Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Biaya operasional atau overhead perbankan mulai menunjukkan tren kenaikan di tengah ketatnya persaingan industri dan kebutuhan investasi teknologi yang terus meningkat.
Bank Indonesia (BI) mencatat, biaya overhead (overhead cost / OHC) industri perbankan naik menjadi 3,43% pada April 2026, dari 3,41% pada Maret 2026. Kenaikan tersebut terutama dipicu oleh meningkatnya belanja barang dan jasa, beban tenaga kerja, serta beban non-operasional.
Peningkatan OHC terjadi di mayoritas kelompok bank. Kenaikan terbesar tercatat pada kelompok Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang naik menjadi 3,64% dari 3,48% pada bulan sebelumnya.
Baca Juga: Kredit Properti Tumbuh 17,2% YoY per Mei 2026
Kelompok bank BUMN juga mencatat kenaikan OHC menjadi 3,66% dari 3,62%, sedangkan Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) naik menjadi 1,73% dari 1,68%.
Hanya kelompok Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) yang berhasil menekan biaya operasional. OHC BUSN turun menjadi 3,15% pada April 2026 dari 3,19% pada Maret 2026.
Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Myrdal Gunarto, menilai kenaikan biaya overhead pada kuartal II merupakan fenomena yang wajar seiring dimulainya fase eksekusi berbagai program bisnis setelah penyusunan strategi pada kuartal pertama.
Menurutnya, salah satu pendorong utama kenaikan biaya operasional adalah percepatan transformasi digital di industri perbankan.
"Kompetisi bank digital dan neo-bank memaksa perbankan terus memperbarui infrastruktur teknologi, mulai dari core banking hingga aplikasi layanan nasabah," ujar Myrdal kepada Kontan.co.id, Selasa (23/6/2026).
Selain itu, perbankan juga menghadapi kenaikan biaya untuk memperkuat keamanan siber dan memenuhi berbagai ketentuan perlindungan data. Ancaman serangan siber yang meningkat membuat bank harus mengalokasikan dana lebih besar untuk investasi teknologi dan keamanan.
Myrdal menambahkan, faktor musiman juga ikut mendorong kenaikan biaya operasional. Di antaranya penyesuaian gaji, pembayaran bonus kinerja, hingga program promosi untuk mengejar target pertumbuhan kredit pada pertengahan tahun.
Baca Juga: Bank Raya Perkuat Ekosistem UMKM Lewat Kolaborasi dengan TDA
Dari sisi komponen biaya, beban sumber daya manusia (SDM) masih menjadi kontributor terbesar terhadap kenaikan overhead. Persaingan merekrut talenta digital seperti data scientist, cybersecurity engineer, hingga digital product manager membuat biaya tenaga kerja terus meningkat.
Selain itu, biaya infrastruktur teknologi informasi seperti layanan cloud computing, lisensi perangkat lunak, pemeliharaan sistem, hingga implementasi kecerdasan buatan (AI) juga semakin besar.
"Biaya pemasaran dan promosi juga masih tinggi, terutama untuk akuisisi nasabah baru melalui berbagai program cashback, subsidi bunga, dan promosi transaksi digital," jelasnya.
Meski demikian, Myrdal memperkirakan laju kenaikan biaya overhead akan mulai melandai pada semester II 2026. Menurutnya, banyak bank biasanya mulai menahan belanja operasional dan investasi yang tidak mendesak untuk menjaga profitabilitas hingga akhir tahun.
Untuk menjaga efisiensi, ia menyarankan perbankan mengoptimalkan jaringan kantor cabang, memperluas otomatisasi proses operasional melalui robotic process automation (RPA), serta melakukan renegosiasi kontrak dengan vendor.
Baca Juga: Bank Raya Perkuat Ekosistem UMKM Lewat Kolaborasi dengan TDA
"Bank juga perlu memperkuat pendapatan berbasis komisi atau fee based income agar tidak terlalu bergantung pada margin bunga yang saat ini mulai tertekan," katanya.
Di tingkat industri, sejumlah bank besar mengaku masih mampu menjaga efisiensi operasional meskipun kebutuhan investasi teknologi tetap tinggi.
Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk, Lani Darmawan, mengatakan biaya operasional perseroan relatif stabil. Menurutnya, investasi untuk pengembangan bisnis dan teknologi tetap berjalan, namun digitalisasi berhasil menekan sejumlah biaya transaksi.
"Karena kebutuhan investasi harus tetap berjalan, namun beberapa biaya operasional justru turun seperti transaction cost sebagai manfaat dari digitalisasi di berbagai lini bisnis," ujar Lani.
Pada kuartal I-2026, CIMB Niaga membukukan beban operasional sebesar Rp 2,37 triliun, naik 8,6% secara tahunan, namun turun 0,5% dibandingkan kuartal sebelumnya. Rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio / CIR) tercatat berada di level 46,9%, sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 46%.
Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatatkan, biaya operasional yang relatif stabil.
Executive Vice President Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, beban operasional perseroan hingga kuartal I-2026 tercatat sekitar Rp 8,5 triliun, relatif sama dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: RUU Koperasi Usul Ada LPS Koperasi, Forkopi: Ada Kesenjangan Perlindungan Simpanan
"BCA senantiasa mengelola biaya operasional secara efektif dan efisien dalam mendukung pertumbuhan bisnis," ujar Hera.
Menurutnya, efisiensi dilakukan melalui optimalisasi transaksi digital dan transaksi non-tunai yang terus meningkat melalui layanan mobile banking dan internet banking.
Hasilnya, rasio CIR BCA tetap terjaga rendah di level 27,3% pada kuartal I-2026, jauh di bawah rata-rata industri.
Ke depan, BCA akan terus memperkuat ekosistem digital dan memodernisasi infrastruktur teknologi informasi guna menjaga efisiensi operasional sekaligus meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














