Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tantangan likuiditas tampaknya sudah mulai melanda bank-bank kecil. Demi menjaga fungsi intermediasi tetap berjalan lancar, bank mau tak mau mesti mengatur ulang strategi penghimpunan dananya.
Per Mei 2026, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat jumlah simpanan Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 1 turun 0,6% dalam sebulan. Penurunannya bahkan mencapai 2% jika dibandingkan enam bulan sebelumnya.
Kondisi serupa juga terlihat pada masing-masing bank. OK Bank misalnya, dengan total dana pihak ketiga (DPK) per Mei 2026 turun 4,41% dalam sebulan menjadi Rp 8,54 triliun. Direktur OK Bank Efdinal Alamsyah mengungkapkan, salah satu faktor yang memengaruhi tren ini adalah kebutuhan likuiditas nasabah.
Namun, di luar itu, ia tak memungkiri persaingan dana juga menjadi salah satu penyebabnya. Dalam menghadapi situasi ini, OK Bank bakal mengatur ulang strategi penghimpunan dana, tetapi tetap dengan mempertimbangkan biaya dana yang perlu dikeluarkan serta kondisi pasar.
Baca Juga: Ini Tantangan yang Dihadapi Fintech Lending dalam Mendorong Kinerja hingga Akhir 2026
“Kenaikan suku bunga deposito untuk menarik dana merupakan salah satu alternatif yang diambil oleh bank,” ujar Efdinal saat dihubungi Kontan, Senin (13/7/2026).
Namun begitu, ia memastikan langkah penyesuaian suku bunga bakal dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan likuiditas dan prospek pertumbuhan kredit, serta profitabilitas bank.
Situasi serupa juga dialami perbankan syariah. Dalam periode yang sama, DPK Bank Mega Syariah turun 12,72% menjadi Rp 9,41 triliun. Namun begitu, Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah mengatakan hasil ini sebenarnya sejalan dengan langkah strategis bank dalam melakukan optimalisasi komposisi pendanaan.
“Saat ini, BMS tengah fokus pada pertumbuhan dana murah (CASA) yang lebih stabil dan berkelanjutan. Oleh karena itu, kami menerapkan strategi pendanaan yang lebih selektif dan efisien,” jelas Hanie.
Lagipula, menurutnya, pergerakan atau fluktuasi DPK merupakan fenomena yang lumrah dan wajar terjadi di industri perbankan. Pergerakannya sangat dipengaruhi oleh siklus bisnis, kebutuhan transaksi rutin nasabah, serta strategi pengelolaan likuiditas masing-masing bank.
Secara keseluruhan, ia mengaku masih optimistis bank mampu menjalani fungsi intermediasinya dengan maksimal.
Dengan kinerja pembiayaan yang tumbuh 6% secara tahunan hingga Juni 2026, Bank Mega Syariah melihat permintaan pembiayaan tetap berjalan baik di tengah kondisi ekonomi yang dinamis. Untuk menunjangnya, bank bakal fokus mengoptimalkan ekosistem grup yang sudah ada untuk menyasar segmen ritel.
Baca Juga: OJK Dalami Masukan Industri Soal Penyesuaian Ketentuan Modal untuk Kegiatan Bullion
Dana murah masih bakal menjadi fokus utama bank. Di luar itu, Hanie mengatakan pihaknya juga terus mengeksplorasi berbagai peluang alternatif pendanaan lainnya yang sejalan dengan rencana bisnis bank dan prinsip syariah.
Bank bjb syariah juga mencatatkan tren serupa. DPK bank turun 2,67% menjadi Rp 11,59 triliun dalam periode ini. Sekretaris Perusahaan bjb syariah Yusuf Abadi mengaku hal itu disebabkan kondisi pasar yang sedang cukup menantang saat ini, salah satunya lantaran kenaikan suku bunga acuan yang cukup signifikan mendorong peningkatan tingkat imbal hasil di industri.
“Persaingan dalam penghimpunan dana menjadi semakin ketat,” tutur Yusuf.
Maka mau tak mau bank bakal mulai menyesuaikan tingkat imbal hasil agar kompetitif di pasar. Namun, tak cuma itu, Yusuf mengatakan pihaknya juga bakal memperkuat penghimpunan dana murah melalui ekosistem berbasis komunitas, seperti masjid, pesantren, institusi pendidikan, dan sektor kesehatan.
Tampil berbeda, Krom Bank justru mencatatkan kenaikan DPK sebesar 3,47% menjadi Rp 11,84 triliun dalam periode yang sama.
Meski begitu, Presiden Direktur Krom Bank Anton Hermawan memandang penurunan secara industri sebenarnya sejalan dengan fokus perbankan dalam mengakuisisi nasabah. Hal itu terlihat dari pertumbuhan jumlah rekening industri yang masih positif.
“Mayoritas rekening baru masih memiliki saldo relatif lebih rendah, sehingga belum mampu mendorong pertumbuhan DPK secara signifikan,” kata Anton.
Baca Juga: OJK Sebut Gelombang PHK Dapat Pengaruhi Pembiayaan Multifinance dan Fintech Lending
Selain itu, ada juga nasabah yang hanya membutuhkan rekening transaksi (transactional account) yang menyebabkan frekuensi transaksi meningkat, tetapi saldo mengendap relatif kecil.
Secara umum, Anton mengatakan dinamika penghimpunan dana saat ini sebenarnya sedang menunjukkan pergeseran dari kompetisi berbasis suku bunga menuju pengelolaan likuiditas dan struktur pendanaan yang lebih optimal.
Pihaknya sendiri bakal terus memperkuat likuiditas dan meningkatkan porsi dana murah dari giro dan tabungan guna menjaga struktur pendanaan yang lebih efisien. Dengan begitu, biaya dana dapat tetap terkendali tanpa harus melakukan penyesuaian suku bunga kredit secara agresif dan tetap dapat memberikan penyaluran kredit yang kompetitif di pasar.
Secara strategi, Krom Bank fokus pada penduduk usia muda di bawah 40 tahun yang sudah melek digital dan kelompok mapan secara finansial, mengingat tingginya penggunaan digital banking di segmen tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














