Reporter: Ferry Saputra | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menyebut sebagian pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tengah menghadapi tantangan yang turut memengaruhi kemampuan mereka dalam memenuhi kewajiban pembayaran secara tepat waktu.
Dalam mengantisipasi hal itu, fintech lending PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) melakukan beberapa upaya mitigasi risiko terhadap UMKM, yakni melalui diversifikasi sektor pembiayaan dan pemanfaatan teknologi.
Dalam mengelola portofolio, VP Public Relations Amartha Harumi Supit mengatakan pihaknya mengandalkan teknologi yang juga menjadi faktor kunci Amartha sejauh ini.
Baca Juga: Amartha Sebut Penguatan Modal Jadi Fondasi Keberlanjutan Industri Fintech Lending
Dengan demikian, Amartha mampu melayani lebih dari 4 juta pelaku usaha ultra mikro perempuan di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, serta Bali dan Nusa Tenggara.
"Amartha fokus untuk menjaga kualitas portofolio melalui proses seleksi yang ketat, dengan pemanfaatan teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI) yang disertai monitoring dan pendampingan bagi mitra UMKM kami," ungkapnya kepada Kontan, Minggu (13/9).
Secara khusus, Harumi bilang digitalisasi dan teknologi AI dimanfaatkan untuk memperkuat pengelolaan risiko, termasuk credit scoring, meningkatkan kualitas layanan, serta menunjang kegiatan operasional.
Dia bilang pihaknya akan terus menjaga likuiditas dan kualitas portofolio melalui pengelolaan risiko yang cermat dan penerapan tata kelola yang ketat.
Lebih lanjut, Harumi menerangkan sejak awal berdiri pada 2010, fokus bisnis Amartha tetap sama, yaitu memberdayakan pelaku usaha perempuan ultramikro di perdesaan melalui pendanaan modal kerja, disertai pendampingan dan akses terhadap layanan keuangan digital.
Baca Juga: Fintech Amartha Terapkan Strategi Ini Jaga Kualitas Portofolio Pembiayaan
Dia mengatakan permintaan pembiayaan berasal dari sektor yang beragam, dengan sebagian besar mitra bergerak di sektor perdagangan, seperti usaha warung. Sektor lainnya, seperti pertanian dan kerajinan juga terus berkembang sejauh ini.
"Diversifikasi itu menjadikan portofolio pembiayaan Amartha menarik," kata Harumi.
Secara kumulatif, Amartha telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 47 triliun sejauh ini, dengan tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 sebesar 4,84% per 12 September 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














