kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.581.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.992   80,00   0,45%
  • IDX 6.010   -61,64   -1,02%
  • KOMPAS100 774   -11,44   -1,46%
  • LQ45 592   -8,80   -1,46%
  • ISSI 208   -2,25   -1,07%
  • IDX30 328   -4,71   -1,41%
  • IDXHIDIV20 419   -5,32   -1,25%
  • IDX80 88   -1,32   -1,47%
  • IDXV30 114   -0,94   -0,82%
  • IDXQ30 107   -1,23   -1,13%

BNI Catat Portofolio TPT pada Segmen Commercial Capai Rp 995 Miliar per Agustus 2026


Kamis, 01 Oktober 2026 / 17:32 WIB
BNI Catat Portofolio TPT pada Segmen Commercial Capai Rp 995 Miliar per Agustus 2026
ILUSTRASI. BNI melihat sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) serta garmen masih memiliki ruang pertumbuhan dan peluang pembiayaan.(KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) melihat sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) serta garmen masih memiliki ruang pertumbuhan dan peluang pembiayaan. Meski demikian, perseroan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit ke sektor tersebut.

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan, BNI mendukung upaya pemerintah memperkuat industri TPT dan garmen sebagai bagian penting dari industri manufaktur nasional.

Secara fundamental, subsektor industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh 6,36% secara tahunan (yoy) pada kuartal II 2026. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan industri manufaktur yang tumbuh 4,52% yoy maupun ekonomi nasional sebesar 5,29% yoy.

Baca Juga: Take Over KPR ke BJB Syariah Naik 4% di Agustus 2026, Angsuran Tetap Jadi Daya Tarik

Dari sisi investasi, realisasi investasi sektor TPT pada semester I 2026 juga mencapai Rp11,4 triliun, meningkat 11,85% yoy.

"BNI melihat sektor ini masih memiliki ruang pertumbuhan dan peluang pembiayaan, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan kualitas kredit," ujar Okki kepada Kontan.co.id, Rabu (30/9/2026).

Meski memiliki prospek pertumbuhan, BNI tetap mencermati sejumlah risiko dalam pembiayaan sektor TPT dan garmen. Risiko tersebut antara lain ketergantungan terhadap bahan baku dan barang antara impor, pergerakan nilai tukar dan harga bahan baku, serta dinamika permintaan dan persaingan industri.

Karena itu, penyaluran pembiayaan dilakukan secara selektif dan terukur dengan mempertimbangkan fundamental usaha, kemampuan pembayaran, prospek industri, serta profil risiko masing-masing debitur.

Hingga Juni 2026, portofolio pembiayaan BNI pada sektor TPT dan garmen di segmen SME tercatat sebesar Rp405,6 miliar.

Sementara itu, berdasarkan posisi 31 Agustus 2026, portofolio sektor TPT pada segmen Commercial mencapai Rp995 miliar, yang berasal dari 27 debitur.

Baca Juga: AAJI Targetkan Seluruh Perusahaan Asuransi Jiwa Terapkan KAPJ Sebelum Akhir 2026

BNI juga terus menjaga kualitas portofolio melalui pemantauan kondisi usaha dan kemampuan pembayaran debitur secara berkala.

Ke depan, BNI akan mencermati peluang pembiayaan sektor TPT dan garmen, terutama bagi pelaku usaha dengan fundamental bisnis yang baik, arus kas sehat, pasar yang jelas, serta rantai pasok yang kuat.

Untuk industri pakaian jadi, BNI melihat potensi pembiayaan terutama pada pelaku usaha yang memiliki basis pasar ekspor yang solid dan terdiversifikasi.

Selain pembiayaan reguler, BNI juga mengoptimalkan Kredit Industri Padat Karya (KIPK) sebagai salah satu instrumen pembiayaan bagi pelaku usaha TPT dan garmen yang memenuhi kriteria program.

Melalui pendekatan tersebut, BNI terus mendukung penguatan industri padat karya dan penyerapan tenaga kerja, dengan tetap menjaga kualitas portofolio serta prinsip kehati-hatian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×