Reporter: Ferry Saputra | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mengungkapkan, peluang pertumbuhan lini asuransi engineering atau rekayasa masih terbuka hingga akhir 2026. Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengatakan, peluang itu didukung sejumlah faktor.
Salah satu sumbernya adalah investasi swasta dan proyek di sektor hilirisasi, industri pengolahan, energi, kawasan industri, pusat data, transportasi, serta infrastruktur pendukung lainnya.
"Pertumbuhan investasi menunjukkan masih terdapat pipeline aset dan proyek yang berpotensi membutuhkan perlindungan engineering," ujarnya kepada Kontan, Senin (21/9/2026).
Baca Juga: Bunga Kredit Perbankan Menanti Arah Kebijakan Suku Bunga BI
Namun, Budi menyampaikan peluang tersebut perlu diikuti dengan pendekatan yang fleksibel sesuai dengan jenis proyek, tahap pembangunan, nilai pertanggungan, karakteristik risiko, serta kebutuhan perlindungan masing-masing tertanggung.
Dia bilang asuransi engineering tidak hanya mencakup pembangunan gedung atau proyek pemerintah, tetapi juga construction all risks, erection all risks, machinery breakdown, perlindungan peralatan elektronik, serta berbagai risiko teknis lainnya.
"Oleh karena itu, peluang pertumbuhannya juga mengikuti ekspansi sektor manufaktur, pertambangan, energi, teknologi, dan industri," tuturnya.
Dari sisi industri, Budi menyebut perusahaan asuransi umum perlu lebih aktif masuk sejak tahap awal proyek dengan bekerja sama dengan pemilik proyek, kontraktor, perbankan, dan broker.
Dia menerangkan, kebutuhan perlindungan perlu dirancang sesuai dengan tahapan proyek, profil risiko, nilai aset, kontrak kerja, serta kebutuhan masing-masing pihak.
Pada saat yang sama, industri juga perlu menjaga kapasitas underwriting dan reasuransi, memperkuat survei risiko engineering dan upaya pencegahan kerugian, serta menerapkan proses klaim yang proporsional sesuai dengan jenis polis dan karakteristik kerugian.
Baca Juga: Ini Kata AAUI Soal Putusan MK Pasal 304 KUHD Mengenai Klaim di Polis Asuransi
Budi bilang, orientasinya bukan hanya mengejar pertumbuhan premi, melainkan industri perlu memastikan pertumbuhan tersebut tetap didukung oleh underwriting yang prudent, penilaian risiko yang memadai, kapasitas reasuransi yang sesuai, serta fleksibilitas produk dan layanan berdasarkan kebutuhan proyek dan tertanggung.
Dengan masih kuatnya investasi nasional, Budi melihat terdapat ruang bagi lini engineering untuk memperbaiki kinerja pada semester II-2026. Namun, dia memperkirakan pertumbuhannya akan sangat ditentukan realisasi dan dimulainya proyek, kesesuaian perlindungan dengan karakteristik masing-masing risiko, serta seberapa cepat pipeline investasi tersebut berubah menjadi risiko yang benar-benar diasuransikan.
Asal tahu saja, data AAUI mencatat, premi lini asuransi engineering atau rekayasa terkontraksi 14,1% secara tahunan atau Year on Year (YoY), menjadi sebesar Rp 2,37 triliun pada semester I-2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














