kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.880.000   40.000   1,41%
  • USD/IDR 17.163   -11,00   -0,06%
  • IDX 7.559   -34,73   -0,46%
  • KOMPAS100 1.040   -10,36   -0,99%
  • LQ45 744   -12,17   -1,61%
  • ISSI 273   -1,59   -0,58%
  • IDX30 401   -0,83   -0,21%
  • IDXHIDIV20 487   -2,68   -0,55%
  • IDX80 116   -1,41   -1,20%
  • IDXV30 139   0,63   0,45%
  • IDXQ30 128   -0,94   -0,72%

Ekspansi bank besar-besaran, berbiaya murah meriah


Kamis, 09 April 2015 / 10:05 WIB
ILUSTRASI. Film It dan It Chapter Two serta beberapa judul film horor lainnya yang tercatat memiliki durasi film terpanjang.


Reporter: Herry Prasetyo, Oginawa R Prayogo, Roy Franedya | Editor: Tri Adi

Bagi perbankan, melebarkan sayap bisnis kini tidak harus dengan membuka cabang baru. Ibarat bisnis berbasis kemitraan, bank saat ini bisa berekspansi dengan cara merekrut agen.

Program Layanan Tanpa Kantor dalam rangka Keuangan Inklusif alias Laku Pandai yang diluncurkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberi kesempatan bank untuk merekrut agen sebagai perpanjangan tangan. Empat bank yang sudah memperoleh izin OJK menyelenggarakan Laku Pandai pun langsung bergerak cepat.

Bank Rakyat Indonesia (BRI), contohnya, meluncurkan program Laku Pandai yang diberi nama BRILink di  Jayapura,  Papua, Jumat (27/3). Hari berikutnya, giliran Bank Mandiri meluncurkan program serupa di Gowa, Sulawesi Selatan.

Menyusul kemudian Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) yang meluncurkan Laku Pandai dengan nama BTPN Wow di Deli Serdang, Sumatra Utara, dan Bank Central Asia (BCA) di Grobogan, Jawa Tengah.

Untuk tahun ini saja, BRI menargetkan memiliki 50.000 agen BRILink di seluruh Indonesia. Target ini memang terbilang ambisius. Namun, bukan berarti target bakal tak tercapai. Sebab, Sekretaris Perusahaan BRI Budi Satria mengatakan,  BRI sebetulnya sudah punya 24.713 agen BRILink yang mulai direkrut sejak tahun lalu. Memang, agen tersebut hanya sebatas melayani layanan keuangan digital (LKD), program serupa yang diinisiasi Bank Indonesia (BI). Hingga Februari lalu, agen BRILInk telah melayani transaksi sebanyak 21 juta transaksi dengan volume mencapai Rp 7,8 triliun.

Nah, dengan adanya program Laku Pandai, agen BRILink yang sudah ada sekaligus menjadi agen Laku Pandai. Dengan target agen mencapai 50.000 orang, BRI menargetkan, jumlah transaksi melalui agen BRILink pada tahun ini mencapai 84 juta transaksi dengan volume mencapai Rp 22,4 triliun. Budi mengatakan, kinerja agen BRILInk tahun ini diharapkan semakin meningkat. Apalagi, dengan adanya program Laku Pandai, agen BRILink kini bisa menawarkan layanan baru berupa tabungan bebas biaya administrasi dan layanan pinjaman untuk nasabah mikro.

Sementara, Bank Mandiri tampaknya lebih konservatif merekrut agen Laku Pandai. Rohan Hafas, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, mengatakan, Bank Mandiri masih ingin belajar di layanan baru ini. Karena itu, Bank Mandiri hanya memasang target jumlah agen sebanyak 9.000 orang pada tahun ini. Bank Mandiri juga menargetkan penambahan nasabah baru sebanyak 200.000 rekening pada tahun ini melalui agen Laku Pandai.


Menjaring agen

Rohan menambahkan, Bank Mandiri secara bertahap akan meningkatkan perekrutan agen Laku Pandai. Diharapkan, jumlah agen Laku Pandai Bank Mandiri menjadi 50.000 orang pada tahun ketiga dan menjadi 300.000 agen pada tahun kelima. “Kami belajar dengan skala kecil karena merekrut agen merupakan sesuatu yang baru bagi kami,” kata Rohan.

BCA pun hanya memasang target jumlah agen sebanyak 3.000 orang pada tahun ini. Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja, mengatakan, target BCA tidak banyak. Sebab, BCA bukan cuma sekadar mencari agen semata, karena juga harus memberikan edukasi kepada calon agen terkait produk dan jasa perbankan. Karena itu, perekrutan agen tidak bisa langsung dalam jumlah besar.

Menurut Jahja, setiap agen paling banter bisa menangani 300 nasabah. Ia menargetkan, dalam tiga tahun hingga empat tahun ke depan, BCA bisa menambah nasabah sebanyak 20 juta orang melalui layanan ini.

Sementara, BTPN memasang target cukup ambisius. Direktur Kepatuhan Bank BTPN Anika Faisal mengatakan, BTPN saat ini sudah memiliki 106 agen yang terbentuk saat proyek layanan tanpa kantor yang diselenggarakan bersama BI. Nah, dengan program Laku Pandai, BTPN menargetkan punya agen sebanyak 30.000 orang tahun ini. Selanjutnya, “Tahun depan, kami menargetkan bisa memiliki 50.000 agen,” kata Anika.

Lomba menjaring agen dan nasabah baru melalui layanan tanpa kantor tampaknya bakal berlangsung seru. Maklum, ada potensi dana nganggur sebesar Rp 200 triliun yang belum masuk ke sistem perbankan. Program Laku Pandai jelas potensial untuk menambah pasokan likuiditas bank.

Meski begitu, bank pelaksana program Laku Pandai tampaknya belum memasang target yang pasti terkait penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) dalam program ini. Jahja mengatakan, layanan tanpa kantor tidak akan meningkatkan DPK BCA secara signifikan dalam lima tahun pertama. Meski begitu, Laku Pandai menjadi tonggak edukasi bagi masyarakat untuk mengenal perbankan. “Jika nasabah itu menjadi pengusaha, barulah mereka bisa ditarik menjadi nasabah di kantor cabang,” ujar Jahja.

Budi mengamini, BRI juga belum bisa memasang target penghimpunan DPK dari agen BRILink. Menurut Rohan, bank susah mematok target lantaran layanan bank tanpa kantor merupakan sesuatu yang masih baru. “Statistiknya kalau dicari di mana-mana juga belum ada,” ujar Rohan.

Meski begitu, Rohan optimistis, pertumbuhan penetrasi perbankan akan semakin cepat melalui program Laku Pandai. Sebab, orang lebih mudah mengakses bank.

Di Gowa, Sulawesi Selatan, contohnya, nasabah membutuhkan waktu hingga 40 menit dengan kendaraan bermotor untuk mencapai kantor cabang Bank Mandiri terdekat. Bukan cuma jarak yang jadi masalah. Biaya untuk mencapai kantor cabang juga menjadi alasan orang enggan pergi ke bank. Itu sebabnya, dengan adanya agen Laku Pandai di daerah tersebut, masyarakat lebih mudah untuk memperoleh layanan bank. “Meski jumlah uang sedikit, nasabah tak perlu repot dan mengeluarkan biaya lagi untuk menabung,” ujar Rohan.


Investasi murah

Nafsu perbankan menjaring agen dan nasabah Laku Pandai juga bukan lantaran potensi DPK yang cukup besar. Alasan lainnya, biaya ekspansi bank melalui layanan tanpa kantor jauh lebih murah ketimbang membuka kantor cabang baru.

BCA, contohnya, merogoh kocek Rp 10,6 miliar untuk memulai program Laku Pandai. Dana tersebut untuk menyiapkan server dan perlengkapan teknologi informasi (TI). Nah, nantinya, tiap tahun BCA akan menginvestasikan sejumlah dana untuk mendidik agen dan pelatih.

Meski begitu, dibandingkan dengan membuka kantor cabang baru, investasi itu jauh lebih murah. Jahja bilang, dengan dana Rp 10,6 miliar, BCA bisa menjaring 3.000 agen. “Jika ingin membuka 3.000 kantor baru, investasinya bisa mencapai Rp 3 triliun,” ujar Jahja.

Budi mengamini, ekspansi melalui layanan tanpa kantor lebih murah. Menurut Budi, untuk membuka satu jaringan kantor cabang, dibutuhkan biaya Rp 1 miliar–Rp 2 miliar. Nah, dengan layanan BRILink, BRI cuma perlu mengalokasikan anggaran untuk membeli mesin electronic data capture (EDC) seharga Rp 3 juta per unit. Oleh BRI, mesin EDC dimodifikasi menjadi mini ATM sehingga bisa melayani transaksi seperti di mesin ATM BRI.

Bank Mandiri malah tidak mengeluarkan investasi yang cukup berarti. Sebab, Rohan bilang, layanan Laku Pandai Bank Mandiri menggunakan telepon selular. Karena itu, Mandiri tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun. “Pengembangan TI untuk Laku Pandai sudah menjadi biaya tidak langsung karena platform TI juga digunakan untuk produk digital lainnya,” ujar Rohan.

Biaya operasional layanan Laku Pandai juga jauh lebih murah bahkan ketimbang biaya operasional mesin ATM. Untuk perawatan dan operasional mesin ATM, biayanya mencapai Rp 12 juta per bulan. Sementara, bank tidak perlu mengeluarkan duit untuk ongkos operasional agen. Karena itu, layanan tanpa kantor jelas menguntungkan bagi bank. Bank juga tak perlu pusing menghitung potensi DPK dan penyaluran kredit seperti saat akan membuka jaringan baru.

Nah, dengan biaya yang murah ini, tak heran bank buru-buru menyebarkan jaring ke pelosok negeri.    


Laporan Utama
Tabloid Kontan No. 28, XIX, 25

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×