kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.902.000   75.000   2,65%
  • USD/IDR 17.000   -49,00   -0,29%
  • IDX 7.184   136,22   1,93%
  • KOMPAS100 993   21,00   2,16%
  • LQ45 727   10,98   1,53%
  • ISSI 257   5,98   2,38%
  • IDX30 393   4,71   1,21%
  • IDXHIDIV20 487   -0,17   -0,03%
  • IDX80 112   2,02   1,84%
  • IDXV30 135   -0,77   -0,57%
  • IDXQ30 128   1,38   1,08%

Dana Pemda di Bank Jateng Tembus Rp5,5 Triliun pada 2025


Rabu, 01 April 2026 / 18:59 WIB
Dana Pemda di Bank Jateng Tembus Rp5,5 Triliun pada 2025
ILUSTRASI. Layanan Nasabah di Kantor Cabang Utama Bank Jateng (TRIBUN JATENG/Deni Setiawan)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dana pemerintah daerah (Pemda) yang ditempatkan di PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng) masih menunjukkan tren peningkatan sepanjang 2025.

Direktur Utama Bank Jateng, Bambang Widyatmoko mengungkapkan, hingga akhir Desember 2025 dana Pemda yang tersimpan di Bank Jateng mencapai Rp5,5 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan posisi akhir 2024 yang sebesar Rp3,8 triliun.

“Peningkatan dana Pemda di antaranya bersumber dari pendapatan daerah,” ujarnya kepada Kontan.co.id.

Menurut Bambang, peningkatan tersebut juga ditopang oleh optimalisasi digitalisasi transaksi keuangan daerah melalui program Elektronifikasi Transaksi Pemda (ETPD). Berbagai layanan seperti e-Tax, e-Retribusi, hingga pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB) turut mendorong peningkatan penerimaan daerah.

Baca Juga: Perluas Layanan Digital, BTN Resmikan Gedung Baru Kanwil Jateng DIY

Sepanjang 2025, transaksi ETPD di Bank Jateng tercatat mencapai 22,7 juta transaksi dengan nilai Rp18,12 triliun.

Meski meningkat, kontribusi dana Pemda terhadap total dana pihak ketiga (DPK) Bank Jateng relatif stabil. Bambang menyebut porsi dana Pemda berada di kisaran 7% dari total DPK yang mencapai Rp80,5 triliun.

“DPK Bank Jateng telah terdiversifikasi ke segmen lain seperti korporasi, ritel dan syariah,” jelasnya.

Ia menambahkan, dana Pemda memiliki karakteristik musiman. Saldo dana biasanya meningkat pada awal tahun, seiring masih terbatasnya realisasi belanja daerah. Namun, seiring berjalannya waktu dan meningkatnya belanja pemerintah, dana tersebut akan berangsur menurun.

“Pada awal tahun Pemda masih fokus pada proses administrasi dan lelang proyek. Belanja meningkat di triwulan II hingga puncaknya di akhir tahun,” kata Bambang.

Dengan karakteristik tersebut, dana Pemda lebih banyak dimanfaatkan sebagai buffer likuiditas oleh bank, serta untuk aktivitas treasury, dibandingkan langsung disalurkan ke kredit sektor riil.

Baca Juga: Dana Pemda Mengendap di Bank Saat Belanja Daerah Melambat, Ini Dampaknya ke BPD

“Sifatnya sementara, sehingga lebih banyak digunakan untuk menjaga likuiditas,” imbuhnya.

Ke depan, Bank Jateng memperkirakan tren penumpukan dana Pemda tidak akan berlangsung lama. Hal ini sejalan dengan dorongan pemerintah untuk mempercepat realisasi belanja daerah.

Selain itu, kebijakan penurunan transfer keuangan daerah (TKD) juga berpotensi menekan saldo dana Pemda di perbankan.

“Kami melihat saldo dana Pemda akan semakin berkurang seiring percepatan belanja daerah,” ujarnya.

Meski demikian, Bambang menilai kondisi tersebut justru dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah, sekaligus membuka peluang pengembangan bisnis perbankan di daerah.

Baca Juga: Bank Jateng Catat Laba Bersih Rp 1,06 Triliun per Kuartal III 2025

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×