kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.709.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

BI Rate Naik, Bank-Bank KBMI I Terpaksa Menaikkan Bunga Simpanan


Jumat, 12 Juni 2026 / 18:58 WIB
BI Rate Naik, Bank-Bank KBMI I Terpaksa Menaikkan Bunga Simpanan
ILUSTRASI. Logo Bank Indonesia (BI) di gedung BI, Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bunga acuan (BI Rate) yang naik menjadi 5,5% membuat bank harus mengubah strategi pendanaan. Di tengah situasi ini, bank-bank kecil dinilai mendapat tekanan paling besar.

Kenaikan BI Rate membuat persaingan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) semakin terasa ketat, terutama bagi bank kecil di dalam Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti 1 alias KBMI 1.

Untuk diketahui, sebelum kenaikan BI Rate, total DPK KBMI 1 memang terus tercatat mengalami penyusutan tahun ini.

Baca Juga: Meski Bunga Menarik, KB Bank Pastikan Pembelian SRBI Selektif dan Adaptif

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, total DPK KBMI 1 pada Maret 2026 sebesar Rp 928,36 triliun. Jumlah DPK itu terhitung turun 0,57% dari Februari 2026 dan turun 1,17% dibanding Januari 2026.

Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi menyebut bank di kelompok KBMI 1 memang akan lebih tertekan dibandingkan bank lain yang lebih besar ketika BI Rate mengalami kenaikan.

Rahma menyebut ketika BI Rate naik, nasabah kelas atas cenderung akan memindahkan dananya yang masih ada di bank kecil kepada bank yang lebih besar karena faktor keamanan.

Selain itu, Rahma juga menyebut ada potensi perpindahan dana nasabah ke instrumen investasi lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Sebab itu, ia menilai bank KBMI 1 pasti mau tidak mau harus ikut menaikkan bunga simpanan untuk menjaga nasabah tidak pergi.

Akan tetapi, menaikkan bunga simpanan akan berdampak pada biaya dana alias cost of fund (COF) yang ikut membengkak. Sebab, banyak bank di KBMI 1 masih mengandalkan sumber pendanaannya dari produk deposito.

Rahma menyebut ada dua solusi bagi bank KBMI 1, yaitu antara melakukan merger dengan bank lain atau tetap berdiri sendiri dengan modal yang kuat.

Baca Juga: Suku Bunga BI Naik, Gadai ValueMax Belum Ubah Tarif Gadai

Ia menyebut bank KBMI 1 yang masih dapat tahan berdiri sendiri hanyalah bank yang memiliki spesialisasi bisnis yang kuat.

"Bagi bank KBMI 1 yang strukturnya generik dan modalnya pas-pasan, bersikeras jalan sendiri justru berisiko tergilas oleh efisiensi bank-bank digital dan bank raksasa," kata Rahma saat dihubungi, Jumat (12/6/2026).

Menanggapi kenaikan BI Rate ini, sejumlah bank di KBMI 1 mengaku akan mulai menyesuaikan strategi pendanaannya, termasuk meningkatkan bunga simpanan.

PT Bank Ina Perdana Tbk misalnya akan ikut menaikkan bunga simpanannya menyusul kenaikan BI Rate.

Direktur Utama Bank INA Henry Koenaifi menyebut, langkah menaikkan bunga simpanan sudah tidak terelakkan. Jika bank tidak menaikkan bunga simpanan, maka dana nasabah akan pindah ke tempat lain.

"Bank INA akan menaikkan bunga sesuai kenaikan bunga BI, kalau tidak sebagian dana mungkin akan pergi," kata Henry saat dihubungi, Jumat (12/6/2026).

Dilihat dari laporan keuangannya per April 2026, total DPK Bank INA mencapai Rp 27,79 triliun. Total DPK itu sebenarnya meningkat 40% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Adapun DPK Bank INA didominasi oleh dana mahal alias deposito. Porsi deposito mencapai 53,62% keseluruhan DPK Bank INA.

PT Bank Neo Commerce Tbk juga akan mulai menyesuaikan strategi pendanaannya. Bank Neo turut menyetujui kenaikan BI Rate saat ini berpotensi memperketat persaingan DPK.

Baca Juga: Bale by BTN Catat 51,5 Juta Transaksi Senilai Rp55,45 Triliun hingga Mei 2026

Direktur Utama Bank Neo Commerce Eri Budiono bilang, untuk menjaga COF tidak membengkak, banknya akan fokus menjaga kestabilan DPK dengan selektif menyesuaikan bunga simpanan.

"Bank Neo Commerce akan terus memantau dinamika dan bila diperlukan akan melakukan penyesuaian strategi secara prudent dan terukur sesuai dengan kondisi pasar, kebutuhan likuiditas, serta profil risiko bank," jelasnya.

Selain itu, Eri memastikan Bank Neo Commerce akan mengoptimalkan diversifikasi sumber pendanaan dan memacu keaktifan nasabah bertransaksi. Ini dilakukan untuk menjaga likuiditas bank tetap sehat.

Hingga April 2026, total DPK Bank Neo tercatat sebesar Rp 13,14 triliun, turun 1,05% yoy. Deposito juga mendominasi sampai 68,51% dari total DPK.

Direktur Kepatuhan PT Bank Oke Indonesia Tbk juga akan mempertimbangkan semua opsi strategis agar bisa terus bersaing, mulai dari menaikkan bunga hingga opsi merger.

Hingga April 2026, total DPK OK Bank mencapai Rp 8,93 triliun atau naik 30,71% yoy. Pendanaan OK Bank juga didominasi oleh produk deposito mencapai 78,84% dari total DPK.

"Kami mempertimbangkan semua opsi strategis, termasuk peluang merger, akuisisi, kerja sama strategis, maupun alternatif korporasi lainnya. Namun hingga saat ini belum terdapat keputusan atau rencana yang dapat kami sampaikan kepada publik," ucapnya.

Baca Juga: BRI Siapkan Dana Rp 500 Miliar untuk Buyback Saham

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×