kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Agen Laku Pandai jadi senjata perbankan melawan fintech


Jumat, 15 Maret 2019 / 19:43 WIB

Agen Laku Pandai jadi senjata perbankan melawan fintech


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri perbankan kian mengandalkan keagenan sebagai ujung tombak layanan keuangan tanpa kantor (Laku Pandai) untuk bersaing dengan fintech. Langkah ini merupakan salah satu upaya perbankan untuk dapat menjangkau nasabah di seluruh wilayah bahkan terpencil sekalipun.

Ambil contoh, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang mencatatkan sampai dengan akhir tahun 2018 lalu pihaknya memiliki setidaknya 401.550 agen Laku Pandai bertajuk BRILink di seluruh tanah air. Dari jumlah tersebut, tercatat sudah ada 378,7 juta transaksi yang dihasilkan dengan total volume menembus Rp 512,7 triliun.


Bukan cuma dari segi transaksi, total dana murah yang dihasilkan dari BRILink juga cukup besar mencapai Rp 5 triliun. Hasilnya, fee based income yang diperoleh perseroan tahun lalu mencapai Rp 448,8 miliar hanya dari transaksi agen Laku Pandai.

Meski ada gempuran dari perusahaan teknologi finansial (tekfin/fintech), Sekretaris Perusahaan BRI Bambang Tri Baroto menyebut hal ini tidak menganggu bisnis agen BRILink. "Karena konsepnya sama, menggunakan perkembangan teknologi karena brancless banking atau menggunakan software dalam kegiatan bisnis," tuturnya kepada Kontan.co.id, Kamis (14/3).

Layanan yang ditawarkan juga tak kalah dengan tekfin, semisal simpanan atau tabungan, transfer dana, dan pembayaran yang ditawarkan ke masyarakat terpencil, terluar dan terdepan yang tidak familiar dengan aplikasi mobile banking.

"Ke depan BRI juga akan lebih mendorong agen BRILink menjadi community banking bagi masyarakat sekitar," terangnya. Selain memperluas layanan di pedesaan, BRI juga ikut berperan aktif memberikan pelatihan kepada agen BRILink sebagai strategi peningkatan kinerja.

Tak kalah, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)juga memiliki agen Laku Pandai yang sampai Februari 2019 jumlahnya mencapai 65 ribu agen yang terdiri dari perorangan dan badan hukum.

Group Head Micro Development and Agent Banking Bank Mandiri Zedo Faly menjelaskan agen tersebut kini difokuskan untuk meningkatkan jumlah transaksi, rekening dan nasabah yang dilayani oleh masing-masing agen.

"Penggunaan alat transaksi tidak saja menggunakan EDC tapi juga berbasis website dan USSD, baik yang dapat diakses melalui handphone maupun PC di agen," terangnya. Pun, Zedo tak merasa model bisnis ini terganggu dengan kehadiran tekfin. Sebab, potensi pasar layanan agen di Indonesia masih sangat besar.

Dari 65 ribu agen tersebut, per Februari 2019 Bank Mandiri sudah mencatatkan dana kelolaan dari saldo agen mencapai Rp 200 miliar. Ke depan, bank berlogo pita emas ini bakal melakukan ekstensifikasi lewat penambahan jumlah agen serta kolaborasi dengan pihak-pihak atau badan-badan usaha yang sudah memiliki jaringan distribusi.

"Strategi lain intensifikasi, melalui program kampanye, marketing dan aktivasi layanan keagenan dari Bank Mandiri," tuturnya.


Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang
Editor: Tendi

Video Pilihan


Close [X]
×