kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.559.000   -11.000   -0,43%
  • USD/IDR 18.166   -36,00   -0,20%
  • IDX 5.098   -184,26   -3,49%
  • KOMPAS100 656   -29,76   -4,34%
  • LQ45 515   -24,19   -4,48%
  • ISSI 171   -5,38   -3,04%
  • IDX30 289   -13,61   -4,49%
  • IDXHIDIV20 388   -17,40   -4,29%
  • IDX80 76   -3,38   -4,28%
  • IDXV30 108   -4,36   -3,89%
  • IDXQ30 98   -4,24   -4,16%

Cermati Strategi Pencadangan Perbankan di Kuartal III-2026


Kamis, 29 Oktober 2026 / 18:28 WIB
Diperbarui Kamis, 29 Oktober 2026 / 19:51 WIB
Cermati Strategi Pencadangan Perbankan di Kuartal III-2026
ILUSTRASI. Teller menghitung uang di Hana Bank, Jakarta (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Beban provisi atau pencadangan kerugian kredit (impairment loss) perbankan bergerak beragam pada kuartal III-2026.

Kenaikan pencadangan, terutama di PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), berpotensi menekan laba bersih.

Sebaliknya, beban pencadangan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun tajam, sedangkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat kenaikan tipis.

Bank Mandiri mencatatkan impairment loss sebesar Rp 8,47 triliun secara kumulatif hingga September 2026. Khusus kuartal III-2026, beban pencadangan bank pelat merah ini mencapai Rp 3,04 triliun, naik 5,9% secara kuartalan (qoq).

Baca Juga: CSAP Catat Pertumbuhan Positif hingga Kuartal III-2026, Bidik Pendapatan Naik 10%

Namun, kenaikan tersebut lebih landai dibandingkan dengan pertumbuhan 12,1% qoq pada kuartal sebelumnya.

Berbeda dengan Bank Mandiri, beban pencadangan BNI justru menurun. Secara kumulatif, impairment loss BNI mencapai Rp 6,94 triliun hingga September 2026.

Sementara itu, pada kuartal III-2026, nilainya sebesar Rp 1,89 triliun, turun 37,8% qoq. Penurunan ini berbalik dari kenaikan 51,2% qoq pada kuartal sebelumnya.

Adapun BCA mencatatkan impairment loss sebesar Rp 2,75 triliun secara kumulatif hingga September 2026. Pada kuartal III-2026 saja, beban pencadangan BCA mencapai Rp 770 miliar, naik 2,7% qoq setelah turun 39% qoq pada kuartal sebelumnya.

Di kelompok bank tier dua, CIMB Niaga mencatatkan beban pencadangan sebesar Rp 2,36 triliun secara kumulatif hingga September 2026.

Khusus kuartal III-2026, nilainya melonjak 80,5% qoq menjadi Rp 1,26 triliun, melanjutkan kenaikan 73,2% qoq pada kuartal sebelumnya.

Baca Juga: Rekomendasi Aset Kripto Kuartal III-2026 dan Proyeksi Teknikal Support Bitcoin

Besarnya beban pencadangan turut menekan kinerja CIMB Niaga. Hingga September 2026, laba bersih bank ini terkoreksi 14,75% secara tahunan (yoy).

Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengakui, peningkatan pencadangan menjadi salah satu faktor yang menekan profitabilitas bank, di samping tekanan margin bunga.

“Profitabilitas menghadapi tantangan karena tekanan margin bunga dan peningkatan pencadangan sebagai bagian dari penerapan prinsip kehati-hatian dalam mengelola risiko kredit,” ujar Lani, dikutip Kamis (29/10/2026).

Meski demikian, Lani menilai kondisi keuangan CIMB Niaga tetap solid karena permodalan dan likuiditas masih terjaga.

Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) tercatat sebesar 23,7%, sedangkan rasio kredit terhadap pendanaan (loan to deposit ratio/LDR) mencapai 88,62%.

Ia menegaskan, CIMB Niaga tetap menerapkan prinsip kehati-hatian untuk menjaga kualitas aset. Hasilnya, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) turun menjadi 0,73% dari 0,8% pada tahun sebelumnya.

Rasio kredit berisiko (loan at risk/LaR) juga menyusut menjadi 5,83% dari 7,94%.

Baca Juga: Kredit Konsumer Belum Akan Bertaji di Kuartal III

Dengan kualitas aset yang terjaga, CIMB Niaga akan menerapkan pendekatan yang lebih konservatif, terutama pada portofolio kredit di segmen konsumer.

Sementara itu, Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, strategi pencadangan bank akan disesuaikan dengan perkembangan kualitas aset dan kondisi perekonomian.

BCA mencatatkan penurunan rasio NPL menjadi 1,79% dari 2,1%. Rasio LaR juga turun menjadi 4,59% dari 5,52%.

Dalam penyaluran kredit, Hera mengatakan BCA tetap mendorong pembiayaan ke berbagai segmen dan sektor dengan mempertimbangkan risiko.

“Kami mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan menerapkan manajemen risiko secara disiplin,” tegasnya.

Baca Juga: Intip Prospek Kinerja TAPG pada Kuartal III-2026 dan Rekomendasi Sahamnya

Selain itu, BCA menyiapkan pencadangan untuk LaR dengan rasio sebesar 71,2% dan pencadangan NPL sebesar 167,5%. Bank menilai tingkat pencadangan tersebut memadai untuk menghadapi ketidakpastian kondisi ekonomi dan bisnis debitur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×