kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.830.000   -50.000   -1,74%
  • USD/IDR 17.211   48,00   0,28%
  • IDX 7.542   -17,77   -0,24%
  • KOMPAS100 1.031   -8,30   -0,80%
  • LQ45 736   -7,70   -1,04%
  • ISSI 273   -0,06   -0,02%
  • IDX30 401   0,75   0,19%
  • IDXHIDIV20 492   5,09   1,05%
  • IDX80 115   -0,96   -0,82%
  • IDXV30 141   2,14   1,54%
  • IDXQ30 129   0,46   0,36%

Bank Indonesia Minta Penurunan Suku Bunga Lebih Agresif Demi Kredit Tumbuh


Rabu, 22 April 2026 / 16:54 WIB
Bank Indonesia Minta Penurunan Suku Bunga Lebih Agresif Demi Kredit Tumbuh
ILUSTRASI. Serambi penukaran uang rupiah BI Sulbar (ANTARA FOTO/AKBAR TADO)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Transmisi pelonggaran kebijakan moneter terhadap suku bunga perbankan terus berlanjut. Bank Indonesia (BI) mencatat, tren penurunan suku bunga baik di sisi dana maupun kredit masih berlangsung seiring kondisi likuiditas yang longgar.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, suku bunga deposito tenor 1 bulan telah turun sebesar 62 basis poin (bps), dari 4,81% pada awal Januari 2025 menjadi 4,19% pada Maret 2026.

Sementara itu, suku bunga kredit juga mengalami penurunan sebesar 44 bps, dari 9,20% menjadi 8,76% pada periode yang sama.

Baca Juga: Bank Indonesia Guyur Insentif Kredit Rp 427,9 Triliun, Ini Penerimanya

“Transmisi pelonggaran kebijakan moneter terhadap penurunan suku bunga perbankan masih berlanjut,” ujar Perry saat konferensi pers RDG BI, Rabu (22/4/2026).

Meski demikian, BI menilai ruang penurunan suku bunga masih terbuka. Oleh karena itu, BI mendorong perbankan untuk lebih agresif menurunkan suku bunga, baik di sisi dana maupun kredit, guna memperkuat pertumbuhan kredit.

Langkah ini dinilai penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah dinamika global.

Salah satu upaya yang ditempuh adalah memperkuat koordinasi untuk menekan pemberian special rate kepada deposan besar. Saat ini, porsi special rate tersebut tercatat masih cukup tinggi, yakni mencapai 26,30% dari total dana pihak ketiga (DPK).

Dengan menurunnya ketergantungan pada suku bunga tinggi untuk dana besar, biaya dana (cost of fund) perbankan diharapkan bisa semakin efisien, sehingga membuka ruang penurunan suku bunga kredit yang lebih cepat.

"BI optimistis, dengan likuiditas yang tetap longgar dan kebijakan yang terarah, penurunan suku bunga akan semakin efektif dalam mendorong intermediasi perbankan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional," tandasnya.

Baca Juga: BI Optimistis Penyaluran Kredit Tumbuh 12% pada 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×