kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45950,77   -8,99   -0.94%
  • EMAS944.000 -0,11%
  • RD.SAHAM 0.64%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Bank digital Kakaobank, membangun ekosistem loyal, menghindari jadi gorengan


Senin, 06 Desember 2021 / 22:03 WIB
Bank digital Kakaobank, membangun ekosistem loyal, menghindari jadi gorengan
ILUSTRASI. The Kakao Bank app is seen on a mobile phone screen displayed in front of the South Korean digital lender's logo in this illustration picture taken August 6, 2021. REUTERS/Florence Lo/Illustration

Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Bank digital terus menjadi pembicaraan. Di Indonesia, meski dari sisi fundamental dipertanyakan, saham bank digital terus meningkat. 

Dari para pemain bank digital acap menyebut Nubank dan Kakaobank sebagai inspirasi atau role model mereka. Tapi apakah bank digital Indonesia meniru langkah mereka? Sabtu (4/12) Kontan.co.id telah mengupas mengenai seluk beluk Nubank. Dan sekarang mari kita coba kuliti bank digital lain yang juga naik daun: KakaoBank. 

Bank ini berawal dari  Kakao Talk yang dirilis pertama kali pada 18 Maret 2010. Dan kini menjadi layanan pesan singkat terpopuler di Korera Sealatan dengan 46  juta pengguna aktif atau 90% dari jumlah penduduk.

Setelah membangun basis pengguna yang loyal dan  membentuk ekosistem loyal, Kakao baru berani meluncurkan e-wallet dan bank digital tahun 2017. Ya, perjalanan panjang setelah tujuh tahun membangun basis ekosistem. 

Kakao menjalin aliansi dengan Ant Group. Dari kolaborasi ini, pengguna Alipay  milik Ant, dan Kakao Pay bisa saling silang memanfaatkan layanan. Tencent ikut menjadi pemegang saham  Kakao. 

Cerita serupa terjadi di Line Bank. Line Corporation mendirikan aplikasi percakapan Line pada 23 Juni 2011 setelah terjadinya gempa bumi di Jepang. Line berkembang pesat.  Mei 2013, penggunanya menembus angka 150 juta. Dan kini di seluruh dunia, total pengguna sudah lenbih dari 200 juta. 

Line sendiri baru berani meluncurkan LineBank di Thailand pada tahun 2020. Atau sembilan tahun setelah kemunculan Line chat. Pertimbangannya sama seperti Kakao, menciptakan basis ekosisitem. Pola Line adalah menggandeng bank lokal sebagai mitra. 

Setelah Thailand, setahun kemudian  Line Bank berdiri di Taiwan. Sementara di Indonesia baru terealisasi pada Juni 2021, dengan menggandeng Hana Bank. Jejak pendirian itu berdasarkan jumlah pengguna terbesar Line:  Jepang, Taiwan, Thailand dan Indonesia.

Guru Besar Keuangan Universitas Indonesia, Budi Frensidy sepakat, ekosistem kuat adalah kunci bank digital. Jika tidak, "Cuma ikut-ikutan supaya dapat valuasi tinggi alias ikut gorengan," ujarnya, kepada Kontan.co.id,  Jumat (3/12).

Jika melihat sejarah pendirian Kakaobank, pola bank digital di Indonesia sangat berbeda. Dan juga tak seperti Nubank. Di Indonesia, investor mengakuisisi bank kecil, lalu disulap menjadi bank digital dengan dibekali aplikasi. Setelah itu bank digital mengarap ekosistem dari startup, entah itu marketplace atau ride hailing.

Padahal seperti yang kita tahu pengguna ride hailing atau marketplace bukanlah tipe loyal. Berbeda Rp 1.000 atau Rp 2.000 mereka akan memilih yang paling murah.

Dan bukan cuma itu, baik ride hailing atau marketplace di Indonesia menerapkan ekosistem terbuka. Artinya, mereka juga menjalin kerjasama dengan lembaga keuangan lain. 

Kita tunggu saja penantian bank digital Indonesia. Apakah bisa memberikan inklusi keuangan ke ekosistem yang loyal seperti  Kakaobank dan Line Bank.  Atau yang cuma mengejar valuasi. 

Selanjutnya: Menuju Era Taksi Udara Listrik, Anak Usaha Embraer Dapat Pesanan 60 eVTOL

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×