Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memproyeksikan permintaan kredit pemilikan rumah (KPR) tetap stabil pada 2026, meskipun sepanjang 2025 sektor properti menghadapi berbagai tantangan.
Dukungan kebijakan pemerintah serta inovasi produk perbankan dinilai menjadi faktor kunci yang menjaga daya tahan pembiayaan perumahan di tengah tekanan ekonomi.
SVP Consumer Loan BCA Melani Megawati mengatakan, sepanjang 2025 industri KPR menghadapi tekanan dari kondisi ekonomi dan dinamika ketenagakerjaan yang berdampak pada kemampuan masyarakat dalam mengambil kredit.
Situasi tersebut sempat mendorong peningkatan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di industri.
Meski demikian, kinerja portofolio KPR BCA tetap menunjukkan pertumbuhan. Hingga 2025, baki debet KPR BCA tercatat mencapai sekitar Rp142,3 triliun. Dari sisi kualitas aset, rasio NPL berada di kisaran 1,7%, lebih rendah dibandingkan rata-rata industri perbankan.
Baca Juga: BCA Masih Akan Terus Tambah Jaringan Kantor, Ini Alasannya
Menurut Melani, salah satu strategi utama BCA dalam menjaga kualitas kredit adalah memperkuat analisis calon debitur melalui pendekatan know your customer (KYC) yang lebih komprehensif.
Strategi ini bertujuan memastikan kemampuan bayar nasabah sekaligus memitigasi potensi risiko kredit bermasalah.
Memasuki 2026, BCA menilai permintaan KPR masih berada pada level yang stabil. Optimisme tersebut didukung sejumlah kebijakan pemerintah, antara lain insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) untuk sektor properti serta pembangunan infrastruktur yang mendorong munculnya kawasan hunian baru.
Selain itu, sejak Oktober 2025 BCA juga meluncurkan produk KPR subsidi untuk mendukung program perumahan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Inisiatif ini diharapkan dapat memperluas akses kepemilikan rumah sekaligus mendorong pertumbuhan kredit perumahan secara lebih inklusif.
Dari sisi preferensi pasar, rumah dengan harga hingga sekitar Rp2 miliar masih menjadi segmen yang paling diminati konsumen. Permintaan terbesar datang dari wilayah penyangga Jakarta seperti Tangerang dan Bekasi.
Mayoritas pembelian juga masih didominasi oleh hunian residensial, dengan porsi sekitar 70% dibandingkan properti komersial.
BCA menargetkan pertumbuhan KPR sekitar 6%–7% pada 2026. Target ini dinilai selaras dengan prospek ekonomi, dukungan insentif pemerintah, serta kebutuhan hunian masyarakat yang masih kuat.
Perseroan optimistis sektor properti tetap menjadi salah satu motor pertumbuhan kredit konsumer ke depan.
Untuk mendorong penyaluran KPR, BCA menghadirkan berbagai program promosi, termasuk penawaran bunga KPR mulai dari 1,69% serta diskon biaya provisi dan asuransi jiwa pada momentum pameran BCA Expoversary 2026.
Bank juga menawarkan skema bunga tetap berjenjang yang dapat disesuaikan dengan kemampuan finansial nasabah.
Dari sisi digitalisasi layanan, BCA mengembangkan platform pencarian properti dan pengajuan KPR secara end-to-end melalui situs rumahsaya.bca.co.id.
Platform ini memungkinkan nasabah mencari properti, melakukan simulasi kredit, hingga memantau proses pengajuan secara daring dengan lebih praktis dan transparan.
Selanjutnya: Pasar Kripto Tertekan Aksi Jual, Bitcoin dan Ethereum Terpuruk
Menarik Dibaca: Sambil Salurkan Bantuan, Enervon Nusantara Run 2026 Digelar Minggu (8/2) di TMII
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













