Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Danamon Indonesia Tbk mencermati adanya pergeseran perilaku pengelolaan dana di segmen masyarakat menengah. Di tengah tekanan daya beli, nasabah cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang lebih likuid, terutama tabungan, guna menjaga fleksibilitas bertransaksi.
Consumer Funding & Wealth Business Head Bank Danamon, Ivan Jaya, mengungkapkan bahwa secara umum pertumbuhan dana nasabah di luar segmen Privilege (prioritas) masih cenderung stagnan. Namun, segmen Optimal atau mass affluent tercatat relatif stabil, sementara segmen menengah ke bawah mengalami penurunan dana secara tahunan (year on year/YoY) sekitar 2%.
“Di sisi lain, kami melihat aktivitas transaksi di segmen menengah justru meningkat. Pada paruh kedua 2025, transaksi melalui QRIS dan kartu debit tumbuh lebih dari 35% dibandingkan paruh pertama tahun sebelumnya,” ujar Ivan kepada kontan.co.id, Jumat (23/1/2026).
Baca Juga: Upaya AdaKami Perkuat Bisnis UMKM Inklusif dan Berbasis Komunitas
Menurutnya, peningkatan aktivitas transaksi tersebut menunjukkan bahwa meski laju menabung melambat, konsumsi dan kebutuhan transaksi harian tetap berjalan. Hal ini sejalan dengan kecenderungan nasabah yang memilih instrumen likuid di tengah dinamika pasar.
Memasuki 2026, Danamon memperkirakan tren belanja masih akan berlanjut, khususnya di paruh pertama tahun ini. Ivan menilai momentum hari besar seperti Natal dan Tahun Baru (Nataru), Imlek, Ramadhan, hingga Lebaran akan menjadi pendorong utama peningkatan spending masyarakat.
“Dengan peluncuran D-Bank PRO 2.0 yang memiliki tampilan lebih segar dan fitur-fitur yang memudahkan transaksi, kami berharap penempatan dana di tabungan tetap terjaga,” katanya.
Data internal Danamon menunjukkan bahwa dana pihak ketiga (DPK) di produk deposito untuk segmen Optimal pada kuartal IV-2025 turun sekitar 5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, DPK di produk tabungan untuk segmen yang sama justru meningkat hampir 5%. Hal ini mengindikasikan adanya peralihan dana ke aset yang lebih likuid.
Baca Juga: Akulaku Finance Menilai POJK 32/2025 Akan Berdampak Positif bagi Bisnis Paylater
Secara keseluruhan, Danamon membidik pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar low double digit di kisaran 10%–12% pada tahun ini. Target tersebut terutama ditopang oleh segmen Privilege yang dinilai relatif tidak terlalu terdampak pelemahan daya beli.
Terkait penetapan suku bunga simpanan, Ivan menegaskan bahwa tingkat bunga penjaminan (TBP) Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tetap menjadi salah satu acuan utama. Meski demikian, Danamon juga aktif memantau kondisi likuiditas dan persaingan pasar.
“Dalam situasi tertentu, kami memberikan special rate secara selektif dan terbatas, berdasarkan profil dan hubungan dengan nasabah, tentu dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian,” jelasnya.
Baca Juga: Fintech Amartha Angkat Bicara Soal Potensi Melakukan IPO
Untuk menggenjot penghimpunan dana, Danamon menjalankan sejumlah strategi, antara lain melalui program Danamon Hadiah Beruntun (DHB) yang mendorong nasabah lebih aktif menabung dan bertransaksi. Selain itu, perseroan juga menawarkan cashback 5% untuk transaksi kartu debit di SPBU, toko kebutuhan sehari-hari, serta transaksi luar negeri.
Tak hanya itu, Danamon memperkuat layanan transaksi valuta asing melalui produk Danamon LEBIH PRO, yakni rekening dengan 12 mata uang dalam satu akun yang dilengkapi jaminan selisih kurs hingga lima kali lipat serta fasilitas transaksi valas 24 jam.
“Dengan berbagai inisiatif ini, kami optimistis dapat terus mendorong pertumbuhan dana pihak ketiga secara berkelanjutan,” pungkas Ivan.
Selanjutnya: Upaya AdaKami Perkuat Bisnis UMKM Inklusif dan Berbasis Komunitas
Menarik Dibaca: 5 Manfaat Rutin Minum Kopi Setiap Hari untuk Kesehatan Tubuh
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













