Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Daya tarik saham-saham pembagi dividen masih unggul dibandingkan deposito jika dilihat dari imbal hasil bersih (net return) setelah pajak. Kondisi ini dinilai berpotensi mendorong sebagian investor mengalihkan penempatan dana dari deposito ke pasar saham.
Berdasarkan data Bank Indonesia, suku bunga deposito tenor satu bulan pada Mei 2026 sebesar 4,26%. Setelah dikenakan pajak final 20%, imbal hasil bersih deposito berada di kisaran 3,0%–3,4%.
Sementara itu, sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia menawarkan dividend yield sekitar 5%–8%. Jika dipotong pajak dividen sebesar 10%, investor masih dapat menikmati imbal hasil bersih sekitar 4,5%–7,2%.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusfa, mengatakan secara nominal saham-saham dengan fundamental kuat, khususnya sektor perbankan, memang masih menawarkan dividend yield yang lebih tinggi dibandingkan net yield deposito. Namun, investor tidak bisa membandingkan kedua instrumen hanya berdasarkan besaran imbal hasil.
Baca Juga: SRBI Masih Diminati Bank, Potensi Tekanan Intermediasi Jadi Sorotan
"Dividend yield bukan merupakan return yang pasti seperti bunga deposito. Karena dividen bergantung pada kinerja perusahaan dan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), sementara harga saham juga berfluktuasi sehingga total return dapat berubah sewaktu-waktu," ujar Nafan kepada Kontan.co.id, Senin (13/7/2026).
Nafan menilai saham dividen lebih sesuai bagi investor yang memiliki horizon investasi menengah hingga panjang serta toleransi risiko yang memadai. Sebaliknya, deposito tetap menjadi pilihan bagi investor yang mengutamakan kepastian imbal hasil, keamanan pokok dana, dan likuiditas.
Ia menambahkan, potensi perpindahan dana dari deposito ke pasar modal memang ada, terutama dari investor dengan profil risiko agresif yang mengejar imbal hasil lebih tinggi. Namun, dampaknya terhadap pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan diperkirakan masih terbatas karena basis deposan bank sangat beragam.
"Secara keseluruhan, kondisi saat ini lebih mencerminkan rebalancing portofolio daripada perpindahan dana secara besar-besaran dari deposito ke pasar saham. Deposito dan saham dividen tetap memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam strategi diversifikasi investasi," ujarnya.
Senada, Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan saham dividen masih terlihat lebih menarik dibandingkan deposito, terutama emiten yang memiliki laba kuat, arus kas stabil, dan kebijakan pembagian dividen yang konsisten, termasuk sejumlah bank besar.
Baca Juga: Simpanan Mulai Berkurang, Bank Kecil Mulai Atur Strategi Penghimpunan DPK
Ia menjelaskan, berdasarkan data Bank Indonesia, suku bunga deposito tenor satu bulan pada Mei 2026 sebesar 4,26%. Setelah dikenakan pajak final 20%, imbal hasil bersih deposito berada di kisaran 3,0%–3,4%. Sementara itu, sejumlah saham bank masih menawarkan dividend yield kotor di atas level tersebut sehingga secara tahunan tetap lebih unggul.
Meski demikian, Josua mengingatkan bahwa keunggulan saham dividen harus diimbangi dengan pemahaman terhadap risiko pergerakan harga saham.
"Potensi pergeseran dana dari deposito ke pasar modal memang ada, tetapi saya melihatnya lebih bersifat selektif, bukan perpindahan besar-besaran," ujarnya.
Menurut Josua, tekanan bagi perbankan justru dapat muncul apabila selisih imbal hasil antara deposito dan saham dividen semakin lebar. Dalam kondisi tersebut, bank berpotensi menghadapi kenaikan biaya dana karena harus menawarkan bunga deposito lebih tinggi untuk mempertahankan deposan besar.
Sementara itu, Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengakui masyarakat kini memiliki semakin banyak alternatif penempatan dana, mulai dari obligasi pemerintah, Surat Berharga Negara (SBN), hingga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Meski demikian, menurutnya, mayoritas masyarakat di segmen mass market masih memilih tabungan dan deposito karena nominal penempatannya relatif kecil.
Karena itu, strategi CIMB Niaga tetap difokuskan pada penghimpunan dana murah atau current account saving account (CASA) melalui payroll, rekening operasional, serta layanan cash management.
Baca Juga: Ini Tantangan yang Dihadapi Fintech Lending dalam Mendorong Kinerja hingga Akhir 2026
"Fokus kami tetap di CASA untuk dana yang lebih murah. Pengelolaan likuiditas yang lebih efisien menjadi semakin penting karena NIM akan tetap menantang," kata Lani.
Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank, Ganda Raharja Rusli, juga menilai deposito dan saham tidak dapat dibandingkan secara langsung karena memiliki karakteristik risiko yang berbeda. Menurutnya, deposito menawarkan kepastian pokok simpanan, sedangkan saham menganut prinsip high risk, high return.
Ganda menambahkan, agresivitas bank dalam menawarkan special rate deposito saat ini lebih dipengaruhi oleh persaingan memperebutkan likuiditas, terutama setelah penerbitan SRBI yang menyerap dana dalam jumlah besar dari pasar.
"Allo Bank tetap menyesuaikan kenaikan suku bunga secara selektif agar kenaikan cost of fund tidak membebani nasabah kredit," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














