Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah dominasi pendanaan industri multifinance yang masih bertumpu pada sektor perbankan serta tren kenaikan suku bunga dan imbal hasil (yield) obligasi, PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) menyebut biaya pendanaan atau cost of fund (CoF) perusahaan masih terjaga pada kuartal I-2026.
Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sumber pendanaan perusahaan pembiayaan per Maret 2026 masih didominasi perbankan dengan porsi 73,65% atau sebesar Rp 279,74 triliun.
Baca Juga: Saham BTN (BBTN) Tahan Banting Saat IHSG Terpuruk, Cek Rekomendasi Sahamnya
Kondisi ini membuat industri multifinance rentan terhadap perubahan suku bunga serta kenaikan yield obligasi yang dapat memengaruhi biaya pendanaan.
Corporate Secretary BRI Multifinance Indonesia Aditia Fakhri Ramadhani mengatakan, CoF BRI Finance hingga kuartal I-2026 masih berada pada level yang lebih baik dibandingkan periode sebelumnya.
“Hal tersebut didukung oleh optimalisasi struktur pendanaan serta penguatan sinergi pendanaan dengan Grup BRI,” ujar Aditia kepada Kontan, Senin (18/5/2026).
Pada posisi Maret 2026, pendanaan BRI Finance masih didominasi perbankan dengan porsi 56,01% atau Rp 2,32 triliun.
Disusul obligasi sebesar 24,22% atau Rp 1 triliun, serta joint financing sebesar 19,77% atau Rp 818,7 miliar.
Baca Juga: OJK Dorong BPJS Ketenagakerjaan Lakukan Pengelolaan Program yang Prudent dan Adaptif
Sementara pada April 2026, porsi pendanaan perbankan turun menjadi 52,72% atau Rp 2,20 triliun.
Adapun obligasi tercatat 23,99% atau Rp 1 triliun, dan joint financing meningkat menjadi 23,29% atau Rp 973,9 miliar.
“Di tengah kondisi kenaikan suku bunga dan yield obligasi yang bergerak naik, terdapat penyesuaian strategi pendanaan,” lanjutnya.
BRI Finance mengoptimalkan pendanaan berjangka pendek serta meningkatkan porsi joint financing yang dinilai memiliki tingkat bunga lebih kompetitif.
Baca Juga: Jumlah Nasabah Terus Meningkat, Bank Digital Terus Pacu Keaktifan Pengguna
Selain itu, perusahaan juga menjaga efisiensi likuiditas dengan meminimalkan idle fund, memperkuat kinerja penagihan untuk mempercepat arus kas masuk, serta lebih selektif dalam menentukan waktu dan tenor penerbitan obligasi sesuai kondisi pasar.
“Dengan strategi tersebut, diharapkan likuiditas tetap terjaga sekaligus mendukung pertumbuhan pembiayaan,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













