Reporter: Ferry Saputra | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Inflasi medis yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, turut menekan kinerja asuransi kesehatan di industri asuransi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahkan, memperkirakan fenomena inflasi medis masih menjadi salah satu tantangan utama bagi industri asuransi kesehatan pada tahun ini.
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menyebut tekanan inflasi medis biasanya paling berpengaruh terhadap lini asuransi kesehatan segmen individu.
"Secara teknis, segmen individu biasanya menjadi area yang lebih sensitif terhadap tekanan inflasi medis," ungkap Ketua Umum AAUI, Budi Herawan kepada Kontan, Rabu (1/4/2026).
Budi mengatakan secara karakteristik, polis individu biasanya lebih rentan terhadap utilisasi tinggi, anti selection, dan penyesuaian premi yang tidak selalu sefleksibel polis kumpulan.
Baca Juga: AAUI Sebut Inflasi Medis Masih Jadi Tantangan Industri Asuransi Kesehatan Tahun Ini
Dia menerangkan pada polis kumpulan, penyebaran risiko biasanya lebih besar, pengalaman klaim lebih mudah dievaluasi secara periodik, dan struktur manfaat maupun tarif relatif lebih mudah ditinjau kembali saat perpanjangan polis.
Meski demikian, untuk industri asuransi umum, Budi mengatakan publikasi data agregat yang tersedia umumnya lebih menampilkan kinerja lini kesehatan secara total dan belum selalu memisahkan rasio klaim kesehatan secara rinci antara individu dan kumpulan.
Lebih lanjut, Budi memperkirakan inflasi medis masih akan menjadi salah satu tantangan utama bagi industri asuransi pada tahun ini, termasuk bagi perusahaan asuransi umum yang memiliki portofolio asuransi kesehatan.
Asal tahu saja, data AAUI mencatat, rasio klaim di lini asuransi kesehatan meningkat dari 58,2% pada 2024, menjadi sebesar 67,3% pada 2025.
Baca Juga: Kinerja Asuransi Kesehatan Awal 2026 Masih Terkendali Meski Inflasi Medis Tinggi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













