kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   20.000   0,76%
  • USD/IDR 18.088   -22,00   -0,12%
  • IDX 6.042   2,45   0,04%
  • KOMPAS100 790   1,48   0,19%
  • LQ45 600   1,02   0,17%
  • ISSI 210   -0,03   -0,02%
  • IDX30 339   0,09   0,03%
  • IDXHIDIV20 422   0,59   0,14%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 115   -0,13   -0,11%
  • IDXQ30 109   0,09   0,08%

Pengamat: Kalau tidak punya ekosistem, bank digital hanya ikut-ikutan kejar valuasi


Jumat, 03 Desember 2021 / 21:52 WIB
ILUSTRASI. Nasabah melakukan transaksi keuangan melalui layanan digital. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham tanah air akhir-akhir ini diramaikan dengan isu bank digital. Seiring semakin maraknya bank kecil yang diakuisisi oleh investor kelas kakap dan mentransformasi menjadi bank digital.

Tak heran, harga sama bank digital pun melambung tinggi jauh dari kinerja fundamentalnya. Secara global hanya secuil bank digital yang berhasil mencatatkan keuntungan. Itu pun setelah berdarah-darah membesarkan bisnis dari nol.

Kakao Bank asal Korea Selatan misalnya harus mati-matian terlebih dahulu membentuk ekosistem digital barulah merilis layanan bank digital. Lain hanya dengan kisah sukses NuBank, bank digital asal Brasil yang terjun ke lapangan mencari pelanggan yang berisiko tinggi dan tidak mau dilayani oleh bank konvensional. 

Baca Juga: OJK catat pembiayaan produktif fintech terus melonjak

Ekonom yang juga pakar keuangan dan pasar modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai bank digital di Indonesia berupa transformasi dari fintech, micro banking, dan e-wallet. Malah ia melihat, bank-bank besar sudah bisa dibilang bank digital karena semua proses operasional sudah didigitalisasi.

Ia menyatakan, bank digital yang akan berhasil di Indonesia harus memiliki ekosistem digital dengan e-commerce ataupun transportasi online. Lantaran akan memberikan manfaat yang cukup signifikan bagi nasabahnya. 

”Itu sebabnya bank digital yang bisa jalan ialah yang punya ekosistem. Sedangkan yang  lain, ya cuma ikut-ikutan supaya dapat valuasi yang tinggi alias ikut gorengan,” ujarnya kepada Kontan.co.id pada Jumat (3/12).

Bahkan ia menyatakan sebenarnya masyarakat yang mengerti, takut dengan full digital banking. Lantaran ada isu cyber security, keandalan, dan keamanan data center. “Seperti kemarin Cyber 1 tower kebakaran, banyak yang terdampak,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×