kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.542   42,00   0,24%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Begini strategi bank mengatur likuiditas saat pandemi corona


Jumat, 18 September 2020 / 20:42 WIB
ILUSTRASI. Pelayanan nasabah di Bank Rakyat Indonesia (BRI). KONTAN/Cheppy A. Muchlis


Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Tendi Mahadi

Sementara secara total, sampai Juli  2020 BRI telah menempatkan dana Rp 242,18 triliun triliun pada instrumen surat berharga. Nilai tersebut tumbuh 54,1% (ytd) dibandingkan akhir tahun lalu senilai Rp 157,07 triliun. 

Strategi serupa juga diterapkan oleh PT Bank BNI Syariah. Apalagi rasio likuiditas perseroan kini telah berada di bawah 80%. Sampai Juli 2020, financing to deposit ratio (FDR) perseroan berada pada level 71,93%. 

Baca Juga: Menurut pengamat, ini alasan bunga kredit bank harus turun di tengah pandemi

“Di tengah perlambatan ekonomi akibat pandemi, kami mendorong penempatan pada secondary reserve, seperti SIMA, dan SKBI,” kata Direktur Keuangan BNI Syariah Wahyu Avianto kepada Kontan.co.id.

Penempatan pada SBSN juga dilakukan oleh perseroan dalam rangka menyeimbangkan pendapatan perseroan dalam jangka pendek. 

Ini tercermin dari meningkatnya penempatan dana perseroan di surat berharga yang tumbuh 40,3% (ytd), sementara penempatan di Bank Indonesia justru menurun 48,2% (ytd).

Selanjutnya: Percepat pembangunan LRT Jabobek, KAI teken perjanjian kredit tambahan Rp 4,2 triliun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×