Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Segmen korporasi menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit perbankan nasional hingga September 2026. Sejumlah bank besar mencatatkan peningkatan penyaluran pembiayaan kepada dunia usaha, seiring kebutuhan modal kerja dan investasi yang terus berkembang.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan kredit perbankan pada Agustus 2026 mencapai 13,65% secara tahunan atau year on year (YoY), dengan nilai outstanding sebesar Rp 9.178 triliun. Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan pada Juli 2026 sebesar 13,58% YoY.
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 25,11% YoY, diikuti kredit modal kerja sebesar 11,45% YoY dan kredit konsumsi sebesar 5,07% YoY.
Dari kategori debitur, kredit korporasi tumbuh paling tinggi sebesar 22,18% YoY. Sementara itu, kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih tumbuh positif sebesar 2,32% YoY. Berdasarkan kepemilikan, kredit bank badan usaha milik negara (BUMN) mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 16,41% YoY.
Baca Juga: Penurunan Beban Bunga Belum Mampu Dongkrak Kinerja Bank Swasta di Kuartal III-2026
Kredit korporasi BCA tumbuh 20,9%
Salah satu bank yang mencatatkan ekspansi kredit adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Hingga September 2026, BCA membukukan penyaluran kredit sebesar Rp 1.063,1 triliun, tumbuh 12,6% YoY.
Wakil Presiden Direktur BCA John Kosasih mengatakan, peningkatan permintaan kredit antara lain didorong oleh persiapan pelaku usaha dalam menghadapi periode dengan aktivitas bisnis yang lebih tinggi.
Menurut John, perusahaan biasanya mulai melakukan pengadaan bahan baku dan mempersiapkan produksi sekitar empat hingga lima bulan sebelum memasuki periode permintaan tinggi, seperti Natal dan Tahun Baru, Tahun Baru Imlek, serta Lebaran.
“Business season ini menjelang Natal, Tahun Baru, Chinese New Year dan juga Lebaran. Biasanya empat sampai lima bulan sebelumnya, ini tentu saja membutuhkan procurement dan production early untuk mengantisipasi,” ujar John dalam pemaparan kinerja BCA, Selasa (27/10/2026).
Selain faktor musiman, BCA mencatat tingkat penggunaan fasilitas kredit nasabah berada di kisaran 65%–66%. Kebutuhan modal kerja untuk mengantisipasi peningkatan aktivitas usaha turut mendorong pemanfaatan fasilitas kredit tersebut.
Berdasarkan segmen bisnis, kredit korporasi BCA mencapai Rp 528,1 triliun, tumbuh 20,9% YoY. Pertumbuhan tersebut antara lain ditopang sektor perkebunan, pertanian, infrastruktur, transportasi, energi, pembangkit listrik, serta teknologi dan infrastruktur digital.
Kredit segmen usaha kecil dan menengah (UKM) juga meningkat 15,4% YoY menjadi Rp 149,2 triliun. Sejumlah sektor yang menopang pertumbuhan ini meliputi perdagangan grosir, ritel dan distribusi, jasa bisnis, transportasi dan logistik, serta industri makanan dan minuman.
Baca Juga: Transaksi wondr by BNI Tembus Rp 1.774 Triliun, Naik 25% hingga September 2026
Adapun kredit komersial BCA tumbuh 7,8% YoY menjadi Rp 154,1 triliun. Sementara itu, pembiayaan syariah meningkat 14,3% YoY menjadi Rp 14 triliun.
Di sisi lain, kredit konsumer BCA mengalami kontraksi 2,2% YoY menjadi Rp 218,7 triliun. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi kredit kendaraan bermotor yang merosot 20,6% YoY menjadi Rp 48,7 triliun.
Meski demikian, kredit pemilikan rumah (KPR) masih tumbuh 3,6% YoY menjadi Rp 143,7 triliun. Personal loan juga mencatatkan pertumbuhan 11,5% menjadi Rp 26,3 triliun.
Seiring perkembangan permintaan pembiayaan, BCA memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 mencapai 10%–12%. Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan target sebelumnya dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) sebesar 8%–10%.
Kredit korporasi Bank Mandiri tembus Rp 700 triliun
Pertumbuhan kredit dengan dukungan segmen korporasi juga terlihat pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI). Secara bank only, penyaluran kredit Bank Mandiri mencapai Rp 1.605,8 triliun per September 2026, tumbuh 16% YoY.
Kredit korporasi menjadi salah satu penopang utama dengan nilai penyaluran mencapai Rp 700 triliun, meningkat 22% YoY. Selain memperkuat pembiayaan kepada perusahaan, Bank Mandiri mengembangkan pendekatan berbasis ekosistem dengan menghubungkan kebutuhan pembiayaan perusahaan dengan pelaku usaha dan nasabah individu dalam rantai bisnisnya.
Direktur Operations Bank Mandiri Timothy Utama menjelaskan, keterhubungan layanan transaksi dan pembiayaan membantu memenuhi kebutuhan nasabah di dalam ekosistem tersebut.
Hingga September 2026, kredit ekosistem turunan yang mencakup segmen UKM, mikro, dan konsumer mencapai Rp 174 triliun, tumbuh 9% YoY.
Pada segmen mikro, kredit nonsubsidi Bank Mandiri tercatat sebesar Rp 31,2 triliun, meningkat 12,9% YoY. Pembiayaan tersebut telah menjangkau 37 provinsi di Indonesia.
Ekspansi kredit Bank Mandiri juga tercermin di sejumlah wilayah. Secara bank only, kredit di Bali dan Nusa Tenggara tumbuh 10,3% YoY per September 2026. Sementara itu, kredit di Jawa dan Daerah Istimewa Yogyakarta meningkat 5,97%, sedangkan Sumatera tumbuh 5,09%.
“Kami menghubungkan layanan bagi perusahaan, pelaku UMKM, dan nasabah individu agar kebutuhan transaksi serta pembiayaan mereka dapat terlayani dengan lebih baik,” ujar Timothy.
Baca Juga: Cermati Strategi Pencadangan Perbankan di Kuartal III-2026
Kredit BNI tumbuh 22,2% hingga September 2026
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga mencatatkan pertumbuhan kredit yang kuat. Hingga September 2026, kredit konsolidasian BNI mencapai Rp 992,5 triliun, meningkat 22,2% YoY.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang segmen wholesale banking yang meningkat 30,3% YoY menjadi Rp 673,8 triliun.
Di dalam segmen tersebut, kredit enterprise mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 105,6% YoY menjadi Rp 136,3 triliun. Sementara itu, kredit korporasi tumbuh 19,3% YoY menjadi Rp 537,5 triliun.
Pada segmen business banking, kredit komersial meningkat 8,3% YoY menjadi Rp 57,6 triliun. Kredit segmen small juga tumbuh 6,1% menjadi Rp 78,9 triliun.
Kredit konsumer BNI turut mencatatkan pertumbuhan sebesar 9% YoY menjadi Rp 163,8 triliun. Kinerja tersebut ditopang KPR yang meningkat 9,9% menjadi Rp 76,7 triliun serta personal loan yang tumbuh 8,8% menjadi Rp 66,8 triliun.
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan, perseroan melakukan ekspansi secara selektif pada seluruh segmen dengan menerapkan standar analisis kelayakan kredit yang disiplin.
Strategi tersebut mendorong pangsa pasar kredit BNI meningkat 113 basis poin secara tahunan menjadi 10,6%.
Memasuki kuartal IV-2026, BNI akan melanjutkan penguatan pendanaan berbasis transaksi, pertumbuhan kredit secara selektif, pengelolaan risiko, serta transformasi digital dan jaringan. Perseroan menargetkan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 berada di kisaran 10%–13% YoY.
Kredit korporasi CIMB Niaga tumbuh 15,1%
Sementara itu, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) membukukan kredit sebesar Rp 242,58 triliun per September 2026, tumbuh 6,7% YoY.
Kredit korporasi menjadi penopang utama pertumbuhan dengan penyaluran mencapai Rp 102,79 triliun, meningkat 15,1% YoY.
Baca Juga: Saham Big Banks Kompak Melemah (29/10), Asing Ramai-ramai Jual Saham, BBCA Terparah
Kredit komersial CIMB Niaga juga tumbuh 6,4% YoY menjadi Rp 36,63 triliun. Adapun kredit segmen usaha menengah dan kecil (SME) meningkat 1,9% menjadi Rp 27,01 triliun.
Sebaliknya, kredit konsumer turun 1,3% YoY menjadi Rp 76,15 triliun. Pembiayaan Unit Usaha Syariah juga mengalami kontraksi 13,2% YoY menjadi Rp 49,44 triliun.
Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, target pertumbuhan kredit perseroan pada 2026 dalam RBB masih berada di kisaran satu digit.
Menurut dia, pertumbuhan kredit konsumer ritel yang belum kuat turut memengaruhi kinerja penyaluran kredit CIMB Niaga. Hal ini mengingat segmen tersebut memiliki porsi besar dalam portofolio kredit perseroan.
Untuk tahun ini, CIMB Niaga memperkirakan kredit nonritel, terutama segmen korporasi, akan mencatatkan pertumbuhan paling tinggi.
Selain mendorong penyaluran kredit, perseroan juga berfokus pada penguatan kualitas aset, pertumbuhan kredit secara selektif, optimalisasi komposisi pendanaan, peningkatan pendapatan berbasis komisi, serta efisiensi biaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














