kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.702   58,64   1,04%
  • KOMPAS100 737   8,81   1,21%
  • LQ45 558   5,02   0,91%
  • ISSI 199   2,06   1,05%
  • IDX30 316   2,20   0,70%
  • IDXHIDIV20 390   0,42   0,11%
  • IDX80 84   0,86   1,04%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,39   0,38%

DSN: Banyak asuransi syariah belum siap spin off


Senin, 12 Juni 2017 / 15:25 WIB


Reporter: Abdul Basith | Editor: Dupla Kartini

JAKARTA. Ekonom syariah sekaligus Wakil Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia  Adiwarman Karim mengatakan, ada jurang pemisah pada proses pengembangan asuransi syariah di Tanah Air.

Menurutnya, jurang pemisah itu ditandai dengan pertumbuhan yang lambat, kemampuan modal rendah, klaim tidak sesuai, tingginya beban dibandingkan pendapatan, dan turunnya premi. “Bila sudah tiga dari lima gejala itu, perusahaan mulai masuk ke chasm (jurang pemisah),” kata Adiwarman pada acara Karim Awards, Senin (12/7).

Untuk mengatasi hal itu, Adiwarman menawarkan dua solusi. Pertama, one agent one group of companies, yaitu bagaimana asuransi syariah yang bisa menggunakan agensi dari grup perusahaannya. Kedua, platform sharing dengan induk.

Lanjut Adiwarman, masalah lain yang dihadapi asuransi syariah adalah aturan spin off atau pemisahan usaha. Berdasarkan penelitian Karim Consulting Indonesia, hanya terdapat tiga perusahaan asuransi yang sudah siap untuk spin off.

“Pengusaha asuransi syariah seharusnya mendorong OJK agar tidak memaksa perusahaan untuk spin off, karena banyak perusahaan belum mampu,” paparnya.

Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) memperkirakan aset syariah akan tumbuh hingga 30% pada tahun ini. Pertumbuhan itu diperkirakan akan berlanjut hingga tahun 2020. Prospek tersebut juga dipengaruhi oleh perkembangan digital.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×