Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Muamalat Indonesia Tbk tetap melanjutkan ekspansi bisnis pada kuartal III-2026 meski perekonomian masih dibayangi ketidakpastian global, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga tekanan terhadap daya beli masyarakat. Bank ini memilih mengedepankan strategi pertumbuhan yang selektif dan berkelanjutan.
Direktur Utama Bank Muamalat Imam Teguh Saptono mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 diperkirakan masih berada di jalur positif, meski berlangsung dalam suasana yang penuh kehati-hatian.
Menurutnya, tekanan utama berasal dari meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, perang dagang, serta volatilitas pasar keuangan internasional.
Baca Juga: BCA Syariah Optimistis Ekspansi di Tengah Tantangan Ekonomi Global, Ini Strateginya
Imam menilai pelemahan rupiah belakangan ini lebih dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan fundamental ekonomi domestik.
"Ketika investor global mencari aset safe haven, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menjadi sulit dihindari. Namun selama pelemahannya masih terkendali dan tidak memicu capital flight yang signifikan, dampaknya terhadap perekonomian nasional masih dapat dikelola," ujar Imam kepada Kontan.
Menurutnya, dampak pelemahan rupiah terhadap Bank Muamalat relatif terbatas karena model bisnis perseroan lebih berfokus pada pembiayaan sektor riil di dalam negeri.
Meski demikian, pelemahan nilai tukar tetap berpotensi meningkatkan biaya impor, menekan margin usaha sebagian nasabah, serta memperlambat investasi.
Di sisi lain, kenaikan harga Pertamax juga dinilai perlu diwaspadai karena berpotensi memicu kenaikan biaya transportasi, logistik, dan harga barang.
"Kenaikan harga Pertamax memang tidak sebesar dampak kenaikan BBM bersubsidi, tetapi tetap berpotensi mengurangi ruang konsumsi kelompok menengah yang selama ini menjadi motor pertumbuhan ekonomi," katanya.
Meski menghadapi berbagai tantangan tersebut, Imam menilai Indonesia masih memiliki ketahanan ekonomi yang cukup kuat berkat besarnya konsumsi domestik, stabilitas sektor perbankan, serta inflasi yang relatif lebih rendah dibandingkan banyak negara lain.
Dari sisi fiskal, Imam menilai kebijakan belanja pemerintah masih menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi. Program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), penguatan koperasi, dukungan terhadap UMKM, hingga stimulus sektor riil dinilai mampu menciptakan efek berganda terhadap konsumsi dan penciptaan lapangan kerja.
Baca Juga: Bank Ramai-Ramai Susun Strategi Penuhi Free Float 15% Jelang Tenggat BEI
Namun, ia mengingatkan ruang fiskal pemerintah mulai menghadapi tantangan seiring perlambatan ekonomi global dan tingginya kebutuhan belanja negara.
"Ke depan, dukungan fiskal masih akan ada, tetapi dengan intensitas yang lebih moderat. Efektivitas program, ketepatan sasaran, dan disiplin fiskal akan menjadi faktor yang jauh lebih penting dibandingkan besarnya anggaran yang dibelanjakan," ujarnya.
Imam juga memperkirakan daya beli masyarakat akan membaik secara bertahap, meski belum sepenuhnya pulih. Menurutnya, kelompok masyarakat berpendapatan menengah masih menghadapi tekanan akibat meningkatnya biaya hidup, cicilan, pendidikan, dan kebutuhan rumah tangga.
Program bantuan pemerintah dan berbagai stimulus ekonomi dinilai dapat menjadi penyeimbang sehingga konsumsi rumah tangga tetap tumbuh meski tidak secepat sebelumnya.
Sementara itu, dari sisi global, Imam menilai risiko ekonomi dunia masih cukup tinggi. Konflik geopolitik di Timur Tengah, persaingan Amerika Serikat dan China, serta meningkatnya fragmentasi ekonomi global diperkirakan masih akan menjadi tantangan bagi dunia usaha.
Meski demikian, ia melihat mulai meredanya tekanan inflasi global membuka peluang bagi sejumlah bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneternya secara bertahap.
"Dalam kondisi seperti ini, negara yang memiliki pasar domestik besar dan fondasi ekonomi yang kuat akan relatif lebih mampu bertahan. Peluang bisnis tetap ada, tetapi perusahaan harus lebih adaptif, efisien, dan resilien," katanya.
Terkait kondisi politik domestik, Imam menilai stabilitas institusi dan kepastian arah kebijakan menjadi faktor yang lebih penting dibandingkan dinamika politik itu sendiri.
Baca Juga: DPLK Sinarmas AM Beberkan Tantangan yang Dihadapi Dalam Proses Pendirian
Menurutnya, berbagai perdebatan mengenai kebijakan pemerintah merupakan bagian dari proses demokrasi. Namun pelaku usaha tetap membutuhkan kepastian regulasi agar dapat melakukan ekspansi dengan lebih percaya diri.
"Investor pada umumnya lebih sensitif terhadap kepastian kebijakan dibandingkan perbedaan pandangan politik. Saat muncul ketidakpastian, sebagian pelaku usaha cenderung mengambil posisi wait and see," ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, Bank Muamalat memastikan tetap menjalankan ekspansi bisnis pada semester II-2026 dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Bank ini akan memprioritaskan pembiayaan pada sektor-sektor yang dinilai memiliki daya tahan tinggi, seperti ekosistem haji dan umrah, ritel, komunitas, UMKM, serta layanan keuangan syariah berbasis kebutuhan masyarakat.
"Kami tetap melanjutkan ekspansi, tetapi dengan pendekatan yang lebih selektif, terukur, dan berbasis manajemen risiko yang kuat. Fokus kami bukan mengejar pertumbuhan semata, melainkan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














