Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat hasil investasi industri asuransi jiwa sebesar minus Rp 1,60 triliun pada kuartal I-2026. Capaian tersebut berbalik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang masih mencatat hasil investasi positif sebesar Rp 790 miliar.
Ketua Bidang Kerjasama Antar Lembaga, Regulator, Stakeholder Dalam Negeri dan Internasional AAJI, Handojo G. Kusuma mengatakan, perkembangan hasil investasi industri pada awal tahun dipengaruhi oleh volatilitas pasar keuangan, baik di pasar saham maupun instrumen investasi lainnya.
“Perkembangan ini tentunya sangat dipengaruhi oleh volatilitas pasar keuangan, baik pasar saham maupun instrumen investasi lainnya yang sensitif terhadap dinamika ekonomi global maupun domestik,” ujar Handojo dalam konferensi pers di Grha AAJI, Selasa (2/6/2026).
Baca Juga: BSI Masih Tunggu Arahan Danantara untuk Tingkatkan Saham Free Float
Meski hasil investasi tercatat negatif, fundamental industri asuransi jiwa dinilai masih terjaga. Hal itu tercermin dari total aset industri yang mencapai Rp 652,89 triliun pada kuartal I-2026 atau tumbuh 5,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 616,85 triliun.
Selain itu, total investasi industri asuransi jiwa juga meningkat 5,7% secara tahunan menjadi Rp 571,70 triliun pada kuartal I-2026, dari Rp 540,91 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi portofolio, Surat Berharga Negara (SBN) masih menjadi instrumen investasi terbesar industri dengan nilai mencapai Rp 248,03 triliun atau setara sekitar 43,4% dari total investasi. Nilai investasi pada SBN meningkat 15,8% dibandingkan kuartal I-2025 yang sebesar Rp 214,23 triliun.
Sementara itu, investasi pada saham tercatat sebesar Rp 112,64 triliun atau turun 5,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Porsi saham terhadap total investasi juga menurun dari 22,1% menjadi 19,7%.
Baca Juga: Suku Bunga dan Yield Naik, Multifinance Kian Hati-Hati Terbitkan Surat Utang
Di sisi lain, nilai investasi pada reksadana meningkat 10,2% secara tahunan menjadi Rp 72,45 triliun. Adapun investasi pada sukuk korporasi tumbuh 3,4% menjadi Rp 53,43 triliun.
"Komposisi tersebut menunjukkan bahwa industri tetap menerapkan strategi investasi yang terdiversifikasi dengan porsi yang kuat pada instrumen pendapatan tetap serta relatif stabil," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













