Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) mendapat restu untuk membagikan dividen tunai senilai Rp 110,1 miliar atau setara Rp 6,11 per saham. Keputusan tersebut disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar Kamis (18/6/2026).
Harga saham AMAR ditutup turun 1,52% di Rp 195 per saham pada Kamis (18/6/2026). Jika menggunakan acuan harga tersebut maka yield dividen AMAR bisa mencapai 3,13%.
Izin tersebut didapat setelah AMAR berhasil mencatatkan kinerja yang positif. Pada kuartal I-2026, bank digital yang fokus pada segmen ritel dan UMKM ini membukukan laba bersih sebesar Rp 71,12 miliar, tertinggi sepanjang sejarah perusahaan. Laba ini tercatat tumbuh 5,37% secara tahunan dibanding periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 67,49 miliar.
Direktur Utama Amar Bank Vishal Tulsian mengatakan pertumbuhan laba ditopang oleh ekspansi kredit yang tumbuh jauh di atas rata-rata industri perbankan nasional.
Baca Juga: BI Optimistis Kredit Perbankan Tumbuh Dua Digit pada Tahun 2026
Hingga Maret 2026, kredit bruto Amar Bank melonjak 30,62% secara tahunan menjadi Rp 4,16 triliun. Kenaikan penyaluran kredit tersebut turut mendorong total aset perseroan tumbuh 34,72% secara year on year (yoy) menjadi Rp 6,93 triliun.
“Pertumbuhan kredit kami yang berhasil melampaui rata-rata industri menunjukkan besarnya kepercayaan masyarakat terhadap solusi keuangan digital yang kami hadirkan,” ujar Vishal di Jakarta, Kamis (18/6).
Kinerja intermediasi yang kuat juga berdampak pada pertumbuhan pendapatan. Amar Bank mencatat pendapatan operasional naik 13,82% yoy menjadi Rp 527,76 miliar.
Sementara itu, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) meningkat 15,58% yoy menjadi Rp 370,20 miliar.
Di tengah ekspansi kredit yang agresif, kualitas aset perseroan justru menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah alias non-performing loan (NPL) net turun menjadi 0,86% per Maret 2026, lebih rendah dibandingkan posisi 1,48% pada periode yang sama tahun lalu.
Amar Bank menilai penurunan NPL tersebut mencerminkan efektivitas pengelolaan risiko dan kualitas proses analisis kredit yang semakin baik.
Baca Juga: DBS Indonesia Sebut Persaingan Bisnis Wealth Management di Indonesia Makin Ketat
Dari sisi pendanaan, perusahaan ini juga mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang sangat tinggi. Hingga kuartal I-2026, DPK melonjak 115,46% yoy yang turut membantu menekan biaya dana (cost of fund).
Senior Vice President Finance Amar Bank David Wirawan mengatakan posisi permodalan bank juga tetap sangat kuat. Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) tercatat mencapai 99,17%.
“Lonjakan DPK berhasil mengoptimalkan biaya dana kami. Ke depan, fokus kami adalah menjaga pertumbuhan laba yang sehat dan konsisten untuk mendukung pembagian dividen yang berkelanjutan,” kata David.
Hingga kuartal I-2026, platform pinjaman digital Tunaiku telah menyalurkan pembiayaan kumulatif lebih dari Rp 19 triliun sejak beroperasi pada 2014 dan menjangkau lebih dari 500.000 pelaku UMKM di seluruh Indonesia.
Perseroan juga terus mengembangkan layanan embedded banking melalui kemitraan business-to-business-to-consumer (B2B2C). Salah satu kolaborasi yang telah berjalan adalah dengan aplikasi MyMRTJ.
Baca Juga: DBS Indonesia Sebut Persaingan Bisnis Wealth Management di Indonesia Makin Ketat
Direktur Teknologi Informasi dan Operasional Amar Bank Kevin Kane mengatakan strategi tersebut menjadi salah satu motor akuisisi nasabah baru.
“Solusi embedded banking telah mendatangkan hingga 10.000 nasabah baru dengan tingkat pengguna aktif mencapai 41,09%,” ujarnya.
Ke depan, Amar Bank akan fokus memperkuat pertumbuhan melalui inovasi teknologi, pengembangan layanan embedded banking, serta memperluas penetrasi ke sektor-sektor potensial termasuk industri kreatif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













