CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -17.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.529   -129,00   -0,73%
  • IDX 6.678   -8,24   -0,12%
  • KOMPAS100 877   0,02   0,00%
  • LQ45 664   -1,33   -0,20%
  • ISSI 234   0,36   0,15%
  • IDX30 369   -2,14   -0,58%
  • IDXHIDIV20 457   -1,61   -0,35%
  • IDX80 100   -0,15   -0,15%
  • IDXV30 127   -0,14   -0,11%
  • IDXQ30 118   -0,39   -0,33%

Eropa masukan manajemen risiko climate change dalam permodalan bank, ini kata OJK


Selasa, 27 Juli 2021 / 14:56 WIB
ILUSTRASI. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso .


Reporter: Maizal Walfajri, Maizal Walfajri | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Industri perbankan secara global mulai serius dalam menerapkan prinsip keuangan berkelanjutan atau environmental, social dan corporate governance (ESG).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mengembangkan manajemen risiko bagi industri jasa keuangan terkait perubahan iklim. 

“Disamping itu, kita tahu, kita punya pengalaman sebelumnya bahwa manajemen risiko ini akan menjadi pedoman kita bersama. Kita tahu, sudah ada pembahasan yang lebih maju di forum global. Bahwa ini ada inisiatif terutama di negara maju di bawah European Union untuk memasukan ke dalam perhitungkan pilar 1 kebutuhan modal bagi perbankan,” ujarnya secara virtual pada Selasa (27/7). 

Wimboh mengaku di forum global, OJK merespons perhitungan modal bank berkaitan dengan manajemen risiko ini dengan hati-hati. Ia berharap perlu waktu bagi negara berkembang seperti Indonesia untuk menerapkan skema serupa.

Baca Juga: Begini upaya OJK mengembangkan KUR pertanian

Wimboh menilai lebih penting untuk menanamkan pemahaman terkait ESG dan manajemen risiko pada perubahan iklim. 

“Lalu pada suatu saat bisa dimasukan ke dalam perhitungan pilar pertama modal bagi perbankan. Sehingga apa yang kita lakukan bagaimana mempersiapkan ini dengan baik, pemahaman yang sama dan bagaimana kita bisa harus siap kalau ada penerapan standar global ini,” tambah Wimboh.

Lebih lanjut Ia menyatakan, regulator di kawasan Asia Tenggara juga melihat terlalu dini memasukan manajemen risiko perubahan iklim dalam pilar pertama permodalan bank.

Kendati demikian semua regulator di kawasan sepakat untuk menyiapkan industri keuangan bisa suatu saat diterapkan standar global mengenai hal ini.

Selanjutnya: OJK panggil Jusuf Hamka untuk minta klarifikasi pernyataan terkait perbankan syariah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×