Reporter: Ferry Saputra | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) industri multifinance mulai turun. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, BOPO industri multifinance sebesar 79,21% per April 2026.
"Angka BOPO industri multifinance per April 2026 menurun, jika dibandingkan posisi per April 2025 yang sebesar 80,25%," kata Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Minggu (7/6/2026).
Agusman menerangkan penurunan BOPO industri tersebut salah satunya dipengaruhi upaya efisiensi operasional, serta pengelolaan biaya yang lebih optimal. Dia bilang ada sejumlah upaya yang bisa dilakukan multifinance untuk menjaga angka BOPO tetap terkendali.
Baca Juga: Ini 10 Unitlink Saham yang Mencetak Return Tertinggi pada Mei 2026
Upayanya, yaitu multifinance perlu terus memperkuat efisiensi operasional, menjaga kualitas pembiayaan, dan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital dalam proses bisnis.
Terkait kinerja industri, OJK mencatat, piutang pembiayaan perusahaan multifinance mencapai Rp 514,65 triliun per April 2026. Nilai piutang pembiayaan per April 2026 tumbuh 2,08% secara tahunan atau year on year (YoY). Kinerjanya didukung pembiayaan modal kerja yang tumbuh sebesar 10,64% YoY.
Sementara itu, OJK mencatat, Non Performing Financing (NPF) net multifinance tercatat sebesar 0,78% per April 2026. Adapun angka tersebut menurun atau membaik dari pencapaian bulan sebelumnya yang sebesar 0,80%.
Baca Juga: 118 Perusahaan Perasuransian Sudah Penuhi Ekuitas Minimum untuk 2026
OJK mencatat, NPF gross perusahaan pembiayaan per April 2026 sebesar 2,89%. Angkanya terbilang memburuk atau meningkat, jika dibandingkan posisi pada bulan sebelumnya yang sebesar 2,83%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













