, tetapi klaimnya juga ikut naik. Jadi secara keseluruhan pengaruhnya tidak terlalu signifikan," ujar Edi, belum lama ini.
Menurutnya, eksposur perusahaan terhadap dolar AS terutama berasal dari lini bisnis marine cargo dan sejumlah bisnis korporasi lainnya yang menggunakan mata uang tersebut. Meski premi meningkat seiring pelemahan rupiah, kenaikan klaim membuat dampak bersih terhadap kinerja perusahaan tetap terbatas.
Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas menilai TUGU sebagai salah satu perusahaan asuransi umum terdepan di Indonesia dari sisi pangsa pasar, profitabilitas, dan kualitas layanan. Untuk mendorong pertumbuhan, perseroan berfokus pada penguatan portofolio bisnis, optimalisasi bisnis inti, pengembangan segmen ritel dan syariah, percepatan transformasi digital, peningkatan hasil investasi, serta penguatan manajemen risiko.
Baca Juga: Tugu Insurance (TUGU) Cetak Laba Rp 265,6 Miliar di Tengah Gejolak Global
Mirae Asset menilai segmen ritel sebagai peluang pertumbuhan terbesar TUGU. Kontribusi premi ritel yang saat ini masih di bawah 10% ditargetkan meningkat menjadi dua digit dalam jangka panjang melalui pengembangan produk asuransi kendaraan bermotor, perjalanan, kesehatan, dan syariah, serta penguatan platform digital.
Di sisi industri, TUGU dinilai berada pada posisi yang diuntungkan oleh konsolidasi sektor asuransi seiring penerapan ketentuan modal minimum OJK pada 2026–2028. Dengan permodalan yang kuat, perseroan memiliki peluang memperluas pangsa pasar sekaligus mengakuisisi portofolio bisnis perusahaan asuransi yang lebih kecil.
Prospek tersebut turut didukung oleh kondisi makro yang kondusif. Pertumbuhan ekonomi, meningkatnya aktivitas sektor energi, dan naiknya kebutuhan perlindungan risiko diperkirakan akan mendorong permintaan asuransi, terutama pada proyek-proyek energi yang menjadi salah satu kekuatan utama TUGU.
Baca Juga: Jasindo Syariah Sebut Masih Ada Peluang Tingkatkan Ekuitas lewat Bisnis Organik
Fundamental TUGU tetap solid. Menurut Mirae Asset Sekuritas, sepanjang 2025 insurance service result naik menjadi Rp1 triliun, pendapatan investasi meningkat 61,1% menjadi Rp717 miliar, dan laba bersih yang diatribusikan kepada pemegang saham melonjak 77,1% menjadi Rp 711 miliar. “Kinerja ini ditopang oleh underwriting yang lebih baik, hasil investasi yang meningkat, serta efisiensi operasional,” tulis Mirae dalam risetnya.
Mirae Asset juga menilai implementasi PSAK 117 tidak mengubah kekuatan neraca TUGU. Perseroan tetap memiliki ekuitas konsolidasian di atas Rp10 triliun dan ekuitas induk lebih dari Rp5 triliun, sehingga memiliki permodalan yang kuat untuk ekspansi. Selain itu, TUGU dinilai memiliki prospek menarik berkat spesialisasi di sektor energi, dukungan Pertamina, RBC yang solid, dan potensi rerating.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














