Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek laba bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menghadapi tekanan baru.
Selain margin bunga bersih (NIM) yang cenderung menyempit, bank pelat merah berpotensi kembali menambah pencadangan jika penundaan pembayaran utang proyek BUMN Karya diperpanjang.
Sumber KONTAN menyebut, Danantara telah mengingatkan bank Himbara mengenai kemungkinan perpanjangan penundaan pembayaran utang proyek infrastruktur yang dikerjakan BUMN Karya.
Kondisi keuangan BUMN Karya yang belum sepenuhnya pulih menjadi salah satu pertimbangannya.
Baca Juga: Restrukturisasi Utang BUMN Karya Berpotensi Tekan Laba Himbara
Jika terjadi, penundaan pembayaran tersebut akan memasuki tahun keempat. Kondisi ini berpotensi membuat Himbara harus membentuk pencadangan hingga 100% atas kredit-kredit yang terdampak.
Direktur Corporate Banking Bank Tabungan Negara (BTN) Helmy Afrisa Nugroho mengatakan, eksposur pembiayaan BTN ke BUMN Karya relatif kecil, yakni 0,97% dari total kredit korporasi per semester I-2026.
"BTN tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian," ujar Helmy, Senin (8/8/2026).
Menurut Helmy, pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) ditentukan berdasarkan kualitas kredit, kondisi dan kemampuan bayar debitur, prospek proyek, agunan, estimasi arus kas, serta expected credit loss.
Baca Juga: Kinerja Emiten BUMN Karya Masih Merana
Jika penundaan pembayaran diperpanjang, BTN akan melakukan kajian restrukturisasi secara menyeluruh. Langkah tersebut ditujukan untuk memperbaiki kemampuan bayar debitur, bukan sekadar menunda kewajiban.
Bila diperlukan, BTN juga dapat meminta tambahan agunan maupun dukungan dari pemegang saham dan pihak terkait.
Dukungan pemerintah terhadap keberlanjutan proyek strategis dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan BUMN Karya sekaligus mendukung keberhasilan restrukturisasi.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Adhika Vista mengatakan, perseroan akan berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan terkait usulan perpanjangan pembayaran kewajiban tersebut.
Bank Mandiri akan melakukan penilaian secara menyeluruh dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing debitur dan ketentuan yang berlaku.
Per Juni 2026, portofolio kredit Bank Mandiri kepada BUMN mencapai Rp 489 triliun, tumbuh 41,6% secara tahunan. Kredit tersebut mencakup pembiayaan proyek strategis, infrastruktur, energi, pertahanan, hingga layanan publik.
Baca Juga: Cek Proyeksi Dividen Bank Himbara, Perlambatan Pertumbuhan Kinerja Membayangi
Meski demikian, kualitas aset Bank Mandiri hingga Juni 2026 masih terjaga. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) bank only sebesar 0,98% dengan NPL coverage ratio mencapai 242%.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menilai, perpanjangan pembayaran utang memang dapat memberi ruang bagi BUMN Karya dalam jangka pendek.
Namun, bagi Himbara, risiko kredit pada dasarnya hanya bergeser ke masa depan.
Jika kemampuan bayar debitur tidak membaik secara fundamental, kualitas kredit berpotensi memburuk. Dampaknya, kebutuhan CKPN meningkat dan pada akhirnya dapat menekan laba serta permodalan bank.
Baca Juga: Bank Himbara Kebut Dukungan ke Program Prioritas, dari MBG hingga Kopdes Merah Putih
"Restrukturisasi jangan sampai sekadar menunda pengakuan risiko kredit yang sudah memburuk," kata Rizal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
