kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

IHSG menguat, hasil investasi asuransi jiwa tumbuh sampai 373,4%


Rabu, 11 September 2019 / 17:06 WIB
IHSG menguat, hasil investasi asuransi jiwa tumbuh sampai 373,4%
ILUSTRASI.

Reporter: Ferrika Sari | Editor: Yoyok

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah memperbaiki kinerja hasil investasi industri asuransi jiwa. Padahal tahun lalu, hasil investasi sempat terpuruk karena pasar bursa memerah.

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat sampai kuartal II 2019, kinerja hasil investasi asuransi jiwa meningkat hingga 373,4% yoy menjadi Rp 22,84 triliun. Realisasi itu naik signifikan dibandingkan kuartal II 2018 lalu yang sempat minus Rp 8,35 triliun.

Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon menjelaskan bahwa perbaikan kinerja hasil investasi berkat penguatan kondisi pasar modal sejalan dengan terangkatnya IHSG pada awal tahun 2019.

“Memang kondisi market 2019 bagus, sehingga bursa jauh lebih positif dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan kondisi ini investasi dan asuransi jiwa menjadi tumbuh lebih signifikan,” kata Budi di Jakarta, Rabu (11/9).

Baca Juga: Mirae Asset membeli 15 hotel di AS milik perusahaan China

Selain itu, peningkatan premi lanjutan juga meningkatkan hasil investasi industri. Sampai kuartal II 2019, total premi lanjutan meningkat 5,8% menjadi 35,68 triliun. Mayoritas dana premi lanjutan dialokasikan ke investasi.

Pertumbuhan hasil investasi dibarengi kenaikan jumlah investasi asuransi jiwa sebanyak 8,6% menjadi Rp 483,97 triliun. Dari jumlah itu, portofolio reksadana masih berkontribusi besar terhadap investasi asuransi jiwa yaitu 34,2% dari total investasi. Menyusul 32,7% saham, 14,8% surat berharga negara (SBN) dan 8,1%.

Menariknya, terjadi pergeseran investasi dari deposito ke reksadana beralih ke saham dan SBN. Menurut Budi, ada sebagian perusahaan asuransi jiwa menggeser investasi ke SBN untuk mendukung portofolio pada produk asuransi tradisional.

“Ada perusahaan yang beralih dari unitlink ke tradisional untuk mendorong fix income, salah satunya SBN. Bisa juga, pemegang investasi dari deposito menginvestasi ke SBN karena melihat yield yang menarik atau waktu tempat untuk membeli surat berharga,” jelasnya.

Baca Juga: Pilih asuransi kendaraan, simak panduan berikut ini

Selain itu, ada beberapa perusahaan juga meningkatkan investasi ke tanah dan pembangunan sehingga instrumen ini tumbuh sampai 47,1%. Tidak banyak pemain, yang investasi pada aset ini karena mempertimbangkan aspek likuiditas dan yield investasi untuk mendukung pemasukan perusahaan.

“Kemungkinan ada 1-2 anggota yang berganti kantor atau memutuskan sewa atau memilih kantor sendiri. Rasanya, investasi di tanah dan bangunan bukan menjadi tren yang perlu dicermati,” katanya.




TERBARU

Close [X]
×